komunikasi organisasi 1

 



 jika  proses komunikasi yang dilakukan 

berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan  di dalamnya. 


Meskipun ada hambatan yang muncul, maka komunikator 

dan komunikan harus melihat hal itu secara cermat untuk 

segera mengatasi persoalan yang menjadi pemicu terjadinya 

suatu hambatan. Dengan begitu, maka proses komunikasi 

yang dilakukan atau tengah berlangsung akan berjalan sesuai 

dengan kehendak dan keinginan yang ingin dicapai.

Hubungan Antara Organisasi dan Komunikasi

Hubungan keniscayaan antara organisasi dan komunikasi 

dapat dipahami berdasar  pandangan operasional maupun 

konseptual. Pandangan operasional terkait dengan prinsip 

– prinsip kerja organisasi, termasuk kerja organisasi dalam 

pencapaian tujuan organisasi, kewenangan manajemen 

dalam memengaruhi perilaku karyawan melalui koordinasi 

untuk pengintegrasian dan pengarahan kegiatan – kegiatan 

internal organisasi dan penyesuaian kegiatan – kegiatan 

eksternal agar adaptif dengan lingkungan demi efektivitas 

dan efisiensi pencapaian tujuan organisasi.

Pandangan konseptual tentang keniscayaan hubungan 

antara organisasi dan komunikasi terkait dengan pemikiran 

teoritas tentang organisasi: (1) konseptualisasi organisasi; 

(2) orientasi organisasi sebagai sistem sosial; (3) organisasi 

sebagai pemroses informasi; dan (4) orientasi proses.

Konseptualisasi organisasi. Beberapa konseptualisasi 

penting tentang organisasi yang menghasilkan definisi– 

definisi yang telah dibahas di atas, menunjukkan bahwa 

organisasi secara konseptual terdiri dari sistem, kerja sama, 

koordinasi, hierarki, dan tujuan. Artinya, kelima unsur 

itu menunjukan bahwa organisasi secara konseptual tidak 

terpisahkan dari komunikasi. Pemikiran tentang keniscayaan 

hubungan yang tidak terpisahkan ini muncul dari pemahaman 

tentang hakikat organisasi dengan pendekatan kesisteman 

(systems theory) yang dirintis oleh Chester Barnard di dalam 

         

buku klasiknya, The Functions of the Exacutive. Kita tidak 

mungkin memikirkan dan memahami hakikat organisasi 

tanpa melibatkan komunikasi secara melekat (inherent). Hal 

ini secara tepat telah diungkapkan oleh Barnard (1938: 91) 

sebagai berikut: Dalam setiap teori organisasi yang tuntas, 

komunikasi pasti akan mendapat kedudukan sentral, 

sebab  struktur, keluasan jangkauan, dan ruang lingkup 

organisasi hampir secara keseluruhan ditentukan oleh teknik 

teknik komunikasi. Artinya desain organisasi (organization 

design) yang merupakan inti dari teori organisasi sangat 

tergantung pada komunikasi. Desain organisasi yaitu  

efektif mencapai sasaran organisasi bila struktur organisasi, 

keluasan jangkauan organisasi, dan ruang lingkup organisasi 

mengikuti cara kerja komunikasi.

Organisasi Sebagai Sistem Sosial 

Pemikiran tentang organisasi sebagai sistem sosial 

merupakan konsekuensi dari paham kesisteman terbuka (Open 

syestems theory)  Dengan buku 

berjudul The Social Psychology of Organizations, Daniel Katz 

dan Robert L. Khan tampil sebagai dua ilmuwan penganjur 

paham open system kenamaan dalam ilmu sosial. Mereka 

secara tegas menyatakan bahwa peran hakiki komunikasi 

yaitu  sebagai inti segala sistem sosial, atau organisasi. Katz 

dan Kahn (1978: 428) menjelaskan hal ini dengan pernyataan 

sebagai berikut :

Komunikasi dalam artian pertukaran informasi dan 

penyampaian makna yaitu  inti dari sebuah sistem sosial 

atau organisasi. Sebagai proses sosial, komunikasi membuat 

berfungsinya setiap kelompok, organisasi, atau warga . 

Termasuk di dalamnya yaitu  bentuk–bentuk interaksi sosial 

yang menularkan pengaruh, kerja sama, peniru sosial, dan 

kepemimpinan.


Dengan kutipan–kutipan di atas jelas bahwa perspektif 

komunikas tidak hanya menunjukkan bahwa secara 

konseptual organisasi tidak terpisahkan dari komunikasi, 

melainkan juga bahwa organisasi sebenarnya merupakan 

hasil dari proses komunikasi dan bahwa kegiatan – kegiatan 

organisasi pada hakikatnya yaitu  proses komunikasi.

Organisasi sebagai pemroses informasi. Kegiatan 

operasional organisasi terpusat pada pembuatan kepitusan. 

Konsep ini dikemukakan oleh Herbert A. Simon ( 1950; asli, 

1945 ), dalam buku berjudul Administrative Behavior yang 

antara lain memuat kesimpulan bahwa “ tanpa komunikasi 

mustahil ada organisasi (sebab  organisasi yaitu ) “ proses 

pembuatan keputusan yang terpusat”. Penjelasan Simon 

(1945: 154; 220) tentang hal ini berbunyi sebagai berikut:

Tanpa komunikasi tidak mungkin ada organisasi, sebab  

kalau begitu maka tidak ada peluang bagi kelompok untuk 

mempengaruhi perilaku seseorang. Tidak saja komunikasi 

mutlak bagi adanya organisasi, kesedian beberapa teknik 

komunikasi tertentu secara garis besar menetukan bagaimana 

fungsi – fungsi pembuatan keputusan dapat berlangsung dan 

disebarkan ke seluruh organisasi. Kemungkinan seseorang 

anggota organisasi membuat keputasan tertentu sering 

tergantung pada apakah informasi, yang memungkinkan 

ia membuat keputusan bijaksana, dapat disampaikan 

kepadanya dan sebaliknya apakah keputusan yang telah ia 

buat dapat disampaikan kepada anggota – anggota organisasi 

yang perilakunya memang harus ia pengaruhi.

Fisiologi organisasi harus ditemukan dalam proses–

proses bagaimana organisasi mempegaruhi keputusan–

keputusan dari masing–masing anggotanya menyediakan 

premis–premis bagi keputusan–keputusan ini .

Pandangan ini pada dasarnya menunjukan bahwa 

organisasi pada hakikatnya yaitu  sebuah mesin pemroses 

        

information  Artinya, 

organisasi juga dapat disebut sebagai sebuah sistem canggih 

untuk mengumpulkan, mengevaluasi, menggabungkan, dan 

menyebarkan informasi.

Dari perpektif proses, tidak mungkin membayangkan 

sebuah organisasi tanpa komunikasi. Konsep mengorgansasi 

atau proses organisasi (organizing) hanya dapat terjadi bila 

kita mencapai kebersamaan arti (shared meaning) dalam 

interaksi sosial pertukaran pesan–pesan melalui pemakaian  

lambang.

Proses pencapaian kebersamaan arti melalui pertukaran 

pesan yaitu  hakikat dari proses komunikasi (communicating). 

Maka istilah communicating pada hakikatnya juga berarti 

sebuah proses mengorganisasi (The process of organizing), 

seperti yang dinyatakan oleh Bonnie McDaniel Johnson 

(1977) dalam buku berjudul Communicating : The Process of 

Organizing. 

Pengertian communicating sebagai process of organizing ini 

mendapat peneguhan dari banyak ilmuwan yang berharap 

interpretif, sebab  konsep komunikasi sebagai proses pada 

hakikatnya memang sebuah proses mengorganisasi yang 

menunjukkan dinamika upaya pencapaian kebersamaan 

pengertian dalam hubungan manusiawi. David K. Berlo (1960) 

menjelaskan hal ini secara sistematik dan jelas dalam buku 

The Process of Communication. Dalam proses komunikasi 

kita membangun arti (construct expectation) tentang apa yang 

terjadi di sekitar kita dan di antara orang–orang melalui 

pertukaran lambang–lambang (Myers dan Myers,1982:8–9 ). 

Organization yang di dalam bahasa inggris yaitu  kata 

benda yang berarti the result of organizing atau hasil upaya 

mengorganisasi. Dalam realitas, organsiasi bukan sebuah 

benda mati, melainkan merupakan konfigurasi dinamis dari 

kegiatan–kegiatan segenap anggotanya. Hal ini kemudian 

dipertegas oleh Richard V. Farace, peter R. Monge, dan 

Hamish M. Russell (1977) dalam buku mereka yang berjudul 

Communicating and Organizing. Menurut Farace, Monge, dan 

Russell ( 1977: 19 ) persoalan–persoalan yang muncul yaitu  

dengan organizing dalam artian proses (communicating) dan 

bahkan dalam organizing. Hal ini dijelaskan dalam pernyataan 

berikut: Organizing dipakai  untuk menunjukkan perilaku–

perilaku anggota organisasi yang pada dasarnya berbentuk 

proses, berurutan, dan berbeda waktu. sedang  organisasi 

yaitu  istilah statis yang biasanya dipakai  untuk 

menunjukan sebuah sistem dalam saat tertentu. Organizing 

memfokuskan perhatian pada proses–proses fungsi dan 

struktur di dalam organisasi, ketidakpastian yang dihadapi 

perusahaan dalam kehidupan sehari – hari, dan pengertian 

mendasar bahwa organisasi tidak terpatok mati dan bukan 

kesatuan yang beku.

