jika proses komunikasi yang dilakukan
berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan di dalamnya.
Meskipun ada hambatan yang muncul, maka komunikator
dan komunikan harus melihat hal itu secara cermat untuk
segera mengatasi persoalan yang menjadi pemicu terjadinya
suatu hambatan. Dengan begitu, maka proses komunikasi
yang dilakukan atau tengah berlangsung akan berjalan sesuai
dengan kehendak dan keinginan yang ingin dicapai.
Hubungan Antara Organisasi dan Komunikasi
Hubungan keniscayaan antara organisasi dan komunikasi
dapat dipahami berdasar pandangan operasional maupun
konseptual. Pandangan operasional terkait dengan prinsip
– prinsip kerja organisasi, termasuk kerja organisasi dalam
pencapaian tujuan organisasi, kewenangan manajemen
dalam memengaruhi perilaku karyawan melalui koordinasi
untuk pengintegrasian dan pengarahan kegiatan – kegiatan
internal organisasi dan penyesuaian kegiatan – kegiatan
eksternal agar adaptif dengan lingkungan demi efektivitas
dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi.
Pandangan konseptual tentang keniscayaan hubungan
antara organisasi dan komunikasi terkait dengan pemikiran
teoritas tentang organisasi: (1) konseptualisasi organisasi;
(2) orientasi organisasi sebagai sistem sosial; (3) organisasi
sebagai pemroses informasi; dan (4) orientasi proses.
Konseptualisasi organisasi. Beberapa konseptualisasi
penting tentang organisasi yang menghasilkan definisi–
definisi yang telah dibahas di atas, menunjukkan bahwa
organisasi secara konseptual terdiri dari sistem, kerja sama,
koordinasi, hierarki, dan tujuan. Artinya, kelima unsur
itu menunjukan bahwa organisasi secara konseptual tidak
terpisahkan dari komunikasi. Pemikiran tentang keniscayaan
hubungan yang tidak terpisahkan ini muncul dari pemahaman
tentang hakikat organisasi dengan pendekatan kesisteman
(systems theory) yang dirintis oleh Chester Barnard di dalam
buku klasiknya, The Functions of the Exacutive. Kita tidak
mungkin memikirkan dan memahami hakikat organisasi
tanpa melibatkan komunikasi secara melekat (inherent). Hal
ini secara tepat telah diungkapkan oleh Barnard (1938: 91)
sebagai berikut: Dalam setiap teori organisasi yang tuntas,
komunikasi pasti akan mendapat kedudukan sentral,
sebab struktur, keluasan jangkauan, dan ruang lingkup
organisasi hampir secara keseluruhan ditentukan oleh teknik
teknik komunikasi. Artinya desain organisasi (organization
design) yang merupakan inti dari teori organisasi sangat
tergantung pada komunikasi. Desain organisasi yaitu
efektif mencapai sasaran organisasi bila struktur organisasi,
keluasan jangkauan organisasi, dan ruang lingkup organisasi
mengikuti cara kerja komunikasi.
Organisasi Sebagai Sistem Sosial
Pemikiran tentang organisasi sebagai sistem sosial
merupakan konsekuensi dari paham kesisteman terbuka (Open
syestems theory) Dengan buku
berjudul The Social Psychology of Organizations, Daniel Katz
dan Robert L. Khan tampil sebagai dua ilmuwan penganjur
paham open system kenamaan dalam ilmu sosial. Mereka
secara tegas menyatakan bahwa peran hakiki komunikasi
yaitu sebagai inti segala sistem sosial, atau organisasi. Katz
dan Kahn (1978: 428) menjelaskan hal ini dengan pernyataan
sebagai berikut :
Komunikasi dalam artian pertukaran informasi dan
penyampaian makna yaitu inti dari sebuah sistem sosial
atau organisasi. Sebagai proses sosial, komunikasi membuat
berfungsinya setiap kelompok, organisasi, atau warga .
Termasuk di dalamnya yaitu bentuk–bentuk interaksi sosial
yang menularkan pengaruh, kerja sama, peniru sosial, dan
kepemimpinan.
Dengan kutipan–kutipan di atas jelas bahwa perspektif
komunikas tidak hanya menunjukkan bahwa secara
konseptual organisasi tidak terpisahkan dari komunikasi,
melainkan juga bahwa organisasi sebenarnya merupakan
hasil dari proses komunikasi dan bahwa kegiatan – kegiatan
organisasi pada hakikatnya yaitu proses komunikasi.
Organisasi sebagai pemroses informasi. Kegiatan
operasional organisasi terpusat pada pembuatan kepitusan.
Konsep ini dikemukakan oleh Herbert A. Simon ( 1950; asli,
1945 ), dalam buku berjudul Administrative Behavior yang
antara lain memuat kesimpulan bahwa “ tanpa komunikasi
mustahil ada organisasi (sebab organisasi yaitu ) “ proses
pembuatan keputusan yang terpusat”. Penjelasan Simon
(1945: 154; 220) tentang hal ini berbunyi sebagai berikut:
Tanpa komunikasi tidak mungkin ada organisasi, sebab
kalau begitu maka tidak ada peluang bagi kelompok untuk
mempengaruhi perilaku seseorang. Tidak saja komunikasi
mutlak bagi adanya organisasi, kesedian beberapa teknik
komunikasi tertentu secara garis besar menetukan bagaimana
fungsi – fungsi pembuatan keputusan dapat berlangsung dan
disebarkan ke seluruh organisasi. Kemungkinan seseorang
anggota organisasi membuat keputasan tertentu sering
tergantung pada apakah informasi, yang memungkinkan
ia membuat keputusan bijaksana, dapat disampaikan
kepadanya dan sebaliknya apakah keputusan yang telah ia
buat dapat disampaikan kepada anggota – anggota organisasi
yang perilakunya memang harus ia pengaruhi.
Fisiologi organisasi harus ditemukan dalam proses–
proses bagaimana organisasi mempegaruhi keputusan–
keputusan dari masing–masing anggotanya menyediakan
premis–premis bagi keputusan–keputusan ini .
Pandangan ini pada dasarnya menunjukan bahwa
organisasi pada hakikatnya yaitu sebuah mesin pemroses
information Artinya,
organisasi juga dapat disebut sebagai sebuah sistem canggih
untuk mengumpulkan, mengevaluasi, menggabungkan, dan
menyebarkan informasi.
Dari perpektif proses, tidak mungkin membayangkan
sebuah organisasi tanpa komunikasi. Konsep mengorgansasi
atau proses organisasi (organizing) hanya dapat terjadi bila
kita mencapai kebersamaan arti (shared meaning) dalam
interaksi sosial pertukaran pesan–pesan melalui pemakaian
lambang.
Proses pencapaian kebersamaan arti melalui pertukaran
pesan yaitu hakikat dari proses komunikasi (communicating).
Maka istilah communicating pada hakikatnya juga berarti
sebuah proses mengorganisasi (The process of organizing),
seperti yang dinyatakan oleh Bonnie McDaniel Johnson
(1977) dalam buku berjudul Communicating : The Process of
Organizing.
Pengertian communicating sebagai process of organizing ini
mendapat peneguhan dari banyak ilmuwan yang berharap
interpretif, sebab konsep komunikasi sebagai proses pada
hakikatnya memang sebuah proses mengorganisasi yang
menunjukkan dinamika upaya pencapaian kebersamaan
pengertian dalam hubungan manusiawi. David K. Berlo (1960)
menjelaskan hal ini secara sistematik dan jelas dalam buku
The Process of Communication. Dalam proses komunikasi
kita membangun arti (construct expectation) tentang apa yang
terjadi di sekitar kita dan di antara orang–orang melalui
pertukaran lambang–lambang (Myers dan Myers,1982:8–9 ).
Organization yang di dalam bahasa inggris yaitu kata
benda yang berarti the result of organizing atau hasil upaya
mengorganisasi. Dalam realitas, organsiasi bukan sebuah
benda mati, melainkan merupakan konfigurasi dinamis dari
kegiatan–kegiatan segenap anggotanya. Hal ini kemudian
dipertegas oleh Richard V. Farace, peter R. Monge, dan
Hamish M. Russell (1977) dalam buku mereka yang berjudul
Communicating and Organizing. Menurut Farace, Monge, dan
Russell ( 1977: 19 ) persoalan–persoalan yang muncul yaitu
dengan organizing dalam artian proses (communicating) dan
bahkan dalam organizing. Hal ini dijelaskan dalam pernyataan
berikut: Organizing dipakai untuk menunjukkan perilaku–
perilaku anggota organisasi yang pada dasarnya berbentuk
proses, berurutan, dan berbeda waktu. sedang organisasi
yaitu istilah statis yang biasanya dipakai untuk
menunjukan sebuah sistem dalam saat tertentu. Organizing
memfokuskan perhatian pada proses–proses fungsi dan
struktur di dalam organisasi, ketidakpastian yang dihadapi
perusahaan dalam kehidupan sehari – hari, dan pengertian
mendasar bahwa organisasi tidak terpatok mati dan bukan
kesatuan yang beku.