Dari semua konsep dan orientasi yang telah dibahas 

dia atas nampak jelas bahwa secara kenseptual maupun 

operasional organisasi memang tidak terpisahkan dari 

komunikasi. Organisasi, yang pada dasarnya yaitu  sistem 

kerja sama demi pencapaian tujuan bersama, menemukan 

dan memanifestasikan dirinya sebagai proses komunikasi. 

Komunikasi yang merupakan penemuan dan manifestasi 

dari organisasi secara teknis disebut organizational 

communication yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan 

menjadi komunikasi keorganisasian. Namun demi 

kepraktisan, kita menyingkat istilah teknis ini  menjadi 

komunikasi organisasi. Pengertian, cakupan, dan prinsip 

kerja dan ciri – ciri komunikasi organisasi dibahas dalam 

bab berikutnya.

Kesimpulannya untuk memahami organisasi secara 

konseptual maupun secara operasional dibutuhkan 

pemahaman tentang komunikasi. Secara operasional kita 

       

semua yang de facto menjadi anggota banyak organisasi di 

tengah warga  organisasi ini perlu mengembangkan 

keterampilan yang mencukupi agar dapat memperoleh 

manfaat yang kita butuhkan dari setiap organisasi itu.

Hubungan antara organisasi dengan komunikasi secara 

operasional terlihat jelas sebagai manifestasi pemahaman 

manajerial terhadap praktik kerja kesisteman (systems 

perspective): (1) Mekanisme kerja organisasi–organisasi 

sebagai sebuah sistem; (2) proses pembentukan organisasi; 

(3) pemeliharaan dan perkembangan organisasi; (4) Tekanan 

persaingan dan globalisasi.

Sebagai sebuah sistem, organisasi menyerap masukan 

(input) dari lingkungan, melaksanakan proses transformasi 

atas masukan ini  menjadi produk dan layanan, yang 

kemudian disampaikan sebagai hasil kerja (output) kepada 

lingkungan. Singkat kata, organisasi melakukan komunikasi 

timbal balik dengan lingkungan melalui proses penyerapan 

masukan dan penyampaian hasil kerja dan komunikasi 

fungsional antar bagian organisasi dalam proses produksi.

Organisasi dibentuk dan dapat lestari hidup sebab  

komunikasi efektif. Sebagaimana telah kita pelajari dari 

penjelasan Barnard di atas, organisasi terbentuk sebagai 

hasil kesepakatan untuk bekerja sama demi pencapaian 

tujuan bersama antara orang–orang yang dapat saling 

berkomunikasi secara efektif. Secara tepatnya pembentukan 

dan pelestarian hiudp organisasi itu oleh Barnard (1938: 

82) dijelaskan sebagai berikut : Sebuah organisasi lahir 

bila (1) ada orang–orang yang dapat berkomunikasi satu 

sama lain, (2) bersedia menyumbangkan tindakan (3) untuk 

mencapai tujuan bersama. Oleh sebab  itu, unsur–unsur 

organisasi yaitu  (1) komunikasi, (2) pengabdian ( kerelaan 

menyumbangkan tindakan, A,H.), dan (3) tujuan bersama. 

Unsur–unsur ini merupakan persyaratan yang perlu dan 

mencakupi (sufficient) pada tahap awal dan tetap ada  

dalam semua organisasi.

Kesepakatan bekerja sama kesediaan untuk saling 

menyumbangkan daya atau tindakan dan kesepakatan 

tentang tujuan yang hendak dicapai berubah–ubah secara 

dinamis dan terpeliharaan melalui komunikasi motivasi yang 

minimal dapat memengaruhi equlibrium antara pengorbanan 

dan perolehan kerja secara mikro pada tataran individu 

maupun secara makro. 

Lagi pula, organisasi yaitu  sistem sosial harus bekerja 

dinamis sebab  hidup di tengan lingkungan yang terus 

berubah, sehingga komunikasi integratif internal organisasi 

maupun komunikasi adaptif eksternal dengan lingkungan 

juga harus berlangsung dinamis agar pencapaian tujuan 

organiasasi (goal attainment) dan pertumbuhan organisasi 

(organizational growth) dapat terlaksan secara efektif. Untuk 

menjamin dinamika komunikasi dibutuhkan sebuah sistem 

komunikasi yang dinamis dan tanggung jawab untuk 

mengembangkan dan memelihara sistem komunikasi 

yang efektif ini  merupakan fungsi utama dari 

eksekutif organisasi. Singkat kata, proses pembentukan 

dan kelangsungan hidup organisasi tergantung pada 

keputusan yang mampu mengintegrasikan unsur–unsur 

internal organisasi dan keputusan untuk beradaptasi dengan 

kekuatan–kekuatan eksternal organisasi yang relevan. Kedua 

jenis keputusan ini merupakan hasil komunikasi yang efektif.

Perkembangan organisasi menuntut gaya komunikasi 

efektif berbeeda–beda sesuai dengan tahap–tahap 

perkembangan organisasi. Menurut ‘Model pertumbuhan 

dan perubahan’ yang dikembangkan oleh larry E. Greiner 

(1972: 37 – 46 ) dalam artikel berjudul “Evolution and Revolution 

as Organizations Grow” tahap–tahap pertumbuhan organisasi 

memerlukan  jenis komunikasi yang berbeda–beda dan 

        

ditandai oleh krisis yang memerlukan  sistem komunikasi 

baru sebagai solusinya. Pada saat awal pertumbuhan, 

komunikasi berlangsung sebagai interaksi sosial antara 

pribadi yang bersifat informal. Berbagai persoalan yang 

muncul diatasi dengan pertukaran ide bebas. Namun dalam 

perkembangannya praktik ‘dikusi bebas’ ini memicu  

krisis kepemimpinan. Dengan munculnya pemimpin 

formal, struktur kewenangan hierarkis dibagun dengan 

sistem komunikasi, yang bekerja mengikuti mata rantai 

berjenjang, khususnya vertikal dari atas ke bawah, dan 

bersifat formal fungsional. Dalam perkembangan selanjutnya, 

sistem komunikasi yang hierarkis struktural tidak mampu 

mengkomodasi dinamika yang terjadi, sehingga timbul krisis 

otonomi. Untuk mengatasinya, sistem komunikasi diubah 

menjadi terdesentralisasi dengan keputusan yang menyebar 

di kalangan para manajer unit kerja, yang melaksanakan 

komunikasi partisipatif. Singkat kata, pembuat keputusan 

bekerja dengan komunikasi delegatif dan partisipatif. Dalam 

sistem ini, otonomi para manajer berkembang dan akhirnya 

membawa akses, sebab  mereka lebih mementingkan unit 

kerja masing–masing dan krisis kontrol pun muncul. Untuk 

mengatasinya, sistem koodinasi terpusat dibangun untuk 

mengintegrasikan dan mengarahkan seluruh kegiatan–

kegiatan lintas fungsional sehingga menjadi efektif. 

Komunikasi horizontal antara manajer lintas fungsional 

menjadi praktik, namun dalam berkembangnya dianggap 

terlalu birokratis dan menghambat dinamika kerja organisasi, 

sehingga akhirnya memicu  krisis ‘ kemacetan birokratis’. 

Untuk mengatasi krisis kemacetan birokratis dibagun sistem 

komunikasi jaringan, yang memberi  kewenangan pada 

kelompok kerja yang sekaligus juga menjamin koordinasi 

melalui sistem jaringan       

Persaingan dan globalisasi. Persaingan dan globalisasi 

yakni kini menerpa semua organisasi penting di seluruh 

dunia dan memicu  dampak yang kompleks terutama 

merupakan konsekuensi dari glasnost dan perestroika yang 

dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev sebagai pemimpin Uni 

Soviet pada pertengahan dekade 1980–an. 

Glasnost dan perestroika yang berarti keterbukaan dan 

restrukturisasi telah berhasil meruntuhkan idelogi komunis 

yang tertutup di Uni Soviet dan Eropa Timur. Namun yang 

lebih penting lagi, glasnost dan perestroika juga menciptakan 

Age of Transparancy, yakni zaman Keterbukaan yang penuh 

dengan ‘revolusi moral baru’ di negara–negara industri 

dan pasca industri. Dengan ‘revolusi moral baru’ itu dunia 

bisnis harus mampu membuat kebijakan komunikasi dengan 

strategi makro dan mikro yang menyeluruh, terpadu, 

dan terpusat (coherent and centralized). 

Kebijakan komunikasi makro menyangkut komunikasi 

organisasi dengan lingkungan, khususnya terkait dengan 

persaingan bisnis di satu pihak dan di lain pihak krisis 

kepercayaan warga  pada segala bentuk institusi dan 

pelestarian lingkungan, yang dapat mengancam ekstensi dan 

perkembangan organisasi bisnis. 

Kebijakan komunikasi mikro terutama menyangkut 

komunikasi integrasi internal, khususnya tentang 

produktivitas kerja, terkait dengan tuntutan untuk 

keterbukaan kebijakan bisnis dan keuangan, pemberdayaan 

sumber daya manusia, kesetaraan gender (gender relations), 

keadilan dalam sistem pengimbalan, dan faktor manusia 

dalam aplikasi teknologi industri. Singkat kata persaingan 

dan globalisasi telah menghadapkan organisasi–organisasi 

bisnis pada persoalan–persoalan rumit dan penuh ketidak-

pastian, sehingga semua kegiatan komunikasi organisasi 

harus direncanakan dan dikembangkan menjadi sebuah 

        

sistem dan kebijakan komunikasi yang inovatif dan adaptif 

agar organisasi dapat bertahan hidup dan berkembang. 

(Goldhaber, 1993: 14–25; Katz dan Kahn, 1978: 17–34). 

Kegagalan kegiatan–kegiatan komunikasi juga berarti 

kegagalan semua jerih payah dalam pencapaian tujuan 

organisasi.

Masih terkait dengan komunikasi dalam dunia 

pendidikan, ada  beberapa komponen, terutama Kepala 

Sekolah, Guru dan siswa. Guru merupakan orang yang 

dianggap mampu mentransfer materi ajar, gagasan, wawasan 

lainnya kepada siswa dalam sebuah proses belajar mengajar. 

Guru dalam konteks ini tidak boleh anti kritik. Justru 

dengan kritik dan saran itu akan menambah wawasan lain 

dan timbal balik dalam belajar akan semakin hidup dan 

menyenangkan. Jangan sampai guru memiliki sifat otoriter 

atas semua kebijakan di sekolah saat mengajar. Jangan 

jadikan siswa sebagai objek. Justru sebaliknya, siswa harus 

dijadikan subjek dalam sebuah pembelajaran.  

Di sinilah pentingnya seorang guru memiliki komunikasi 

yang lancar, baik dan mampu menggerakkan siswa untuk 

melakukan interaksi. Membuat suasana belajar yang 

menyenangkan, nyaman, dan tak tertekan. Guru bukan 

hanya sebagai orang yang mengajar, namun  lebih dari itu, 

yakni sebagai orang tua, rekan, maupun sahabat. sebab  

ada siswa yang tidak mau terbuka kepada orang tua, namun  

kepada guru bisa terbuka dengan persoalan atau masalah 

yang sedang dihadapinya, sehingga rasa kasih sayang dari 

seorang guru kepada siswa akan menjadikan motivasi 

tersendiri. 

Pada hakikatnya tujuan komunikasi itu yaitu  bagaimana 

bisa dan mampu merubah suatu sikap (attitude), pendapat 

(opinion), perilaku (behavior), ataupun perubahan secara sosial 

(social change).  Perubahan sikap seorang komunikan (siswa)       

sesudah  materi dari guru (komunikator) tergambar bagaimana 

sikap siswa itu dalam keseharian baik di sekolah maupun 

lingkungannya. 

Itulah sedikitnya uraian singkat tentang pentingnya 

komunikasi dalam organisasi sekaligus menjadi pengantar 

untuk mengembangkan komunikasi dalam organisasi 

pendidikan. 

         

TINJAUAN UMUM  

KOMUNIKASI ORGANISASI 

Pada bab terdahulu telah diuraikan bahwa komunikasi 

merupakan suatu proses dalam mengungkapkan ide, 

gagasan, sikap, informasi,pendapat atau apapun yang 

bertujuan untuk mencapai suatu tujuan, memahami atau 

mengkoordinasikan suatu kegiatan. 

Dalam kehidupan umat manusia hingga hari ini, 

komunikasi dapat disebut sebagai sistem yang mengatur 

hubungan interaksi antara individu dengan individu yang 

dapat dibagi menjadi 2 kategori, yakni komunikator dan 

komunikan yang saling merespon dalam sebuah substansi 

persoalan, apakah berupa informasi, permintaan, penawaran, 

ataupun yang terkait dengan hubungan antara atasan-

bawahan antara teman dan sahabat dan sebagainya.

Dalam konteks komunikasi dalam sebuah organisasi, 

biasanya komunikasi dibagi menjadi 2 bagian, yakni 

komunikasi formal yang dilakukan melalui surat-menyurat, 

pelaporan, dan pertemuan formal. sedang  komunikasi 

informal dilakukan melalui interaksi yang tidak berhubungan 

dengan struktur atau hirarki organisasi.

Kedua jenis komunikasi dalam substantif ini, yakni baik 

formal maupun informal dilakukan dengan komunikasi 

verbal ataupun nonverbal yang meliputi percakapan, 

tulisan, dan unsur-unsur visual lainnya. berdasar  teori 

ini, maka dapat dikatakan bahwa komunikasi merupakan         

hal yang sangat krusial dalam rangka mencapai suatu tujuan 

organisasi. 

Tidak hanya itu saja, dalam proses keberlangsungan 

suatu organisasi memerlukan  suatu komunikasi dua arah 

yang disebut pula dengan interaksi dalam organisasi. Artinya, 

tanpa adanya komunikasi, maka organisasi apapun tidak 

akan pernah mencapai tujuan yang ditetapkan bersama. 

Komunikasi organisasi menurut Yosal Iriantara & Usep 

Syaripudin (2013: 51) ada  beberapa macam, antara 

lain ada yang disebut dengan komunikasi vertikal turun 

(komunikasi ke bawah), komunikai vertikal naik (komunikasi 

ke atas), komunikasi horisontal (komunikasi sejawat) dan 

komunikasi daigonal (lintas bidang). Dalam suatu organisasi, 

komunikasi vertikal, baik naik maupun turun, terjalin antara 

bawahan dengan atasan dan juga sebaliknya, sementara 

komunikasi horisontal terjalin atau dilakukan antara orang 

yang setara kedudukannya dalam organisasi, antara sesama 

pimpinan, sesama bawahan dan sebagainya. 

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris 

communication bersal dari bahasa Latin communicatioâ, 

bersumber dari communisâ yang berarti sama. Sama disini 

memiliki pengertian sama makna. Dengan begitu, komunikasi 

paling tidak harus mengandung kesamaan makna antara 

kedua belah pihak yang terlibat. Disebut demikian, sebab  

kegiatan komunikasi tidak saja menyajikan informasi semata 

tapi juga mengandung maksud agar orang lain maupun 

pihak lain mengerti dan paham sekaligus bersedia menerima 

apa yang yang disampaikan.

Secara etimologis, organisasi berasal dari kata organ, 

yakni bagian, rangka, sendi atau elemen-elemen. Sementara 

itu, kata “Nisasi” dimaknai sebagai sebuah proses, sistematika, 

aturan atau teratur. Dari sini maka dapat diperoleh gambaran 

secara singkat bahwa organisasi merupakan suatu susunan, 

         

aturan atau sistematika dari berbagai bagian organ dan 

elemen-elemen penting yang menjelma menjadi satu kesatuan 

yang teratur, terstruktur dan tersistematika secara baik untuk 

mencapai suatu tujuan tertentu. 

Para ahli dalam banyak literatur telah memberi batasan 

tentang organisasi, diantaranya, Terry; yang menyebut 

organisasi sebagai upaya mengalokasikan seluruh 

pekerjaan yang harus dilakukan antara kelompok kerja dan 

menetapkan wewenang aktif serta tanggung jawab untuk 

setiap komponen kerja dan menjadikan lingkungan kerja 

yang tepat dan sesuai. Begitu juga dengan Chesteri Bernard; 

yang memberi batasan bahwa organisasi merupakan suatu 

sistem kegiatan-kegiatan kerjasama yang dikoordinasikan 

dengan sadar. Demikian pula dengan  James D. Money; yang 

menyebutkan organisasi sebagai sebuah perserikatan untuk 

mencapai tujuan bersama.

Amir Lahjeni dalam tulisannya di laman pribadinya, 

amirlahjeni.wordpress.com/2012/03/30/pengantar-organisasi/ 

menyebutkan, bahwa organisasi yaitu  suatu sistem 

perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari 

sekelompok orang  yang berkerja sama dalam mencapai 

tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah 

saja. 