Dari semua konsep dan orientasi yang telah dibahas
dia atas nampak jelas bahwa secara kenseptual maupun
operasional organisasi memang tidak terpisahkan dari
komunikasi. Organisasi, yang pada dasarnya yaitu sistem
kerja sama demi pencapaian tujuan bersama, menemukan
dan memanifestasikan dirinya sebagai proses komunikasi.
Komunikasi yang merupakan penemuan dan manifestasi
dari organisasi secara teknis disebut organizational
communication yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan
menjadi komunikasi keorganisasian. Namun demi
kepraktisan, kita menyingkat istilah teknis ini menjadi
komunikasi organisasi. Pengertian, cakupan, dan prinsip
kerja dan ciri – ciri komunikasi organisasi dibahas dalam
bab berikutnya.
Kesimpulannya untuk memahami organisasi secara
konseptual maupun secara operasional dibutuhkan
pemahaman tentang komunikasi. Secara operasional kita
semua yang de facto menjadi anggota banyak organisasi di
tengah warga organisasi ini perlu mengembangkan
keterampilan yang mencukupi agar dapat memperoleh
manfaat yang kita butuhkan dari setiap organisasi itu.
Hubungan antara organisasi dengan komunikasi secara
operasional terlihat jelas sebagai manifestasi pemahaman
manajerial terhadap praktik kerja kesisteman (systems
perspective): (1) Mekanisme kerja organisasi–organisasi
sebagai sebuah sistem; (2) proses pembentukan organisasi;
(3) pemeliharaan dan perkembangan organisasi; (4) Tekanan
persaingan dan globalisasi.
Sebagai sebuah sistem, organisasi menyerap masukan
(input) dari lingkungan, melaksanakan proses transformasi
atas masukan ini menjadi produk dan layanan, yang
kemudian disampaikan sebagai hasil kerja (output) kepada
lingkungan. Singkat kata, organisasi melakukan komunikasi
timbal balik dengan lingkungan melalui proses penyerapan
masukan dan penyampaian hasil kerja dan komunikasi
fungsional antar bagian organisasi dalam proses produksi.
Organisasi dibentuk dan dapat lestari hidup sebab
komunikasi efektif. Sebagaimana telah kita pelajari dari
penjelasan Barnard di atas, organisasi terbentuk sebagai
hasil kesepakatan untuk bekerja sama demi pencapaian
tujuan bersama antara orang–orang yang dapat saling
berkomunikasi secara efektif. Secara tepatnya pembentukan
dan pelestarian hiudp organisasi itu oleh Barnard (1938:
82) dijelaskan sebagai berikut : Sebuah organisasi lahir
bila (1) ada orang–orang yang dapat berkomunikasi satu
sama lain, (2) bersedia menyumbangkan tindakan (3) untuk
mencapai tujuan bersama. Oleh sebab itu, unsur–unsur
organisasi yaitu (1) komunikasi, (2) pengabdian ( kerelaan
menyumbangkan tindakan, A,H.), dan (3) tujuan bersama.
Unsur–unsur ini merupakan persyaratan yang perlu dan
mencakupi (sufficient) pada tahap awal dan tetap ada
dalam semua organisasi.
Kesepakatan bekerja sama kesediaan untuk saling
menyumbangkan daya atau tindakan dan kesepakatan
tentang tujuan yang hendak dicapai berubah–ubah secara
dinamis dan terpeliharaan melalui komunikasi motivasi yang
minimal dapat memengaruhi equlibrium antara pengorbanan
dan perolehan kerja secara mikro pada tataran individu
maupun secara makro.
Lagi pula, organisasi yaitu sistem sosial harus bekerja
dinamis sebab hidup di tengan lingkungan yang terus
berubah, sehingga komunikasi integratif internal organisasi
maupun komunikasi adaptif eksternal dengan lingkungan
juga harus berlangsung dinamis agar pencapaian tujuan
organiasasi (goal attainment) dan pertumbuhan organisasi
(organizational growth) dapat terlaksan secara efektif. Untuk
menjamin dinamika komunikasi dibutuhkan sebuah sistem
komunikasi yang dinamis dan tanggung jawab untuk
mengembangkan dan memelihara sistem komunikasi
yang efektif ini merupakan fungsi utama dari
eksekutif organisasi. Singkat kata, proses pembentukan
dan kelangsungan hidup organisasi tergantung pada
keputusan yang mampu mengintegrasikan unsur–unsur
internal organisasi dan keputusan untuk beradaptasi dengan
kekuatan–kekuatan eksternal organisasi yang relevan. Kedua
jenis keputusan ini merupakan hasil komunikasi yang efektif.
Perkembangan organisasi menuntut gaya komunikasi
efektif berbeeda–beda sesuai dengan tahap–tahap
perkembangan organisasi. Menurut ‘Model pertumbuhan
dan perubahan’ yang dikembangkan oleh larry E. Greiner
(1972: 37 – 46 ) dalam artikel berjudul “Evolution and Revolution
as Organizations Grow” tahap–tahap pertumbuhan organisasi
memerlukan jenis komunikasi yang berbeda–beda dan
ditandai oleh krisis yang memerlukan sistem komunikasi
baru sebagai solusinya. Pada saat awal pertumbuhan,
komunikasi berlangsung sebagai interaksi sosial antara
pribadi yang bersifat informal. Berbagai persoalan yang
muncul diatasi dengan pertukaran ide bebas. Namun dalam
perkembangannya praktik ‘dikusi bebas’ ini memicu
krisis kepemimpinan. Dengan munculnya pemimpin
formal, struktur kewenangan hierarkis dibagun dengan
sistem komunikasi, yang bekerja mengikuti mata rantai
berjenjang, khususnya vertikal dari atas ke bawah, dan
bersifat formal fungsional. Dalam perkembangan selanjutnya,
sistem komunikasi yang hierarkis struktural tidak mampu
mengkomodasi dinamika yang terjadi, sehingga timbul krisis
otonomi. Untuk mengatasinya, sistem komunikasi diubah
menjadi terdesentralisasi dengan keputusan yang menyebar
di kalangan para manajer unit kerja, yang melaksanakan
komunikasi partisipatif. Singkat kata, pembuat keputusan
bekerja dengan komunikasi delegatif dan partisipatif. Dalam
sistem ini, otonomi para manajer berkembang dan akhirnya
membawa akses, sebab mereka lebih mementingkan unit
kerja masing–masing dan krisis kontrol pun muncul. Untuk
mengatasinya, sistem koodinasi terpusat dibangun untuk
mengintegrasikan dan mengarahkan seluruh kegiatan–
kegiatan lintas fungsional sehingga menjadi efektif.
Komunikasi horizontal antara manajer lintas fungsional
menjadi praktik, namun dalam berkembangnya dianggap
terlalu birokratis dan menghambat dinamika kerja organisasi,
sehingga akhirnya memicu krisis ‘ kemacetan birokratis’.
Untuk mengatasi krisis kemacetan birokratis dibagun sistem
komunikasi jaringan, yang memberi kewenangan pada
kelompok kerja yang sekaligus juga menjamin koordinasi
melalui sistem jaringan
Persaingan dan globalisasi. Persaingan dan globalisasi
yakni kini menerpa semua organisasi penting di seluruh
dunia dan memicu dampak yang kompleks terutama
merupakan konsekuensi dari glasnost dan perestroika yang
dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev sebagai pemimpin Uni
Soviet pada pertengahan dekade 1980–an.
Glasnost dan perestroika yang berarti keterbukaan dan
restrukturisasi telah berhasil meruntuhkan idelogi komunis
yang tertutup di Uni Soviet dan Eropa Timur. Namun yang
lebih penting lagi, glasnost dan perestroika juga menciptakan
Age of Transparancy, yakni zaman Keterbukaan yang penuh
dengan ‘revolusi moral baru’ di negara–negara industri
dan pasca industri. Dengan ‘revolusi moral baru’ itu dunia
bisnis harus mampu membuat kebijakan komunikasi dengan
strategi makro dan mikro yang menyeluruh, terpadu,
dan terpusat (coherent and centralized).
Kebijakan komunikasi makro menyangkut komunikasi
organisasi dengan lingkungan, khususnya terkait dengan
persaingan bisnis di satu pihak dan di lain pihak krisis
kepercayaan warga pada segala bentuk institusi dan
pelestarian lingkungan, yang dapat mengancam ekstensi dan
perkembangan organisasi bisnis.
Kebijakan komunikasi mikro terutama menyangkut
komunikasi integrasi internal, khususnya tentang
produktivitas kerja, terkait dengan tuntutan untuk
keterbukaan kebijakan bisnis dan keuangan, pemberdayaan
sumber daya manusia, kesetaraan gender (gender relations),
keadilan dalam sistem pengimbalan, dan faktor manusia
dalam aplikasi teknologi industri. Singkat kata persaingan
dan globalisasi telah menghadapkan organisasi–organisasi
bisnis pada persoalan–persoalan rumit dan penuh ketidak-
pastian, sehingga semua kegiatan komunikasi organisasi
harus direncanakan dan dikembangkan menjadi sebuah
sistem dan kebijakan komunikasi yang inovatif dan adaptif
agar organisasi dapat bertahan hidup dan berkembang.