Dalam tulisannya ini , Amir Lahjeni menguraikan 

panjang lebar bahwa organisasi yaitu  suatu koordinasi 

rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai 

beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan 

fungsi melalui hirarki otoritas dan tanggung jawab (Arni 

Muhammadiyah, 2000:23). Untuk itu organisasi memiliki  

karakteristik tertentu yaitu memiliki  struktur, tujuan saling 

berhubungan satu bagian dengan bagian lain dan bergantung 

pada komunikasi manusia untuk mengkoordinasikan 

aktivitas dalam organisasi ini .

Suatu organisasi memerlukan koordinasi supaya masing-

masing bagian dari organisasi ini  bekerja menurut 

semestinya tanpa menganggu bagian lainnya. Tanpa 

koordinasi akan sulit organisasi ini  berfungsi dengan 

baik. Dalam melakukan suatu koordinasi akan memerlukan 

alat atau media agar koordinasi ini  berjalan dengan 

lancar. Komunikasi merupakan alat atau media yang paling 

utama dalam melakukan koordinasi dalam suatu organisasi. 

Tanpa adanya komunikasi, maka organisasi ini  akan 

mati.

Organisasi pada dasarnya dapat dibagi menjadi 2 (dua) 

bagian besar, yaitu organisasi formal dan organiasi informal. 

Menurut Herbert G. Hicks dalam 

ciri-ciri dari organisasi formal diantaranya : 

 - memiliki  struktur yang baik yang dapat meng-

gambarkan hubungan-hubungan wewenang kekuasaan, 

akuntanbilitas, dan pertangungjawaban. Struktur itu pula 

dapat menunjukkan saluran-saluran melalui komunikasi 

tata hubungan. 

 - memiliki  spesifikasi jabatan yang jelas bagi setiap 

anggota, hirarki dan tujuan organisasi formal dinyatakan 

dengan tegas. 

 - Dalam organisasi formal masalah status, prestise, gaji, 

kedudukan atau pangkat dan penghasilan  diatur dan 

diawasi dengan baik. 

 - Organisasi formal bertahan lama dan direncanakan, 

sebab penempatannya sesuai dengan peraturan. Mereka 

relatif tidak fleksibel. 

 - Keanggotaan diperoleh secara sadar, pada waktu tertentu 

dan umumnya terbuka.

        

Sementara itu, organisasi nonformal, diantaranya 

memiliki   ciri-ciri : 

 - Disusun secara bebas, spontan, tidak pasti dan tidak 

fleksibel.

 - Keanggotaanya diperoleh secara sadar atau secara tidak 

sadar.

 - Kapan seorang menjadi anggota sulit ditentukan.

 - Tidak ada perinciaan secara tegas tentang tujuan 

organisasi.

 - Biasanya bersifat sementara .

 - Tidak memiliki  struktur yang dinyatakan dengan 

baik.

 - Tidak memiliki  perincian yana tegas tentang tugas-

tugas dari setiap  anggota organisasi.

 - Hubungan-hubungan yang terjadi antara para anggota 

berlangsung secara pribadi/informal ,

Fungsi Komunikasi

Komunikasi memiliki fungsi–fungsi yang dapat 

dijabarkan sebagai berikut : 

1. Fungsi Informasi meliputi,  pengumpulan, penyimpanan, 

pemrosesan, penyebaran berita, data, gambar, fakta dan 

pesan opini dan komentar yang dibutuhkan agar dapat 

dimengerti dan beraksi secara jelas terhadap kondisi 

lingkungan dan orang lain agar dapat mengambil 

keputusan yang tepat.

2. Fungsi Sosialisasi (pewarga an) yaitu  penyediaan 

sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan orang 

bersikap dan berpengetahuan yang memungkinkan orang       

bersikap dan bertindak sebagai anggota warga  yang 

efektif sehingga ia sadar akan fungsi sosialnya sehingga 

ia dapat aktif di dalam warga .

3. Fungsi Motivasi yakni menjelaskan tujuan setiap 

warga  jangka pendek maupun jangka panjang, 

mendorong orang menentukan pilihannya dan 

keinginannya, mendorong kegiatan individu dan 

kelompok berdasar  tujuan bersama yang akan dikejar.

4. Forum  Diskusi yaitu menyediakan dan saling menukar 

fakta yang diperlukan untuk memungkinkan persetujuan 

atau menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai 

masalah publik, menyediakan bukti-bukti yang relevan 

yang diperlukan untuk kepentingan umum agar 

warga  lebih melibatkan diri dalam masalah yang 

menyangkut kepentingan bersama di tingkat nasional 

dan lokal.

5. Fungsi Pendidikan yakni pengalihan ilmu pengetahuan 

sehingga mendorong perkembangan intelektual, 

pembentuk watak dan pendidikan ketrampilan dan 

kemahiran yang diperlukan pada semua bidang 

kehidupan.

6. Memajukan kebudayaan yaitu penyebaran hasil 

kebudayaan dan seni dengan maksud melestarikan 

warisan masa lalu, perkembangan kebudayaan dengan 

memperluas horison seseorang, membangun imajinasi 

dan mendorong kreativitas dan kebutuhan estetikanya.

7. Hiburan berupa penyebarluasan sinyal, simbol, suara, 

dan image dari drama, tari, kesenian, kesusasteraan, 

musik, olah raga, permainan dan lain-lain untuk rekreasi 

kesenangan kelompok individu.

8. Integrasi berupa upaya penyediaan bagi suatu bangsa, 

kelompok dan individu untuk mendapatkan kesempatan 

         

memperoleh berbagai pesan yang merka perlukan agar 

mereka dapat saling kenal dan mengerti dan menghargai 

kondisi, pandangan dan keinginan orang lain. 

Dalam kehidupan sehari-hari apalagi bagi seseorang 

yang menyandang predikat sebagai pemimpin, maka 

berinteraksi dengan warga  merupakan sebuah rutinitas. 

Tujuannya yaitu  untuk menyampaikan informasi dan 

mencari informasi kepada warga  agar apa yang ingin 

disampaikan atau diharapkan dapat dimengerti sehingga 

komunikasi yang terjalin dapat tercapai.

Pada umumnya komunikasi memiliki  beberapa 

tujuan antara lain agar apa yang disampaikan kepada 

orang lain itu dapat dimengerti. Sebagai komunikator tentu 

merupakan suatu keharusan untuk menjelaskan kepada 

komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya agar apa 

yang disampaikan dapat dengan mudah dimengerti oleh 

komunikan (penerima informasi). Selain itu, komunikasi 

bertujuan agar ide dan gagasan yang disampaikan dapat 

diterima oleh orang lain. Selanjutnya, tujuan komunikasi 

lainnya diantaranya yaitu  menggerakkan orang lain untuk 

melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan. 

Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa komunikasi 

itu bertujuan untuk mengharapkan pengertian, dukungan 

gagasan dan tindakan. Dengan begitu, setiap kali dalam 

menjalin komunikasi, maka yang perlu mendapat perhatian 

yaitu  apa yang menjadi tujuan dalam menjalon komunikasi 

ini . 

Proses Komunikasi

Dari pengertian komunikasi sebagaimana diuraikan 

diatas, tampak adanya sejumlah komponen dan unsur yang 

dicakup dan merupakan persyaratan terjadinya komunikasi.      

Dalam bahasa komunikasi komponen atau unsur itu yaitu  

sebagai berikut:

 - Source (sumber)

Sumber yaitu  dasar yang dipakai  di dalam 

penyampaian pesan, yang dipakai  dalam rangka 

memperkuat pesan itu sendiri. Sumber dapat berupa 

orang, lembaga, buku, dan sejenisnya. Dalam hal sumber 

ini yang perlu kita perhatikan kredibilitas terhadap sumber 

(kepercayaan) baru, lama, sementara dan lain sebagainya. 

jika  kita salah mengambil sumber maka kemungkinan 

komunikasi yang kita lancarkan akan berakibat lain dari yang 

kita harapkan.

• Komunikator

Komunikator dapat berupa individu yang sedang 

berbicara, menulis, kelompok orang, organisasi 

komunikasi seperti surat kabar, radio, televisi, film 

dan sebagainya. Dalam komunikator menyampaikan 

pesan kadang-kadang komunikator dapat menjadi 

komunikator. Syarat-syarat yang perlu diperhatikan oleh 

seseorang komunikator yaitu  sebagai berikut:

 - Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikasinya.

 - Ketrampilan berkomunikasi.

 - memiliki  pengetahuan yang luas.

 - Sikap.

 - Memiliki daya tarik dalam arti ia memiliki 

kemampuan untuk melakukan perubahan 

sikap/penambahan pengetahuan bagi/pada diri 

komunikasi.

 - Message (pesan) yaitu  keseluruhan daripada apa 

yang disamaikan oleh komunikator. Pada seharusnya 

memiliki  inti pesan (pesan) sebagai pengaruh di 

         

dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah 

laku komunikan. Pesan dapat disampaikan secara 

panjang lebar, namun yang perlu diperhatikan dan 

di arahkan kepada tujuan akhir dari komunikasi.

• Channel (saluran)

Saluran komunikasi selalu menyampaikan pesan 

yang dapat diterima melalui panca indera atau 

memakai  media.

• Communicant (komunikan = penerima pesan)

Komunikan atau penerima pesan dapat digolongkan 

dalam 3 jenis yakni persona, kelompok dan massa.

• Effect (hasil)

Effect yaitu  hasil aksir dari suatu komunikasi, 

yakni sikap dan tingkah laku orang, sesuai atau tidak 

sesuai dengan yang kita inginkan. Jika sikap dan tingkah 

laku orang lain sesuai, maka berarti komunikasi berhasil, 

demikian pula sebaliknya.

Model Komunikasi

Yang dimaksud dengan model komunikasi yaitu  

gambaran yang sederhana dari proses komunikasi yang 

memperlihatkan kaitan antara suatu komponen komunikasi 

dengan komponen lainya. Penyajian model dalam bagian 

ini dimaksudkan untuk mempermudah memahami proses 

komunikasi dan melihat komponen dasar yang perlu ada 

dalam suatu komunikasi.

• Model Lasswell

Model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold 

Laswell (Forsdale 1981), seorang ahli ilmu politik dari 

Yale University. Dia memakai  lima pertanyaan 

yang perlu ditanyakan dan dijawab dalam melihat proses         

komunikasi, yaitu who (siapa), says what (mengatakan 

apa), in which medium atau dalam media apa, to whom atau 

kepada siapa, dan dengan what effect atau apa efeknya.

Bila dilihat lebih lanjut maksud dari model Lasswell 

ini akan kelihatan bahwa yang dimaksud dengan 

pertanyaan who ini  yaitu  menunjuk kepada 

siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai 

komunikasi.

Pertanyaan kedua yaitu  says what atau apa yang 

dikatakan. Pertanyaan ini yaitu  berhubungan isi 

komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam 

komunikasi ini .

Pertanyaan ketiga yaitu  to whom. Pertanyaan ini 

maksudnya menanyakan siapa yang menjadi audience 

atau penerima dari komunikasi atau dengan kata lain 

kepada siapa komunikator berbicara atau kepada siapa 

pesan yang ia ingin disampaikan diberikan.

Pertanyaan yang keempat yaitu  through what atau 

melalui media apa. Yang dimaksud dengan media yaitu  

alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak 

mata, sentuhan, radio, televisi, surat,buku dan gambar.

Pertanyaan yang terakhir yaitu  what effect 

atau efeknya dari komunikasi ini . Misalnya 

sebuah sekolah swasta membuat iklan untuk meng-

komunikasikan bahwa mereka akan menerima murid 

baru. Sesudah iklan ini disiarkan beberapa hari, sudah 

berapa orangkah yang telah mendaftar untuk menjadi 

murid. Jumlah orang yang mendaftar ini yaitu  

merupakan efek dari komunikasi.

         

• Model Shannon

Model komunikasi lain yang banyak dipakai  

yaitu  model komunikasi dari Claude Shannon atau 

lebih dikenal dengan model Shannon Wever. Model ini 

berbeda dengan model Lasswell mengenai istilah yang 

dipakai  bagi masing-masing komponen.

• Sumber Informasi (Information Source)

Dalam komunikasi manusia yang menjadi 

sumber informasi yaitu  otak. Pada otak ini ada  

kemungkinan pesan yang tidak terbatas jumlahnya. 

Tugas utama dari otak yaitu  menghasilkan suatu pesan 

dari berjuta-juta pesan yang ada.

• Transmitter

Langkah kedua dari medel Shannon yaitu  memilih 

transmitter. Pemilihan transmitter ini tergantung 

pada jenis komunikasi yang dipakai . Kita dapat 

membedakan dua macam komuikasi yaitu komunikasi 

tatap muka dan komunikasi memakai  mesin.

Pada komunikasi tatap muka yang menjadi 

transmitternya yaitu  alat-alat pembentukan suara dan 

dihubungkan dengan otot-otot serta organ tubuh lainnya 

yang terlibat dalam pemakaian  bahasa nonverbal. 

sedang  pada komunikasi yang memakai  mesin-

mesin alat-alat komuniaksi yang berfungsi sebagai 

transmitter yaitu  alat itu sendiri seperti, telpon, radio, 

televisi, foto dan film.

• Penyandian (Encoding) Pesan

Penyandian (encoding) pesan diperlukan untuk 

mengubah ide dalam otak ke dalam suatu sandi yang 

cocok dengan transmitter. Dalam komunikasi tatap           

muka signal yang cocok dengan alat-alat suara yaitu  

berbicara. Signal yang cocok dengan otot-otot tubuh dan 

indera yaitu  anggukan kepala, sentuhan dan kontak 

mata.

Pada komunikasi yang memakai  mesin, dimana 

alat-alat yang dipakai  sebagai perluasan dari indera, 

penyandian pesan juga berasal dar tubuh namun  diperluas 

melalui jarak jauh dengan transmitter. Misalnya radio 

yaitu  perluasan dari suara manusia, televisi perluasan 

dari mata dan begitu juga dengan alat komuikasi lainnya.

• Penerima dan Decoding

Istilah Shannon mengenai penerima dan decoding 

atau penginterpretasian pesan seperti berlawanan 

dengan istilah penyandian pesan. Pada komunikasi 

tatap muka kemungkinan transmitter menyandikan 

pesan dengan memakai  alat-alat suara dan otot-

otot tubuh. Penerima dalam hal ini alat-alat tubuh yang 

sederhana yang sanggup mengamati signal. Misalnya 

telinga menerima dan menguraikan sandi pembicaraan, 

mata menerima dan menguraikan sandi gerakan badan 

dan kepala, kilatan mata dan signal lainnya yang dapat 

dilihat mata.

• Tujuan (Destination)

Komponen terakhir dari Shannon yaitu  destination 

atau tujuan yang dimaksud oleh si komunikator. 

Destination ini yaitu  otak manusia yang menerima 

pesan yang berisi bermacam-macam hal, ingatan atau 

pemikiran mengenai kemungkinan dari arti pesan. 

Penerima pesan telah menerima signal mungkin melalui 

pendengaran, penglihatan, penciuman dan sebagainya 

kemudian signal itu diuraikan dan diinterpretasikan 

dalam otak.

        

• Sumber Gangguan (Noise)

Dalam model komunikasi Shannon ini terlihat adanya 

factor sumber gangguan pada waktu memindahkan 

signal dari transmitter kepada si penerima. Misalnya 

pada waktu anda berbicara dengan teman di jalan 

kedengaran suatu mobil lewat anak-anak berteriak yang 

semuanya itu mengganggu pembicaraan anda sesaat dan 

gangguan itu dinamakan noise .

Untuk menetralkan gangguan ini Shannon 

mengemukakan empat cara seperti berikut : 

1. Menambahkan kekuatan dari signal

2. Mengarahkan signal dengan tepat

3. memakai  signal lain

4. Redudansi

• Model Scraumn

Wilbur Scraumn memberi  model proses 

komunikasi yang agak berbeda sedikit dengan dua 

model sebelumnya. Dia memperlihatkan pentingnya 

peranan pengalaman dalam proses komunikasi. Bidang 

pengalaman akan menentukan apakah pesan yang 

dikirimkan diterima oleh si penerima sesuai dengan apa 

yang dimaksudkan oleh si pengirim pesan.Schraumn 

mengatakan jika tidak ada kesamaan dalam bidang 

pengalaman, bahasa yang sama, latar belakang yang 

sama, kebudayaan yang sama, maka sedikit kemungkinan 

pesan yang diterima diinterpretasikan dengan benar.

Model ini sama dengan model-model sebelumnya 

yaitu memperlihatkan proses komunikasi yang satu arah 

dan tidak dua arah. Oleh sebab  Schraumn menyadari 

pentingnya balikan dalam komunikasi, akhirnya 

menyempurnakan model ini menjadi model dua arah.          

• Model Berlo

Model yang dikembangkan oleh David Berlo pada 

tahun 1960 hanya memperlihatkan proses komunikasi 

satu arah dn hanya terdiri dari empat komponen yaitu 

sumber, pesan, saluran dan penerima atau receiver. 

tetapi  pada masing-masing komponen ini  

ada sejumlah faktor kontrol. Faktor keterampilan, sikap, 

pengetahuan, kebudayaan, dan sistem sosial dari sumber 

atau orang yang mengirim pesan merupakan faktor 

penting dalam menentukkan isi pesan, perlakuan, atau 

treatment dan penyandian pesan.