(Goldhaber, 1993: 14–25; Katz dan Kahn, 1978: 17–34).
Kegagalan kegiatan–kegiatan komunikasi juga berarti
kegagalan semua jerih payah dalam pencapaian tujuan
organisasi.
Masih terkait dengan komunikasi dalam dunia
pendidikan, ada beberapa komponen, terutama Kepala
Sekolah, Guru dan siswa. Guru merupakan orang yang
dianggap mampu mentransfer materi ajar, gagasan, wawasan
lainnya kepada siswa dalam sebuah proses belajar mengajar.
Guru dalam konteks ini tidak boleh anti kritik. Justru
dengan kritik dan saran itu akan menambah wawasan lain
dan timbal balik dalam belajar akan semakin hidup dan
menyenangkan. Jangan sampai guru memiliki sifat otoriter
atas semua kebijakan di sekolah saat mengajar. Jangan
jadikan siswa sebagai objek. Justru sebaliknya, siswa harus
dijadikan subjek dalam sebuah pembelajaran.
Di sinilah pentingnya seorang guru memiliki komunikasi
yang lancar, baik dan mampu menggerakkan siswa untuk
melakukan interaksi. Membuat suasana belajar yang
menyenangkan, nyaman, dan tak tertekan. Guru bukan
hanya sebagai orang yang mengajar, namun lebih dari itu,
yakni sebagai orang tua, rekan, maupun sahabat. sebab
ada siswa yang tidak mau terbuka kepada orang tua, namun
kepada guru bisa terbuka dengan persoalan atau masalah
yang sedang dihadapinya, sehingga rasa kasih sayang dari
seorang guru kepada siswa akan menjadikan motivasi
tersendiri.
Pada hakikatnya tujuan komunikasi itu yaitu bagaimana
bisa dan mampu merubah suatu sikap (attitude), pendapat
(opinion), perilaku (behavior), ataupun perubahan secara sosial
(social change). Perubahan sikap seorang komunikan (siswa)
sesudah materi dari guru (komunikator) tergambar bagaimana
sikap siswa itu dalam keseharian baik di sekolah maupun
lingkungannya.
Itulah sedikitnya uraian singkat tentang pentingnya
komunikasi dalam organisasi sekaligus menjadi pengantar
untuk mengembangkan komunikasi dalam organisasi
pendidikan.
TINJAUAN UMUM
KOMUNIKASI ORGANISASI
Pada bab terdahulu telah diuraikan bahwa komunikasi
merupakan suatu proses dalam mengungkapkan ide,
gagasan, sikap, informasi,pendapat atau apapun yang
bertujuan untuk mencapai suatu tujuan, memahami atau
mengkoordinasikan suatu kegiatan.
Dalam kehidupan umat manusia hingga hari ini,
komunikasi dapat disebut sebagai sistem yang mengatur
hubungan interaksi antara individu dengan individu yang
dapat dibagi menjadi 2 kategori, yakni komunikator dan
komunikan yang saling merespon dalam sebuah substansi
persoalan, apakah berupa informasi, permintaan, penawaran,
ataupun yang terkait dengan hubungan antara atasan-
bawahan antara teman dan sahabat dan sebagainya.
Dalam konteks komunikasi dalam sebuah organisasi,
biasanya komunikasi dibagi menjadi 2 bagian, yakni
komunikasi formal yang dilakukan melalui surat-menyurat,
pelaporan, dan pertemuan formal. sedang komunikasi
informal dilakukan melalui interaksi yang tidak berhubungan
dengan struktur atau hirarki organisasi.
Kedua jenis komunikasi dalam substantif ini, yakni baik
formal maupun informal dilakukan dengan komunikasi
verbal ataupun nonverbal yang meliputi percakapan,
tulisan, dan unsur-unsur visual lainnya. berdasar teori
ini, maka dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan
hal yang sangat krusial dalam rangka mencapai suatu tujuan
organisasi.
Tidak hanya itu saja, dalam proses keberlangsungan
suatu organisasi memerlukan suatu komunikasi dua arah
yang disebut pula dengan interaksi dalam organisasi. Artinya,
tanpa adanya komunikasi, maka organisasi apapun tidak
akan pernah mencapai tujuan yang ditetapkan bersama.
Komunikasi organisasi menurut Yosal Iriantara & Usep
Syaripudin (2013: 51) ada beberapa macam, antara
lain ada yang disebut dengan komunikasi vertikal turun
(komunikasi ke bawah), komunikai vertikal naik (komunikasi
ke atas), komunikasi horisontal (komunikasi sejawat) dan
komunikasi daigonal (lintas bidang). Dalam suatu organisasi,
komunikasi vertikal, baik naik maupun turun, terjalin antara
bawahan dengan atasan dan juga sebaliknya, sementara
komunikasi horisontal terjalin atau dilakukan antara orang
yang setara kedudukannya dalam organisasi, antara sesama
pimpinan, sesama bawahan dan sebagainya.
Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris
communication bersal dari bahasa Latin communicatioâ,
bersumber dari communisâ yang berarti sama. Sama disini
memiliki pengertian sama makna. Dengan begitu, komunikasi
paling tidak harus mengandung kesamaan makna antara
kedua belah pihak yang terlibat. Disebut demikian, sebab
kegiatan komunikasi tidak saja menyajikan informasi semata
tapi juga mengandung maksud agar orang lain maupun
pihak lain mengerti dan paham sekaligus bersedia menerima
apa yang yang disampaikan.
Secara etimologis, organisasi berasal dari kata organ,
yakni bagian, rangka, sendi atau elemen-elemen. Sementara
itu, kata “Nisasi” dimaknai sebagai sebuah proses, sistematika,
aturan atau teratur. Dari sini maka dapat diperoleh gambaran
secara singkat bahwa organisasi merupakan suatu susunan,
aturan atau sistematika dari berbagai bagian organ dan
elemen-elemen penting yang menjelma menjadi satu kesatuan
yang teratur, terstruktur dan tersistematika secara baik untuk
mencapai suatu tujuan tertentu.
Para ahli dalam banyak literatur telah memberi batasan
tentang organisasi, diantaranya, Terry; yang menyebut
organisasi sebagai upaya mengalokasikan seluruh
pekerjaan yang harus dilakukan antara kelompok kerja dan
menetapkan wewenang aktif serta tanggung jawab untuk
setiap komponen kerja dan menjadikan lingkungan kerja
yang tepat dan sesuai. Begitu juga dengan Chesteri Bernard;
yang memberi batasan bahwa organisasi merupakan suatu
sistem kegiatan-kegiatan kerjasama yang dikoordinasikan
dengan sadar. Demikian pula dengan James D. Money; yang
menyebutkan organisasi sebagai sebuah perserikatan untuk
mencapai tujuan bersama.
Amir Lahjeni dalam tulisannya di laman pribadinya,
amirlahjeni.wordpress.com/2012/03/30/pengantar-organisasi/
menyebutkan, bahwa organisasi yaitu suatu sistem
perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari
sekelompok orang yang berkerja sama dalam mencapai
tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah
saja.
Dalam tulisannya ini , Amir Lahjeni menguraikan
panjang lebar bahwa organisasi yaitu suatu koordinasi
rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai
beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan
fungsi melalui hirarki otoritas dan tanggung jawab (Arni
Muhammadiyah, 2000:23). Untuk itu organisasi memiliki
karakteristik tertentu yaitu memiliki struktur, tujuan saling
berhubungan satu bagian dengan bagian lain dan bergantung
pada komunikasi manusia untuk mengkoordinasikan
aktivitas dalam organisasi ini .
Suatu organisasi memerlukan koordinasi supaya masing-
masing bagian dari organisasi ini bekerja menurut
semestinya tanpa menganggu bagian lainnya. Tanpa
koordinasi akan sulit organisasi ini berfungsi dengan
baik. Dalam melakukan suatu koordinasi akan memerlukan
alat atau media agar koordinasi ini berjalan dengan
lancar. Komunikasi merupakan alat atau media yang paling
utama dalam melakukan koordinasi dalam suatu organisasi.
Tanpa adanya komunikasi, maka organisasi ini akan
mati.
Organisasi pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 (dua)
bagian besar, yaitu organisasi formal dan organiasi informal.
Menurut Herbert G. Hicks dalam
ciri-ciri dari organisasi formal diantaranya :
- memiliki struktur yang baik yang dapat meng-
gambarkan hubungan-hubungan wewenang kekuasaan,
akuntanbilitas, dan pertangungjawaban. Struktur itu pula
dapat menunjukkan saluran-saluran melalui komunikasi
tata hubungan.