Model komunikasi Berlo disamping menekankan 

komunikasi sebagai suatu proses, juga menekankan ide 

bahwa arti pesan yang dikirimkan pada orang yang 

menerima pesan bukan pada kata-kata pesan itu sendiri. 

Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa interpretasi 

pesan terutama tergantung kepada arti dari kata atau 

pesan yang ditafsirkan oleh si pengirim atau si penerima 

pesan dan bukan pada apa yang ada dalam komponen 

pesan itu sendiri.

• Model Seiler

William J. Seiler (1988) memberi  model 

komunikasi dua arah dan bersifat lebih universal. 

Menurut Seiler source atau pengirim pesan memiliki  

empat peranan yaitu menentukan arti apa yang akan 

dikomunikasikan, menyandikan arti kedalam suatu 

pesan, mengirimkan pesan dan mengamati, dan 

bereaksi terhadap respon dari penerima pesan. Model 

Seiler ini disamping menekankan pentingnya balikan 

juga menekankan pentingnya faktor lingkungan dalam 

proses komunikasi yang dapat mempengaruhi hakikat 

dan kualitas dari komunikasi. Misalnya yaitu  mudah 

melakukan pembicaraan secara rutin atau pribadi 

         

pada lingkungan yang menyenangkan dari pada 

lingkungan yang hiruk pikuk dan tidak menyenangkan. 

Beberapa lingkungan kadang-kadang mempercepat 

proses komunikasi dan beberapa lingkungan seakan 

menghambat proses komunikasi.   

 Komponen Dasar Komunikasi

ada  empat komponen yang cenderung sama 

yaitu: orang yang mengirimkan pesan, pesan yang akan 

dikirimkan, saluran atau jalan yang dilalui pesan dari si 

pengirim kepada si penerima, dan si penerima pesan. sebab  

komunikasi merupakan proses dua arah atau timbal balik 

maka komponen balikan perlu ada dalam proses komunikasi. 

Dengan demikian, komponen dasar komunikasi ada lima 

yaitu; pengirim pesan, pesan, saluran, penerima pesan dan 

balikan. Masing-masing komponen ini  akan dijelaskan 

kembali secara ringkas

 - Pengirim pesan

Pengirim pesan yaitu  individu  atau orang yang 

mengirim pesan. Pesan atau informasi yang akan 

dikirimkan berasal dari otak si pengirim pesan. Oleh 

sebab itu, sebelum pengirim mengirimkan pesan, si 

pengirim harus menciptakan dulu pesan yang akan 

dikirimkannya. Menciptakan pesan yaitu  menentukan 

arti apa yang akan  dikirimkan kemudian menyandikan/

encode arti ini  ke dalam satu pesan. Sesudah itu baru 

dikirim melalui saluran.

 - Pesan

Pesan yaitu  informasi yang akan dikirimkan kepada 

si penerima. Pesan ini dapat berupa verbal maupun 

non verbal. Pesan secara verbal dapat secara tertulis 

seperti surat, buku, majalah, memo, sedang  pesan          

yang secara lisan dapat berupa, percakapan tatap muka, 

percakapan melalui telepon, radio dan sebagainnya. 

Pesan yang nonverbal dapat berupa isyarat, gerakan 

badan, ekspresi muka, dan nada suara.

 - Saluran

Saluran yaitu  jalan yang dilalui pesan dari si 

pengirim dengan si penerima. Channel yang biasa dalam 

komunikasi yaitu  gelombang cahaya dan suara yang 

dapat kita lihat dan dengar. tetapi  alat dengan 

apa cahaya atau suara itu berpindah mungkin berbeda-

beda. Misalnya bila dua orang berbicara tatap muka 

gelombang suara dan cahaya di udara berfungsi sebagai 

saluran. namun  jika pembicaraan itu melalui surat yang 

dikirimkan, maka gelombang cahaya sebagai salura yang 

memungkinkan kita dapat melihat huruf pada surat 

ini . Kertas dan tulisan itu sendiri yaitu  sebagai alat 

untuk menyampaikan pesan. Kita dapat memakai  

bermacam-macam alat untuk menyampaikan pesan 

seperti buku, radio, film, televisi, surat kabar namun  

saluran pokoknya yaitu  gelombang suara dan cahay. 

Di samping itu kita juga dapat menerima pesan melalui 

alat indera penciuman, alat pengucap dan peraba.

 - Penerima pesan

Penerima pesan yaitu  yang menganalisis dan 

menginterpretasikan isi pesan yang diterimanya.

 - Balikan

Balikan yaitu  respons terhadap pesan yang 

diterima yang dikirimkan kepada si pengirim pesan. 

Dengan diberikannya reaksi ini kepada si pengirim, 

pengirim akan dapat mengetahui apakah pesan yang 

dikirimkan ini  diinterpretasikan sama dengan apa 

yang dimaksudkan oleh si pengirim. Bila arti pesan yang 

         

dimaksudkan oleh si pengirim diinterpretasikan sama 

oleh si penerima berarti komunikasi ini  efektif.

Prinsip Komunikasi

Untuk dapat memahami hakikat suatu komuniaksi perlu 

diketahui prinsip dari komunikasi ini . Menurut Seiler 

(1988), ada empat prinsip dasar dari komunikasi yaitu suatu 

proses, suatu sistemik, interaksi dan transaksi, dimaksudkan 

atau tidak dimaksudkan. Masing-masing dari prinsip ini 

akan dijelaskan berikut ini.

 - Komunikasi yaitu  suatu proses

Komunikasi yaitu  suatu proses sebab  merupakan 

suatu kegiatan yang terus menerus, yang tidak 

memiliki  permulaan atau akhir dan selalu berubah-

ubah. Komunikasi juga bukanlah suatu barang yang 

ditangkap dengan tangan untuk diteliti. Komunikasi 

menurut Seiler (1988) lebih merupakan cuaca yang terjadi 

dari bermacam-macam variabel yang kompleks dan terus 

berubah.

Komunikasi juga melibatkan suatu variasi saling 

berhubungan yang kompleks yang tidak pernah ada 

duplikat dalam cara yang persis sama yaitu : saling 

hubungan diantara orang, lingkungan, keterampilan, 

sikap, status, pengalaman, dan perasaan, semuanya 

menentukan komunikasi yang terjadi pada suatu waktu 

tertentu. Misalnya cobalah anda ingat hubungan yang 

baru terjadi dengan seseorang akhir-akhir ini. Bagaimana 

terjadinya hubungan itu? Apakah secara kebetulan atau 

sengaja dipertemukan oleh teman atau anda sendiri yang 

merencanakannya. Tidak ada hubungan yang terjadi 

dalam cara yang persisi sama atau tidak ada komunikasi 

yang terjadi pengantara terjadinya hubungan itu yang 

persis sama.          

 - Komunikasi yaitu  sistem

Komunikasi terdiri dari beberapa komponen dan 

masing-masing komponen ini  memiliki  tugasnya 

masing-masing. Tugas dari masing-masing komponen itu 

berhubungan satu sama lain untuk menghasilkan suatu 

komunikasi. Misalnya pengirim memiliki  peranan 

untuk menentukan apa informasi atau apa arti yang akan 

dikomunikasikan. sesudah  tau apa arti atau informasi 

yang akan dikirimkan, informasi ini  perlu diubah 

ke dalam kode atau sandi-sandi tertentu sesuai dengan 

aturannya sehingga berupa suatu pesan. jadi komponen 

pesan ada kaitanya dengan komponen pengirim. Bila 

pengirim pengirim tidak benar menyandikan arti yang 

akan dikirim, maka terjadilah pesan itu kurang tepat. 

Kaitan komponen pesan dengan saluran misalnya, 

bila pesan disampaikan dengan lisan maka gelombang 

suara yaitu  sebagai saluran dan ini juga akan berkaitan 

dengan si penerima dalam mengikuti pesan yang harus 

memakai  pendengarannya dalam menrima pesan 

ini . Begitulah, antara satu komponen dengan 

komponen yang lain saling berkaitan dan bila ada  

gangguan pada satu komponen akan berpada proses 

komunikasi secara keseluruhan.

 - Komunikasi bersifat interaksi dan transaksi

Yang dimaksud dengan istilah interaksi yaitu  saling 

bertukar komunikasi misalnya ada orang yang berbicara 

kepada temannya tentang sesuatu, kemudian temannya 

yang medengar dan memberi komentar terhadap yang 

sedang dibicarakan itu  begitu selanjutnya berlangsung 

secara teratur ibarat orang yang bermain melempar bola.

Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi yang kita 

lakukan tidak seteratur itu prosesnya banyak dalam 

        

percakapan tatap muka kita terlibat dalam proses 

pengiriman pesan secara simultan tidak terpisah seperti 

contoh di atas. Dalam keadaan demikian komunikasi 

ini  bersifat transaksi. Sambil menyandikan pesan 

kita juga menginterpretasikan pesan yang kita terima 

seperti dalam situasi pengajaran di kelas antara guru dan 

murid. Jadi komunikasi yang terjadi diantara manusia 

dapat berupa interaksi dan transaksi.

 - Komunikasi dapat terjadi disengaja maupun tidak 

disengaja

Komunikasi yang disengaja terjadi jika  pesan 

yang memiliki  maksud tertentu dikirimkan kepada 

penerima yang dimaksudkan, misalnya seorang 

pemimpin bermaksud mengadakan rapat dengan 

kepala-kepala bagianya, kemudian pemimpin ini  

mengirimkan pesan kepada kepala-kepala bagianya, 

jika  pesan yang tidak disengaja tidak dimaksudkan 

untuk orang tertentu untuk menerimanya.

Tinjauan Umum Organisasi

Organisasi merupakan pengaturan dan penyusunan 

bagian-bagian tertentu hingga menjadi satu kesatuan, 

aturan dan susunan dari berbagai bagian sehingga menjadi 

satu kesatuan yang teratur dan gabungan kerja sama untuk 

mencapai tujuan tertentu. Ada juga yang berpendapat 

bahwa organisasi merupakan sebuah sistem kegiatan kerja 

sama yang dilakukan oleh dua orang ataupun lebih untuk 

melaksanakan suatu aktivitas yang di dalamnya memerlukan 

komunikasi dengan pencapaian tujuan bersama. Barnard 

menekankan peranan pada setiap orang anggotanya yang 

harus diberikan informasi dan motivasi dan sebagian 

sebagian anggota lainnya yang harus membuat keputusan.          

Sejak zaman dulu organisasi telah menarik perhatian 

para ahli. Namun sebab  organisasi termasuk sesuatu yang 

sangat kompleks maka ada  perbedaan sudut pandang 

dan pebedaan penekanan terhadap organiasi itu sendiri. 

Dari sudut pandang sosiologis misalnya, Weber melihat 

bahwa organisasi merupakan hubungan sosial atau seperti 

Durkheim, yaitu bahwa organisasi merupakan sistem sosial. 

Sebagai sistem sosial organisasi yaitu  entitas di mana orang 

dan produksi dikoordinasi. Pengertian ini  berbeda 

dengan pandangan manajerial atau setidaknya ilmu ekonomi, 

terhadap organisasi sebagai alat ekonomi dan merupakan 

instrumen rasional dan modernitas.  Dalam 

ilmu ekonomi hono economicus (mahkhluk ekonomi) yang 

rasional akan selalu berusaha memaksimalkan utility 

function. Persaingan yaitu  konsekwensi logis bila upaya 

maksimalisasi fungsi utilitas terkendala oleh sumber daya 

yang terbatas. Dalam konteks ini , persaingan justru 

baik sebab  akan memacu individu untuk menjadi lebih baik 

dan secara alamiah mengatur distribusi sumber daya kepada 

mereka yang terbaik. 

Kemunculan organisasi merupakan hal yang masuk akal 

bila dalam proses maksimalisasi utilitas ini , individu 

merasa bahwa mereka harus bekerja sama dengan individu 

lain sebab  pekerjaan yang harus ditanggung dalam rangka 

memaksimalkan utilitas ini  terlalu berat jika ditangani 

sendirian. Ilmuan sosial umumnya menolak pandangan 

manajerial yang terlalu menekankan pada aspek rasionalitas 

dan teknologi ini . Mereka lebih memilih melihat 

organisasi dari aspek sosio kultural manusia yang bekerja 

di dalam organisasi.

Dalam konteks sosio kultural, perhatian juga diberikan 

pada manusia yang terkena dampak keberadaan organisasi 

dalam warga . 

        

Berikut beberapa definisi atau pengertian organisasi 

menurut beberapa para ahli, diantaranya :

Organisasi yaitu  susunan dan aturan dari berbagai-

bagai bagian (orang dsb) sehingga merupakan kesatuan 

yang teratur. (W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa 

Indonesia). Organisasi juga dipandang sebagai sebuah sistem 

sosial yang memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar 

anggota yang terperinci, program kegiatan yang jelas, dan 

prosedur pergantian anggota.

Menurut Stoner, organisasi yaitu  suatu pola hubungan-

hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah 

pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.

Menurut James D. Mooney, organisasi yaitu  bentuk 

setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.

Menurut Chester I. Bernard, organisasi merupakan suatu 

sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang 

atau lebih. Organisasi (Yunani: ὄργανον, organon–alat) yaitu  

suatu kelompok orang yang memiliki tujuan yang sama. Baik 

dalam pemakaian  sehari-hari maupun ilmiah, istilah ini 

dipakai  dengan banyak cara.

Pengertian di bawah ini diperoleh dari artikel yang 

berjudul : Pengaruh Kepuasan Kerja dan Stress Dihadapkan 

Dengan Konseling dalam Tingkat Produktifitas serta 

Prestasi Kerja Suatu Organisasi oleh : Mistiani, S.sos, 

Puslitbang Strahan Balitbang Dephan bahwa Organisasi 

yaitu  bentuk formal dari sekelompok manusia dengan 

tujuan individualnya masing-masing (gaji, kepuasan kerja, 

dll) yang bekerjasama dalam suatu proses tertentu untuk 

mencapai tujuan bersama (tujuan organisasi). Agar tujuan 

organisasi dan tujuan individu dapat tercapai secara selaras 

dan harmonis maka diperlukan kerjasama dan usaha 

yang sungguh-sungguh dari kedua belah pihak (pengurus 

34          

organisasi dan anggota organisasi) untuk bersama-sama 

berusaha saling memenuhi kewajiban masing-masing secara 

bertanggung jawab, sehingga pada saat masing-masing 

mendapatkan haknya dapat memenuhi rasa keadilan baik 

bagi anggota organisasi/pegawai maupun bagi pengurus 

organisasi/pejabat yang berwenang.

Organisasi yaitu  suatu koordinasi rasional kegiatan 

sejumlah orang untuk mencapai tujuan umum melalui 

pembagian pekerjaan dan fungsi lewat hirarki otoritas 

dan tanggungjawab (Schein). Karakterisitik organisasi 

menurut Schein meliputi : memiliki struktur, tujuan, saling 

berhubungan satu bagian dengan bagian yang lain untuk 

mengkoordinasikan aktivitas di dalamnya.

Organisasi yaitu  sistem hubungan yang terstruktur 

yang mengkoordinasikan usaha suatu kelompok orang untuk 

mencapai tujuan tertentu (Kochler).

Organisasi yaitu  suatu bentuk sistem terbuka dari 

aktivitas yang dikoordinasi oleh dua orang atau lebih untuk 

mencapai tujuan bersama.

Chester Irving Barnard ( 1886 – 1961 ) dianggap sebagai 

tokoh pertama yang berhasil memberi  pemahaman 

tentang konsep organisasi sebagai sebuah sistem kerja sama. 

Dalam buku seminar berjudul The Function of the Executive, 

Barnard (1938: 73) menjelaskan, hakikat organisasi melalui 

definisi yang berbunyi sebagai berikut: Organisasi formal 

diberi definisi sebagai sistem kegiatan–kegiatan atau daya–

daya dari dua orang atau lebih yang dikoordinasi secara 

sadar.

Bila dibaca sepintas, definisi pendek di atas terkesan 

tidak lengkap sebab  tidak menyebutkan secara eksplisit 

tujuan dan hierarki yang menunjukkan watak rasional dari 

organisasi seperti disebutkan oleh Etzion di atas. Namun bila 

        

disimak secara cermat, definisi pendek ini telah memberi  

pengertian lengkap. Pertama, dinyatakan bahwa organisasi 

yaitu  sebuah sistem. Istilah sistem menunjukkan adanya 

kesatuan yang terdiri dari dua buah atau lebih dan 

yang memiliki  hubungan interdependen atau saling 

ketergantungan. Kedua, bagian–bagian dari sistem ini  

yaitu  kegiatan–kegiatan atau daya–daya dan buku 

orang–orang sebagai bagian dari sistem kegiatan–kegiatan 

atau daya–daya itu berbeda-beda dan dilakukan oleh dua 

orang atau lebih. Artinya, di dalam organisasi setidaknya 

ada  dua buah kegiatan atau daya yang berbeda, 

namun  saling berhubungan secara interdependen. Ketiga, 

kegiatan–kegiatan atau daya–daya itu dikoordinasi. Istilah 

koordinasi berarti komunikasi yang (1) mengintegrasikan 

kegiatan–kegiatan yang berbeda menjadi sebuah kerja 

sama dan (2) mengarahkan kerja sama ini  pada satu 

tujuan dan (3) memiliki  implikasi hierarki sebab  tidak 

pengintegrasian dan pengarahan hanya dapat dilakukan 

oleh orang yang memiliki  kedudukan lebih tinggi dalam 

struktur hierarkis. Keempat, ungkapan dengan sadar, 

secara harfiah berarti disengaja, memiliki  tujuan atau 

alasan. Jadi ungkapan dikoordinasi dengan sadar berarti 

kegiatan–kegiatan diintegrasikan dan diarahkan pada tujuan 

melalui komunikasi. Akhirnya, istilah sistem hakikatnya 

juga mengandung pengertian tujuan dan hierarki. Maka 

dari definisi yang dikembangkan oleh Barnard di atas dapat 

disimpulkan bahwa konsep organisasi mengandung lima 

unsur pengertian: (1) sistem, (2) kegiatan, (3) komunikasi 

(pengintegrasian dan pengarahan), (4) hierarki, dan (5) 

tujuan.