- memiliki spesifikasi jabatan yang jelas bagi setiap
anggota, hirarki dan tujuan organisasi formal dinyatakan
dengan tegas.
- Dalam organisasi formal masalah status, prestise, gaji,
kedudukan atau pangkat dan penghasilan diatur dan
diawasi dengan baik.
- Organisasi formal bertahan lama dan direncanakan,
sebab penempatannya sesuai dengan peraturan. Mereka
relatif tidak fleksibel.
- Keanggotaan diperoleh secara sadar, pada waktu tertentu
dan umumnya terbuka.
Sementara itu, organisasi nonformal, diantaranya
memiliki ciri-ciri :
- Disusun secara bebas, spontan, tidak pasti dan tidak
fleksibel.
- Keanggotaanya diperoleh secara sadar atau secara tidak
sadar.
- Kapan seorang menjadi anggota sulit ditentukan.
- Tidak ada perinciaan secara tegas tentang tujuan
organisasi.
- Biasanya bersifat sementara .
- Tidak memiliki struktur yang dinyatakan dengan
baik.
- Tidak memiliki perincian yana tegas tentang tugas-
tugas dari setiap anggota organisasi.
- Hubungan-hubungan yang terjadi antara para anggota
berlangsung secara pribadi/informal ,
Fungsi Komunikasi
Komunikasi memiliki fungsi–fungsi yang dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1. Fungsi Informasi meliputi, pengumpulan, penyimpanan,
pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta dan
pesan opini dan komentar yang dibutuhkan agar dapat
dimengerti dan beraksi secara jelas terhadap kondisi
lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil
keputusan yang tepat.
2. Fungsi Sosialisasi (pewarga an) yaitu penyediaan
sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang
bersikap dan berpengetahuan yang memungkinkan orang
bersikap dan bertindak sebagai anggota warga yang
efektif sehingga ia sadar akan fungsi sosialnya sehingga
ia dapat aktif di dalam warga .
3. Fungsi Motivasi yakni menjelaskan tujuan setiap
warga jangka pendek maupun jangka panjang,
mendorong orang menentukan pilihannya dan
keinginannya, mendorong kegiatan individu dan
kelompok berdasar tujuan bersama yang akan dikejar.
4. Forum Diskusi yaitu menyediakan dan saling menukar
fakta yang diperlukan untuk memungkinkan persetujuan
atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai
masalah publik, menyediakan bukti-bukti yang relevan
yang diperlukan untuk kepentingan umum agar
warga lebih melibatkan diri dalam masalah yang
menyangkut kepentingan bersama di tingkat nasional
dan lokal.
5. Fungsi Pendidikan yakni pengalihan ilmu pengetahuan
sehingga mendorong perkembangan intelektual,
pembentuk watak dan pendidikan ketrampilan dan
kemahiran yang diperlukan pada semua bidang
kehidupan.
6. Memajukan kebudayaan yaitu penyebaran hasil
kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan
warisan masa lalu, perkembangan kebudayaan dengan
memperluas horison seseorang, membangun imajinasi
dan mendorong kreativitas dan kebutuhan estetikanya.
7. Hiburan berupa penyebarluasan sinyal, simbol, suara,
dan image dari drama, tari, kesenian, kesusasteraan,
musik, olah raga, permainan dan lain-lain untuk rekreasi
kesenangan kelompok individu.
8. Integrasi berupa upaya penyediaan bagi suatu bangsa,
kelompok dan individu untuk mendapatkan kesempatan
memperoleh berbagai pesan yang merka perlukan agar
mereka dapat saling kenal dan mengerti dan menghargai
kondisi, pandangan dan keinginan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari apalagi bagi seseorang
yang menyandang predikat sebagai pemimpin, maka
berinteraksi dengan warga merupakan sebuah rutinitas.
Tujuannya yaitu untuk menyampaikan informasi dan
mencari informasi kepada warga agar apa yang ingin
disampaikan atau diharapkan dapat dimengerti sehingga
komunikasi yang terjalin dapat tercapai.
Pada umumnya komunikasi memiliki beberapa
tujuan antara lain agar apa yang disampaikan kepada
orang lain itu dapat dimengerti. Sebagai komunikator tentu
merupakan suatu keharusan untuk menjelaskan kepada
komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya agar apa
yang disampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh
komunikan (penerima informasi). Selain itu, komunikasi
bertujuan agar ide dan gagasan yang disampaikan dapat
diterima oleh orang lain. Selanjutnya, tujuan komunikasi
lainnya diantaranya yaitu menggerakkan orang lain untuk
melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan.
Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa komunikasi
itu bertujuan untuk mengharapkan pengertian, dukungan
gagasan dan tindakan. Dengan begitu, setiap kali dalam
menjalin komunikasi, maka yang perlu mendapat perhatian
yaitu apa yang menjadi tujuan dalam menjalon komunikasi
ini .
Proses Komunikasi
Dari pengertian komunikasi sebagaimana diuraikan
diatas, tampak adanya sejumlah komponen dan unsur yang
dicakup dan merupakan persyaratan terjadinya komunikasi.
Dalam bahasa komunikasi komponen atau unsur itu yaitu
sebagai berikut:
- Source (sumber)
Sumber yaitu dasar yang dipakai di dalam
penyampaian pesan, yang dipakai dalam rangka
memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa
orang, lembaga, buku, dan sejenisnya. Dalam hal sumber
ini yang perlu kita perhatikan kredibilitas terhadap sumber
(kepercayaan) baru, lama, sementara dan lain sebagainya.
jika kita salah mengambil sumber maka kemungkinan
komunikasi yang kita lancarkan akan berakibat lain dari yang
kita harapkan.
• Komunikator
Komunikator dapat berupa individu yang sedang
berbicara, menulis, kelompok orang, organisasi
komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film
dan sebagainya. Dalam komunikator menyampaikan
pesan kadang-kadang komunikator dapat menjadi
komunikator. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan oleh
seseorang komunikator yaitu sebagai berikut:
- Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikasinya.
- Ketrampilan berkomunikasi.
- memiliki pengetahuan yang luas.
- Sikap.
- Memiliki daya tarik dalam arti ia memiliki
kemampuan untuk melakukan perubahan
sikap/penambahan pengetahuan bagi/pada diri
komunikasi.
- Message (pesan) yaitu keseluruhan daripada apa
yang disamaikan oleh komunikator. Pada seharusnya
memiliki inti pesan (pesan) sebagai pengaruh di
dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah
laku komunikan. Pesan dapat disampaikan secara
panjang lebar, namun yang perlu diperhatikan dan
di arahkan kepada tujuan akhir dari komunikasi.
• Channel (saluran)
Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan
yang dapat diterima melalui panca indera atau
memakai media.
• Communicant (komunikan = penerima pesan)
Komunikan atau penerima pesan dapat digolongkan
dalam 3 jenis yakni persona, kelompok dan massa.
• Effect (hasil)
Effect yaitu hasil aksir dari suatu komunikasi,
yakni sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak
sesuai dengan yang kita inginkan. Jika sikap dan tingkah
laku orang lain sesuai, maka berarti komunikasi berhasil,
demikian pula sebaliknya.
Model Komunikasi
Yang dimaksud dengan model komunikasi yaitu
gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang
memperlihatkan kaitan antara suatu komponen komunikasi
dengan komponen lainya. Penyajian model dalam bagian
ini dimaksudkan untuk mempermudah memahami proses
komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada
dalam suatu komunikasi.
• Model Lasswell
Model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold
Laswell (Forsdale 1981), seorang ahli ilmu politik dari
Yale University. Dia memakai lima pertanyaan
yang perlu ditanyakan dan dijawab dalam melihat proses
komunikasi, yaitu who (siapa), says what (mengatakan
apa), in which medium atau dalam media apa, to whom atau
kepada siapa, dan dengan what effect atau apa efeknya.
Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Lasswell
ini akan kelihatan bahwa yang dimaksud dengan
pertanyaan who ini yaitu menunjuk kepada
siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai
komunikasi.
Pertanyaan kedua yaitu says what atau apa yang
dikatakan. Pertanyaan ini yaitu berhubungan isi
komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam
komunikasi ini .
Pertanyaan ketiga yaitu to whom. Pertanyaan ini
maksudnya menanyakan siapa yang menjadi audience
atau penerima dari komunikasi atau dengan kata lain
kepada siapa komunikator berbicara atau kepada siapa
pesan yang ia ingin disampaikan diberikan.
Pertanyaan yang keempat yaitu through what atau
melalui media apa. Yang dimaksud dengan media yaitu
alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak
mata, sentuhan, radio, televisi, surat,buku dan gambar.
Pertanyaan yang terakhir yaitu what effect
atau efeknya dari komunikasi ini . Misalnya
sebuah sekolah swasta membuat iklan untuk meng-
komunikasikan bahwa mereka akan menerima murid
baru. Sesudah iklan ini disiarkan beberapa hari, sudah
berapa orangkah yang telah mendaftar untuk menjadi
murid. Jumlah orang yang mendaftar ini yaitu
merupakan efek dari komunikasi.
• Model Shannon
Model komunikasi lain yang banyak dipakai
yaitu model komunikasi dari Claude Shannon atau
lebih dikenal dengan model Shannon Wever. Model ini
berbeda dengan model Lasswell mengenai istilah yang
dipakai bagi masing-masing komponen.
• Sumber Informasi (Information Source)
Dalam komunikasi manusia yang menjadi
sumber informasi yaitu otak. Pada otak ini ada
kemungkinan pesan yang tidak terbatas jumlahnya.
Tugas utama dari otak yaitu menghasilkan suatu pesan
dari berjuta-juta pesan yang ada.
• Transmitter
Langkah kedua dari medel Shannon yaitu memilih
transmitter. Pemilihan transmitter ini tergantung
pada jenis komunikasi yang dipakai . Kita dapat
membedakan dua macam komuikasi yaitu komunikasi
tatap muka dan komunikasi memakai mesin.
Pada komunikasi tatap muka yang menjadi
transmitternya yaitu alat-alat pembentukan suara dan
dihubungkan dengan otot-otot serta organ tubuh lainnya
yang terlibat dalam pemakaian bahasa nonverbal.
sedang pada komunikasi yang memakai mesin-
mesin alat-alat komuniaksi yang berfungsi sebagai
transmitter yaitu alat itu sendiri seperti, telpon, radio,
televisi, foto dan film.
• Penyandian (Encoding) Pesan
Penyandian (encoding) pesan diperlukan untuk
mengubah ide dalam otak ke dalam suatu sandi yang
cocok dengan transmitter. Dalam komunikasi tatap
muka signal yang cocok dengan alat-alat suara yaitu
berbicara. Signal yang cocok dengan otot-otot tubuh dan
indera yaitu anggukan kepala, sentuhan dan kontak
mata.
Pada komunikasi yang memakai mesin, dimana
alat-alat yang dipakai sebagai perluasan dari indera,
penyandian pesan juga berasal dar tubuh namun diperluas
melalui jarak jauh dengan transmitter. Misalnya radio
yaitu perluasan dari suara manusia, televisi perluasan
dari mata dan begitu juga dengan alat komuikasi lainnya.
• Penerima dan Decoding
Istilah Shannon mengenai penerima dan decoding
atau penginterpretasian pesan seperti berlawanan
dengan istilah penyandian pesan. Pada komunikasi
tatap muka kemungkinan transmitter menyandikan
pesan dengan memakai alat-alat suara dan otot-
otot tubuh. Penerima dalam hal ini alat-alat tubuh yang
sederhana yang sanggup mengamati signal. Misalnya
telinga menerima dan menguraikan sandi pembicaraan,
mata menerima dan menguraikan sandi gerakan badan
dan kepala, kilatan mata dan signal lainnya yang dapat
dilihat mata.
• Tujuan (Destination)
Komponen terakhir dari Shannon yaitu destination
atau tujuan yang dimaksud oleh si komunikator.
Destination ini yaitu otak manusia yang menerima
pesan yang berisi bermacam-macam hal, ingatan atau
pemikiran mengenai kemungkinan dari arti pesan.
Penerima pesan telah menerima signal mungkin melalui
pendengaran, penglihatan, penciuman dan sebagainya
kemudian signal itu diuraikan dan diinterpretasikan
dalam otak.
• Sumber Gangguan (Noise)
Dalam model komunikasi Shannon ini terlihat adanya
factor sumber gangguan pada waktu memindahkan
signal dari transmitter kepada si penerima. Misalnya
pada waktu anda berbicara dengan teman di jalan
kedengaran suatu mobil lewat anak-anak berteriak yang
semuanya itu mengganggu pembicaraan anda sesaat dan
gangguan itu dinamakan noise .
Untuk menetralkan gangguan ini Shannon
mengemukakan empat cara seperti berikut :
1. Menambahkan kekuatan dari signal
2. Mengarahkan signal dengan tepat
3. memakai signal lain
4. Redudansi
• Model Scraumn
Wilbur Scraumn memberi model proses
komunikasi yang agak berbeda sedikit dengan dua
model sebelumnya. Dia memperlihatkan pentingnya
peranan pengalaman dalam proses komunikasi. Bidang
pengalaman akan menentukan apakah pesan yang
dikirimkan diterima oleh si penerima sesuai dengan apa
yang dimaksudkan oleh si pengirim pesan.Schraumn
mengatakan jika tidak ada kesamaan dalam bidang
pengalaman, bahasa yang sama, latar belakang yang
sama, kebudayaan yang sama, maka sedikit kemungkinan
pesan yang diterima diinterpretasikan dengan benar.
Model ini sama dengan model-model sebelumnya
yaitu memperlihatkan proses komunikasi yang satu arah
dan tidak dua arah. Oleh sebab Schraumn menyadari
pentingnya balikan dalam komunikasi, akhirnya
menyempurnakan model ini menjadi model dua arah.
• Model Berlo
Model yang dikembangkan oleh David Berlo pada
tahun 1960 hanya memperlihatkan proses komunikasi
satu arah dn hanya terdiri dari empat komponen yaitu
sumber, pesan, saluran dan penerima atau receiver.
tetapi pada masing-masing komponen ini
ada sejumlah faktor kontrol. Faktor keterampilan, sikap,
pengetahuan, kebudayaan, dan sistem sosial dari sumber
atau orang yang mengirim pesan merupakan faktor
penting dalam menentukkan isi pesan, perlakuan, atau
treatment dan penyandian pesan.
Model komunikasi Berlo disamping menekankan
komunikasi sebagai suatu proses, juga menekankan ide
bahwa arti pesan yang dikirimkan pada orang yang
menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri.
Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa interpretasi
pesan terutama tergantung kepada arti dari kata atau
pesan yang ditafsirkan oleh si pengirim atau si penerima
pesan dan bukan pada apa yang ada dalam komponen
pesan itu sendiri.
• Model Seiler
William J. Seiler (1988) memberi model
komunikasi dua arah dan bersifat lebih universal.
Menurut Seiler source atau pengirim pesan memiliki
empat peranan yaitu menentukan arti apa yang akan
dikomunikasikan, menyandikan arti kedalam suatu
pesan, mengirimkan pesan dan mengamati, dan
bereaksi terhadap respon dari penerima pesan. Model
Seiler ini disamping menekankan pentingnya balikan
juga menekankan pentingnya faktor lingkungan dalam
proses komunikasi yang dapat mempengaruhi hakikat
dan kualitas dari komunikasi. Misalnya yaitu mudah
melakukan pembicaraan secara rutin atau pribadi
pada lingkungan yang menyenangkan dari pada
lingkungan yang hiruk pikuk dan tidak menyenangkan.
Beberapa lingkungan kadang-kadang mempercepat
proses komunikasi dan beberapa lingkungan seakan
menghambat proses komunikasi.
Komponen Dasar Komunikasi
ada empat komponen yang cenderung sama
yaitu: orang yang mengirimkan pesan, pesan yang akan
dikirimkan, saluran atau jalan yang dilalui pesan dari si
pengirim kepada si penerima, dan si penerima pesan. sebab
komunikasi merupakan proses dua arah atau timbal balik
maka komponen balikan perlu ada dalam proses komunikasi.
Dengan demikian, komponen dasar komunikasi ada lima
yaitu; pengirim pesan, pesan, saluran, penerima pesan dan
balikan. Masing-masing komponen ini akan dijelaskan
kembali secara ringkas
- Pengirim pesan
Pengirim pesan yaitu individu atau orang yang
mengirim pesan. Pesan atau informasi yang akan
dikirimkan berasal dari otak si pengirim pesan. Oleh
sebab itu, sebelum pengirim mengirimkan pesan, si
pengirim harus menciptakan dulu pesan yang akan
dikirimkannya. Menciptakan pesan yaitu menentukan
arti apa yang akan dikirimkan kemudian menyandikan/
encode arti ini ke dalam satu pesan. Sesudah itu baru
dikirim melalui saluran.
- Pesan
Pesan yaitu informasi yang akan dikirimkan kepada
si penerima. Pesan ini dapat berupa verbal maupun
non verbal. Pesan secara verbal dapat secara tertulis
seperti surat, buku, majalah, memo, sedang pesan
yang secara lisan dapat berupa, percakapan tatap muka,
percakapan melalui telepon, radio dan sebagainnya.
Pesan yang nonverbal dapat berupa isyarat, gerakan
badan, ekspresi muka, dan nada suara.
- Saluran
Saluran yaitu jalan yang dilalui pesan dari si
pengirim dengan si penerima. Channel yang biasa dalam
komunikasi yaitu gelombang cahaya dan suara yang
dapat kita lihat dan dengar. tetapi alat dengan
apa cahaya atau suara itu berpindah mungkin berbeda-
beda. Misalnya bila dua orang berbicara tatap muka
gelombang suara dan cahaya di udara berfungsi sebagai
saluran. namun jika pembicaraan itu melalui surat yang
dikirimkan, maka gelombang cahaya sebagai salura yang
memungkinkan kita dapat melihat huruf pada surat
ini . Kertas dan tulisan itu sendiri yaitu sebagai alat
untuk menyampaikan pesan. Kita dapat memakai
bermacam-macam alat untuk menyampaikan pesan
seperti buku, radio, film, televisi, surat kabar namun
saluran pokoknya yaitu gelombang suara dan cahay.
Di samping itu kita juga dapat menerima pesan melalui
alat indera penciuman, alat pengucap dan peraba.
- Penerima pesan
Penerima pesan yaitu yang menganalisis dan
menginterpretasikan isi pesan yang diterimanya.
- Balikan
Balikan yaitu respons terhadap pesan yang
diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan.
Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim,
pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang
dikirimkan ini diinterpretasikan sama dengan apa
yang dimaksudkan oleh si pengirim. Bila arti pesan yang
dimaksudkan oleh si pengirim diinterpretasikan sama
oleh si penerima berarti komunikasi ini efektif.
Prinsip Komunikasi
Untuk dapat memahami hakikat suatu komuniaksi perlu
diketahui prinsip dari komunikasi ini . Menurut Seiler
(1988), ada empat prinsip dasar dari komunikasi yaitu suatu
proses, suatu sistemik, interaksi dan transaksi, dimaksudkan
atau tidak dimaksudkan. Masing-masing dari prinsip ini
akan dijelaskan berikut ini.
- Komunikasi yaitu suatu proses
Komunikasi yaitu suatu proses sebab merupakan
suatu kegiatan yang terus menerus, yang tidak
memiliki permulaan atau akhir dan selalu berubah-
ubah. Komunikasi juga bukanlah suatu barang yang
ditangkap dengan tangan untuk diteliti. Komunikasi
menurut Seiler (1988) lebih merupakan cuaca yang terjadi
dari bermacam-macam variabel yang kompleks dan terus
berubah.
Komunikasi juga melibatkan suatu variasi saling
berhubungan yang kompleks yang tidak pernah ada
duplikat dalam cara yang persis sama yaitu : saling
hubungan diantara orang, lingkungan, keterampilan,
sikap, status, pengalaman, dan perasaan, semuanya
menentukan komunikasi yang terjadi pada suatu waktu
tertentu. Misalnya cobalah anda ingat hubungan yang
baru terjadi dengan seseorang akhir-akhir ini. Bagaimana
terjadinya hubungan itu? Apakah secara kebetulan atau
sengaja dipertemukan oleh teman atau anda sendiri yang
merencanakannya. Tidak ada hubungan yang terjadi
dalam cara yang persisi sama atau tidak ada komunikasi
yang terjadi pengantara terjadinya hubungan itu yang
persis sama.
- Komunikasi yaitu sistem
Komunikasi terdiri dari beberapa komponen dan
masing-masing komponen ini memiliki tugasnya
masing-masing. Tugas dari masing-masing komponen itu
berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan suatu
komunikasi. Misalnya pengirim memiliki peranan
untuk menentukan apa informasi atau apa arti yang akan
dikomunikasikan. sesudah tau apa arti atau informasi
yang akan dikirimkan, informasi ini perlu diubah
ke dalam kode atau sandi-sandi tertentu sesuai dengan
aturannya sehingga berupa suatu pesan. jadi komponen
pesan ada kaitanya dengan komponen pengirim. Bila
pengirim pengirim tidak benar menyandikan arti yang
akan dikirim, maka terjadilah pesan itu kurang tepat.
Kaitan komponen pesan dengan saluran misalnya,
bila pesan disampaikan dengan lisan maka gelombang
suara yaitu sebagai saluran dan ini juga akan berkaitan
dengan si penerima dalam mengikuti pesan yang harus
memakai pendengarannya dalam menrima pesan
ini . Begitulah, antara satu komponen dengan
komponen yang lain saling berkaitan dan bila ada
gangguan pada satu komponen akan berpada proses
komunikasi secara keseluruhan.
- Komunikasi bersifat interaksi dan transaksi
Yang dimaksud dengan istilah interaksi yaitu saling
bertukar komunikasi misalnya ada orang yang berbicara
kepada temannya tentang sesuatu, kemudian temannya
yang medengar dan memberi komentar terhadap yang
sedang dibicarakan itu begitu selanjutnya berlangsung
secara teratur ibarat orang yang bermain melempar bola.
Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi yang kita
lakukan tidak seteratur itu prosesnya banyak dalam
percakapan tatap muka kita terlibat dalam proses
pengiriman pesan secara simultan tidak terpisah seperti
contoh di atas. Dalam keadaan demikian komunikasi
ini bersifat transaksi. Sambil menyandikan pesan
kita juga menginterpretasikan pesan yang kita terima
seperti dalam situasi pengajaran di kelas antara guru dan
murid. Jadi komunikasi yang terjadi diantara manusia
dapat berupa interaksi dan transaksi.
- Komunikasi dapat terjadi disengaja maupun tidak
disengaja
Komunikasi yang disengaja terjadi jika pesan
yang memiliki maksud tertentu dikirimkan kepada
penerima yang dimaksudkan, misalnya seorang
pemimpin bermaksud mengadakan rapat dengan
kepala-kepala bagianya, kemudian pemimpin ini
mengirimkan pesan kepada kepala-kepala bagianya,
jika pesan yang tidak disengaja tidak dimaksudkan
untuk orang tertentu untuk menerimanya.
Tinjauan Umum Organisasi
Organisasi merupakan pengaturan dan penyusunan
bagian-bagian tertentu hingga menjadi satu kesatuan,
aturan dan susunan dari berbagai bagian sehingga menjadi
satu kesatuan yang teratur dan gabungan kerja sama untuk
mencapai tujuan tertentu. Ada juga yang berpendapat
bahwa organisasi merupakan sebuah sistem kegiatan kerja
sama yang dilakukan oleh dua orang ataupun lebih untuk
melaksanakan suatu aktivitas yang di dalamnya memerlukan
komunikasi dengan pencapaian tujuan bersama. Barnard
menekankan peranan pada setiap orang anggotanya yang
harus diberikan informasi dan motivasi dan sebagian
sebagian anggota lainnya yang harus membuat keputusan.
Sejak zaman dulu organisasi telah menarik perhatian
para ahli. Namun sebab organisasi termasuk sesuatu yang
sangat kompleks maka ada perbedaan sudut pandang
dan pebedaan penekanan terhadap organiasi itu sendiri.
Dari sudut pandang sosiologis misalnya, Weber melihat
bahwa organisasi merupakan hubungan sosial atau seperti
Durkheim, yaitu bahwa organisasi merupakan sistem sosial.
Sebagai sistem sosial organisasi yaitu entitas di mana orang
dan produksi dikoordinasi. Pengertian ini berbeda
dengan pandangan manajerial atau setidaknya ilmu ekonomi,
terhadap organisasi sebagai alat ekonomi dan merupakan
instrumen rasional dan modernitas. Dalam
ilmu ekonomi hono economicus (mahkhluk ekonomi) yang
rasional akan selalu berusaha memaksimalkan utility
function. Persaingan yaitu konsekwensi logis bila upaya
maksimalisasi fungsi utilitas terkendala oleh sumber daya
yang terbatas. Dalam konteks ini , persaingan justru
baik sebab akan memacu individu untuk menjadi lebih baik
dan secara alamiah mengatur distribusi sumber daya kepada
mereka yang terbaik.
Kemunculan organisasi merupakan hal yang masuk akal
bila dalam proses maksimalisasi utilitas ini , individu
merasa bahwa mereka harus bekerja sama dengan individu
lain sebab pekerjaan yang harus ditanggung dalam rangka
memaksimalkan utilitas ini terlalu berat jika ditangani
sendirian. Ilmuan sosial umumnya menolak pandangan
manajerial yang terlalu menekankan pada aspek rasionalitas
dan teknologi ini . Mereka lebih memilih melihat
organisasi dari aspek sosio kultural manusia yang bekerja
di dalam organisasi.
Dalam konteks sosio kultural, perhatian juga diberikan
pada manusia yang terkena dampak keberadaan organisasi
dalam warga .
Berikut beberapa definisi atau pengertian organisasi
menurut beberapa para ahli, diantaranya :
Organisasi yaitu susunan dan aturan dari berbagai-
bagai bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan
yang teratur. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa
Indonesia). Organisasi juga dipandang sebagai sebuah sistem
sosial yang memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar
anggota yang terperinci, program kegiatan yang jelas, dan
prosedur pergantian anggota.
Menurut Stoner, organisasi yaitu suatu pola hubungan-
hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah
pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.
Menurut James D. Mooney, organisasi yaitu bentuk
setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan suatu
sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang
atau lebih. Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon–alat) yaitu
suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Baik
dalam pemakaian sehari-hari maupun ilmiah, istilah ini
dipakai dengan banyak cara.
Pengertian di bawah ini diperoleh dari artikel yang
berjudul : Pengaruh Kepuasan Kerja dan Stress Dihadapkan
Dengan Konseling dalam Tingkat Produktifitas serta
Prestasi Kerja Suatu Organisasi oleh : Mistiani, S.sos,
Puslitbang Strahan Balitbang Dephan bahwa Organisasi
yaitu bentuk formal dari sekelompok manusia dengan
tujuan individualnya masing-masing (gaji, kepuasan kerja,
dll) yang bekerjasama dalam suatu proses tertentu untuk
mencapai tujuan bersama (tujuan organisasi). Agar tujuan
organisasi dan tujuan individu dapat tercapai secara selaras
dan harmonis maka diperlukan kerjasama dan usaha
yang sungguh-sungguh dari kedua belah pihak (pengurus
34
organisasi dan anggota organisasi) untuk bersama-sama
berusaha saling memenuhi kewajiban masing-masing secara
bertanggung jawab, sehingga pada saat masing-masing
mendapatkan haknya dapat memenuhi rasa keadilan baik
bagi anggota organisasi/pegawai maupun bagi pengurus
organisasi/pejabat yang berwenang.
Organisasi yaitu suatu koordinasi rasional kegiatan
sejumlah orang untuk mencapai tujuan umum melalui
pembagian pekerjaan dan fungsi lewat hirarki otoritas
dan tanggungjawab (Schein). Karakterisitik organisasi
menurut Schein meliputi : memiliki struktur, tujuan, saling
berhubungan satu bagian dengan bagian yang lain untuk
mengkoordinasikan aktivitas di dalamnya.
Organisasi yaitu sistem hubungan yang terstruktur
yang mengkoordinasikan usaha suatu kelompok orang untuk
mencapai tujuan tertentu (Kochler).
Organisasi yaitu suatu bentuk sistem terbuka dari
aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk
mencapai tujuan bersama.
Chester Irving Barnard ( 1886 – 1961 ) dianggap sebagai
tokoh pertama yang berhasil memberi pemahaman
tentang konsep organisasi sebagai sebuah sistem kerja sama.
Dalam buku seminar berjudul The Function of the Executive,
Barnard (1938: 73) menjelaskan, hakikat organisasi melalui
definisi yang berbunyi sebagai berikut: Organisasi formal
diberi definisi sebagai sistem kegiatan–kegiatan atau daya–
daya dari dua orang atau lebih yang dikoordinasi secara
sadar.
Bila dibaca sepintas, definisi pendek di atas terkesan
tidak lengkap sebab tidak menyebutkan secara eksplisit
tujuan dan hierarki yang menunjukkan watak rasional dari
organisasi seperti disebutkan oleh Etzion di atas. Namun bila
disimak secara cermat, definisi pendek ini telah memberi
pengertian lengkap. Pertama, dinyatakan bahwa organisasi
yaitu sebuah sistem. Istilah sistem menunjukkan adanya
kesatuan yang terdiri dari dua buah atau lebih dan
yang memiliki hubungan interdependen atau saling
ketergantungan. Kedua, bagian–bagian dari sistem ini
yaitu kegiatan–kegiatan atau daya–daya dan buku
orang–orang sebagai bagian dari sistem kegiatan–kegiatan
atau daya–daya itu berbeda-beda dan dilakukan oleh dua
orang atau lebih. Artinya, di dalam organisasi setidaknya
ada dua buah kegiatan atau daya yang berbeda,
namun saling berhubungan secara interdependen. Ketiga,
kegiatan–kegiatan atau daya–daya itu dikoordinasi. Istilah
koordinasi berarti komunikasi yang (1) mengintegrasikan
kegiatan–kegiatan yang berbeda menjadi sebuah kerja
sama dan (2) mengarahkan kerja sama ini pada satu
tujuan dan (3) memiliki implikasi hierarki sebab tidak
pengintegrasian dan pengarahan hanya dapat dilakukan
oleh orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dalam
struktur hierarkis. Keempat, ungkapan dengan sadar,
secara harfiah berarti disengaja, memiliki tujuan atau
alasan. Jadi ungkapan dikoordinasi dengan sadar berarti
kegiatan–kegiatan diintegrasikan dan diarahkan pada tujuan
melalui komunikasi. Akhirnya, istilah sistem hakikatnya
juga mengandung pengertian tujuan dan hierarki. Maka
dari definisi yang dikembangkan oleh Barnard di atas dapat
disimpulkan bahwa konsep organisasi mengandung lima
unsur pengertian: (1) sistem, (2) kegiatan, (3) komunikasi
(pengintegrasian dan pengarahan), (4) hierarki, dan (5)
tujuan.
Dalam penjelasannya tentang definisi organisasi
formal ini , Barnard menunjukkan bahwa komunikasi
merupakan unsur sentral dalam organisasi dan secara hakiki
organisasi tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Barnard
36
(1938: 82) menyatakan bahwa organisasi lahir kalau ada
orang–orang yang mampu berkomunikasi satu sama lain,
yang rela menyumbangkan tindakan, demi tujuan bersama.
Maka tiga unsur pokok dan organisasi formal menurut
konsepsi Barnard yaitu (1) komunikasi, (2) pengabdian,
dan (3) tujuan bersama yang di dalam definisi formal di atas
dinyatakan secara implisit. Ketiga unsur itu memiliki
hubungan interdependen. Komunikasi disebut pertama,
sebab memiliki makna sangat penting, yakni untuk (1)
menemtukan dan memilihara kesepakatan tentang tujuan;
(2) menetukan dan memelihara pengabdian, yaitu kerelaan
menyumbangkan daya–daya kerja dan kerja sama; (3)
memberi motivasi, yakni memelihara kerelaan mengabdi
secara dinamis melalui tindakan atau sumbangan daya;
dan (4) mencapai efisiensi, yakni memelihara equilibrium
makro antara pengorbanan dan perolehan organisasi dan
mikro antara pengorbanan individu dan pendapatan sebagai
seorang karyawan. Selain itu, komunikasi juga sangat
penting untuk kelangsungan organisasi informal (informal
organization), yaitu hubungan sosial dalam jaringan–jaringan
komunikasi informal antar karyawan yang tidak terkait
dengan struktur hierarkis dan tugas, namun memiliki
pengaruh pada rasa krasan dan solidaritas sosial antar
karyawan yang juga berdampak pada produktivitas kerja.
Maka, akhirnya Barnard menyimpulkan bahwa hakikat
organisasi hanya mungkin dipahamai dalam keterkaitan
yang tidak terpisahkan dengan komunikasi. Kenyataan ini
dijelaskan Barnard ( 1938: 91 ) sebagai berikut:
Dalam sebuah teori organisasi yang tuntas, komunikasi
tentu menduduki tempat sentral, sebab struktur, keluasan
jangkaun, dan ruangan lingkup organisasi hampir
sepenuhnya ditentukan oleh teknik–teknik komunikasi lagi
pula, banyak spesialisasi dalam organisasi berasal dan pada
dasarnya terpelihara disebabkan oleh tuntutan – tuntutan
komunikasi.
Berkat jasanya menunjuan peran sentral komunikasi
dalam organisasi itu, barnard mendapatkan julukan
sebagai pionir pemahaman organisasi dengan pendekatan
komunikasi. Barnard mampu memberi pemahaman
bahwa komunikasi pada dasarnya yaitu sumber penyebab
dari semua kegiatan lain yang terjadi didalam organisasi. (
Hall, 1977: 267 ). Komuniaksi yaitu sumber pemahaman
tentang organisasi. Selain itu, berkat definisnya yang singkat
dan padat itu, Barnard juga mendapatkan sebutan sebagai the
father of the social system approach to organization and management
Artinya, Barnard melihat bahwa dari pendekatan
kesisteman sosial pada bidang studi organisasi dan
manajemen. Maka tidak mengherankan kalau definisi pendek
yang dirumuskan oleh Barnard di atas menurut kesaksian
Kenneth R. Andrews ( 1968: 1 ) menjadi definisi yang paling
tersohor dan paling banyak dikutip oleh ilmuwan di dunia.
Semuanya ini menarik dicatat, mengingat Barnard bukan
seorang akademisi, dosen, atau peneliti, melainkan President
The New Jersey bell Telephone company (1927 – 1948) dan
pimpinan operasional United Services Organization (USO)
sebuah organisasi layanan sosial selama Perang Dunia II,
yang berhasil menuangkan pemikiran reflektif tentang
pengalaman empires sebagai pimpinan organisasi bisnis
maupun layanan nirlaba. Singkat kata, Barnard berhasil
membangun pemahaman bahwa organisasi bisnis bukan
hanya urusan ekonomi melainkan sebuah sistem kerja sama
yang bersumber pada komunikasi.
Herbert A. Simon (1916–2001) yaitu ilmuwan pada
Carnegie Institute of Technologi (sekarang Carnegie – Mellon
University) di Pittsburgh (Pennsylvania) yang mampu
38
memperteguh peran sentral komunikasi, baik komunikasi
formal maupun komunikasi informal, dalam pemahaman
organisasi sebagai sebuah sistem sosil. Dalam buku klasik
berjudul Administrative Behavior, Simon ( 1950 ) menyatakan
bahwa pada hakikatnya organisasi yaitu pola komunikasi
daan hubungan kompleks antar manusia. Secara tepatnya
definisi simon (1950: xvi) berbunyi sebagai berikut: Organisasi
yaitu pola komunikasi dan hubungan–hubungan lain yang
kompleks dalam suatu kelompok manusia. Dijelaskan bahwa
pola komunikasi ini memberi kepada anggota–anggota
kelompok banyak informasi, serta beberapa asumsi, sasaran,
dan sikap yang masuk ke dalam putusan. Sebagai sebuah
sistem, organisasi yaitu pembuat keputusan terpusat yang
berkerja melalui komunikasi.
Secara harfiah, Simon (1950: 154) menyatakan bagaimana
proses keputusan berlangsung dan bagaimana keputusan
dapat mempengaruhi perilaku anggota–anggota organisasi
sepenuhnya tergantung pada komunikasi.”Dengan
demikian, komunikasi yaitu sumber dari seluruh perilaku
administratif”.
Keputusan menurut Simon tidak dibuat berdasar
model economic man melainkan administrative man, yakni
orang yang membuat keputusan berdasar bounded
rationality. Artinya, untuk membuat keputusan, pimpinan
tidak mengumpulkan semua informasi sampai lengkap,
melainkan dengan limited information–processing capacity.
Administrative man membuat keputusan secara rasional,
namun keputusan itu dibuat berdasar persepsi–persepsi
selektif. Proses keputusan administrative man yaitu proses
satisficing yang dibuat berdasar informasi terbatas. (Berkat
model administrative man ini, Herbert Simon terpilih sebagai
pemenang Hadiah Nobel 1978 untuk bidang Ilmu Ekonomi).
Ungkapan pola komunikasi berarti jaringan komunikasi
yang relatif mapan di antara orang–orang berbeda peran.
Pola komunikasi ini menjadi rumit sebab juga terkait
dengan pola–pola hubungan lain, khususnya hubungan
kekuasaan. Dari definisi yang berwatak sangat komunikasi di
atas, Simon menyimpulkan bahwa eksistensi organisasi secara
mutlak ditentukan oleh komunikasi: without communication
there can be no organization. Artinya tanpa
komunikasi mustahil ada organisasi.
William G. Scott, salah seorang penulis buku teori
organisasi kenamaan sesudah Simon, akhirnya mengukuhkan
pandangan bahwa cara memahami organisasi paling tepat
yaitu melalui pendekatan kesiteman. Dalam artikelnya
yang berjudul “ Organization Theory: An Overview and
Appraisal,” Scott (1961: 18) menyatakan bahwa the only
meaningful way to study organization ia as a system. Artinya,
satu–satunya cara benar untuk mempelajari organisasi yaitu
sebagai sebuah sistem.’ Dengan pandangan itu, Scott (1962:
62) dalam buku teori yang berjudul Organization theory
mengembangkan definisi yang berbunyi sebagai berikut:
Organisasi formal yaitu sebuah sistem kegiatan–kegiatan
terkoordinasi dari kelompok orang yang berkerja sama ke
sarah suatu tujuan bersama di bawah sebuah kewenangan
dan kepemimpinan.
Dengan definisi di atas, dapat dikatakan Scott berusaha
secara eksplisit melengkapi definisi Barnard yang tersohor
pendek itu. Pertama–tama, Scott tetap mempertahankan
konsep Benard bahwa organisasi yaitu sistem kegiatan–
kegiatan, namun ia mengganti ungkapan dari dua orang
atau lebih dengan sekelompok orang yang diartikan sebagai
lebih dari dua orang. Kemudian Scott mencoba menjabarkan
pengertian yang implisit dikoordinasi dengan sadar (Barnard)
menjadi’ (kegiatan– kegiatan) terkoodinasi ke arah tujuan
bersama di bawah kewenangan dan kepemimpinan’. Tujuan
bersama merupakan penjabaran dari ungkapan dengan sadar
(Barnard). Secara konseptual kewenagan dan kepemimpinan
yaitu penjabaran dari implikasi makna hierarki dan
pengarahan yang implisit dalam kata dikoordinasi (Barnard).
Secara konseptual kewenangan berarti kekuasaan untuk
membuat keputusan yang membimbing dan mengarahkan
tindakan – tindakan orang lain . Kewenangan
yaitu kekuasaan yang melekat pada kedudukan hierarkis.
Kepemimpinan dipakai untuk menonjolkan tanggung
jawab untuk pengarahan dan koordinasi karyawan demi
pencapaian tujuan organisasi.
Akhirnya, Scott memakai istilah organisasi formal
yang juga dipakai oleh Barnard dalam penjelasan definisi,
sebagai lawan istilah informal organization yang berarti
interaksi sosial antara karyawan yang tidak terkait dengan
tugas maupun kedudukan hierarkis.
Gerald M. Goldhaber ( 1993; aseli 1974 ) menegaskan
bahwa konsep organisasi sebagai sebuah sistem memiliki
implikasi bahwa organisasi bekerja sebagai sistem terbuka.
Lebih tepatnya, organisasi yaitu sistem sosial yang dinamis,
Goldhaber memakai istilah itu dalam buku teks
berjudul Organizational Communication dengan mengacu
pada buku komprehensif berjudul The Social Psychology
of Organization karya Daniel Katz dan Robert Kahn (1978;
asli 1966). Dalam buku teks terkenal ini , Goldhaber
(1993; 11) mengajukan definisi yang berbunyi sebagai berikut:
Organisasi yaitu sebuah sistem sosial yang hidup dan
terbuka yang dihubungkan oleh arus informasi antar orang
dan di antara orang–orang yang menduduki berbagai peran
dan posisi yang berbeda–beda.
Dengan menggunkan istilah sistem sosial yang hidup
dan terbuka bukan sistem biologis, Goldhaber hendak
menegaskan bahwa pada dasarnya kita hidup di sebuah
dunia manusia (a world of people) yang dinamis sebagaimana
telah dijelaskan oleh Katz dan Khan ( 1978; 428): Organisasi
yaitu sebuah sistem sosial yang hidup dan terbuka sebab
terbentuk melalui hubungan informasi antara orang–orang
yang memiliki peran– peran yang berbeda–beda. Kegiatan
interaksi dengan arus informasi ini terhenti sebab
hampir semua tindakan kita pada orang lain dan tindakan
mereka terhadap kita yaitu tindakan komunikasi. (Katz
dan Khan, 1978: 428). Lagi pula, sebagai sistem sosial yang
hidup dan terbuka, setiap organisasi harus menyerap dan
memakai informasi untuk menangani ketidakpastian
lingkungan. Dengan demikian, organisasi dapat melestarikan
hubungan timbal balik dengan lingkungan.
Unsur – Unsur Pengertian Organisasi
Dari definisi–definisi yang dikembangkan oleh para
ilmuwan ternama di atas, kita dapat menemukan lima unsur
poko dalam konsep organisasi yang penting untuk dicatat,
yakni sistem, kegiatan–kegiatan berbeda, koordinasi, tujuan
bersama, dan kewenangan dan kepemimpinan. Kelima unsur
asasi dari organisasi itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Organisasi merupakan sebuah sistem (kegiatan–kegiatan
yang dikoodinasikan): Pengertian sistem mununjukkan
bahwa setiap organisasi terdiri dari bagian–bagian
yang memiliki hubungan interdependen hubungan
timbal balik dan saling mempengaruhi dan terintegritas
terpusat. Bagian–bagian organisasi yang dimaksud
yaitu kegiatan–kegiatan atau fungsi–fungsi berbeda–
beda yang dilaksanakan anggota organisasi. Organisasi
(formal) muncul, bila kegiatan–kegiatan berbeda yang
saling berhubungan secara interdependen berlangsung
lama. Sebagai sebuah sistem, organisasi selain memiliki
bagian–bagian atau subsistem–subsistem yang saling
berhubungan secara interdependen dan terpusat, juga
memiliki hubungan interdependen dengan lingkungan
yang menjadi supra sistemnya.
2. Organisasi terdiri dari kegiatan–kegiatan (sekelompok
orang). Organisasi sebagai sebuah sitem terdiri dari
kegiatan–kegiatan berbeda yang saling berhubungan
secara interdependen dan terpusat. Jadi organisasi bukan
kumpulan orang melainkan gabungan kegiatan – kegiatan
orang–orang yang berja sama. Dalam bagan organisasi
(organigram) orang–orang mengisi kotak – kotak posisi
dalam struktur hierarkis, sedang kegiatan – kegiatan
yaitu interaksi dinamis yang menjadi kehidupan nyata
organisasi yang dinamis. Tanpa kegiatan yang saling
berhubungan secara interdependen d


0 Komentar