Dalam penjelasannya tentang definisi organisasi 

formal ini , Barnard menunjukkan bahwa komunikasi 

merupakan unsur sentral dalam organisasi dan secara hakiki 

organisasi tidak dapat dipisahkan dari komunikasi. Barnard 

36          

(1938: 82) menyatakan bahwa organisasi lahir kalau ada 

orang–orang yang mampu berkomunikasi satu sama lain, 

yang rela menyumbangkan tindakan, demi tujuan bersama. 

Maka tiga unsur pokok dan organisasi formal menurut 

konsepsi Barnard yaitu  (1) komunikasi, (2) pengabdian, 

dan (3) tujuan bersama yang di dalam definisi formal di atas 

dinyatakan secara implisit. Ketiga unsur itu memiliki  

hubungan interdependen. Komunikasi disebut pertama, 

sebab  memiliki  makna sangat penting, yakni untuk (1) 

menemtukan dan memilihara kesepakatan tentang tujuan; 

(2) menetukan dan memelihara pengabdian, yaitu kerelaan 

menyumbangkan daya–daya kerja dan kerja sama; (3) 

memberi motivasi, yakni memelihara kerelaan mengabdi 

secara dinamis melalui tindakan atau sumbangan daya; 

dan (4) mencapai efisiensi, yakni memelihara equilibrium 

makro antara pengorbanan dan perolehan organisasi dan 

mikro antara pengorbanan individu dan pendapatan sebagai 

seorang karyawan. Selain itu, komunikasi juga sangat 

penting untuk kelangsungan organisasi informal (informal 

organization), yaitu hubungan sosial dalam jaringan–jaringan 

komunikasi informal antar karyawan yang tidak terkait 

dengan struktur hierarkis dan tugas, namun memiliki  

pengaruh pada rasa krasan dan solidaritas sosial antar 

karyawan yang juga berdampak pada produktivitas kerja. 

Maka, akhirnya Barnard menyimpulkan bahwa hakikat 

organisasi hanya mungkin dipahamai dalam keterkaitan 

yang tidak terpisahkan dengan komunikasi. Kenyataan ini 

dijelaskan Barnard ( 1938: 91 ) sebagai berikut:

Dalam sebuah teori organisasi yang tuntas, komunikasi 

tentu menduduki tempat sentral, sebab  struktur, keluasan 

jangkaun, dan ruangan lingkup organisasi hampir 

sepenuhnya ditentukan oleh teknik–teknik komunikasi lagi 

pula, banyak spesialisasi dalam organisasi berasal dan pada 

        

dasarnya terpelihara disebabkan oleh tuntutan – tuntutan 

komunikasi.

Berkat jasanya menunjuan peran sentral komunikasi 

dalam organisasi itu, barnard mendapatkan julukan 

sebagai pionir pemahaman organisasi dengan pendekatan 

komunikasi. Barnard mampu memberi  pemahaman 

bahwa komunikasi pada dasarnya yaitu  sumber penyebab 

dari semua kegiatan lain yang terjadi didalam organisasi. ( 

Hall, 1977: 267 ). Komuniaksi yaitu  sumber pemahaman 

tentang organisasi. Selain itu, berkat definisnya yang singkat 

dan padat itu, Barnard juga mendapatkan sebutan sebagai the 

father of the social system approach to organization and management 

Artinya, Barnard melihat bahwa dari pendekatan 

kesisteman sosial pada bidang studi organisasi dan 

manajemen. Maka tidak mengherankan kalau definisi pendek 

yang dirumuskan oleh Barnard di atas menurut kesaksian 

Kenneth R. Andrews ( 1968: 1 ) menjadi definisi yang paling 

tersohor dan paling banyak dikutip oleh ilmuwan di dunia. 

Semuanya ini menarik dicatat, mengingat Barnard bukan 

seorang akademisi, dosen, atau peneliti, melainkan President 

The New Jersey bell Telephone company (1927 – 1948) dan 

pimpinan operasional United Services Organization (USO) 

sebuah organisasi layanan sosial selama Perang Dunia II, 

yang berhasil menuangkan pemikiran reflektif tentang 

pengalaman empires sebagai pimpinan organisasi bisnis 

maupun layanan nirlaba. Singkat kata, Barnard berhasil 

membangun pemahaman bahwa organisasi bisnis bukan 

hanya urusan ekonomi melainkan sebuah sistem kerja sama 

yang bersumber pada komunikasi.

Herbert A. Simon (1916–2001) yaitu  ilmuwan pada 

Carnegie Institute of Technologi (sekarang Carnegie – Mellon 

University) di Pittsburgh (Pennsylvania) yang mampu 

38          

memperteguh peran sentral komunikasi, baik komunikasi 

formal maupun komunikasi informal, dalam pemahaman 

organisasi sebagai sebuah sistem sosil. Dalam buku klasik 

berjudul Administrative Behavior, Simon ( 1950 ) menyatakan 

bahwa pada hakikatnya organisasi yaitu  pola komunikasi 

daan hubungan kompleks antar manusia. Secara tepatnya 

definisi simon (1950: xvi) berbunyi sebagai berikut: Organisasi 

yaitu  pola komunikasi dan hubungan–hubungan lain yang 

kompleks dalam suatu kelompok manusia. Dijelaskan bahwa 

pola komunikasi ini memberi  kepada anggota–anggota 

kelompok banyak informasi, serta beberapa asumsi, sasaran, 

dan sikap yang masuk ke dalam putusan. Sebagai sebuah 

sistem, organisasi yaitu  pembuat keputusan terpusat yang 

berkerja melalui komunikasi. 

Secara harfiah, Simon (1950: 154) menyatakan  bagaimana 

proses keputusan berlangsung dan bagaimana keputusan 

dapat mempengaruhi perilaku anggota–anggota organisasi 

sepenuhnya tergantung pada komunikasi.”Dengan 

demikian, komunikasi yaitu  sumber dari seluruh perilaku 

administratif”. 

Keputusan menurut Simon tidak dibuat berdasar  

model economic man melainkan administrative man, yakni 

orang yang membuat keputusan berdasar  bounded 

rationality. Artinya, untuk membuat keputusan, pimpinan 

tidak mengumpulkan semua informasi sampai lengkap, 

melainkan dengan limited information–processing capacity. 

Administrative man membuat keputusan secara rasional, 

namun keputusan itu dibuat berdasar  persepsi–persepsi 

selektif. Proses keputusan administrative man yaitu  proses 

satisficing yang dibuat berdasar  informasi terbatas. (Berkat 

model administrative man ini, Herbert Simon terpilih sebagai 

pemenang Hadiah Nobel 1978 untuk bidang Ilmu Ekonomi).

         

Ungkapan pola komunikasi berarti jaringan komunikasi 

yang relatif mapan di antara orang–orang berbeda peran. 

Pola komunikasi ini  menjadi rumit sebab  juga terkait 

dengan pola–pola hubungan lain, khususnya hubungan 

kekuasaan. Dari definisi yang berwatak sangat komunikasi di 

atas, Simon menyimpulkan bahwa eksistensi organisasi secara 

mutlak ditentukan oleh komunikasi: without communication 

there can be no organization.  Artinya tanpa 

komunikasi mustahil ada organisasi.

William G. Scott, salah seorang penulis buku teori 

organisasi kenamaan sesudah Simon, akhirnya mengukuhkan 

pandangan bahwa cara memahami organisasi paling tepat 

yaitu  melalui pendekatan kesiteman. Dalam artikelnya 

yang berjudul “ Organization Theory: An Overview and 

Appraisal,” Scott (1961: 18) menyatakan bahwa the only 

meaningful way to study organization ia as a system. Artinya, 

satu–satunya cara benar untuk mempelajari organisasi yaitu  

sebagai sebuah sistem.’ Dengan pandangan itu, Scott (1962: 

62) dalam buku teori yang berjudul Organization theory 

mengembangkan definisi yang berbunyi sebagai berikut: 

Organisasi formal yaitu  sebuah sistem kegiatan–kegiatan 

terkoordinasi dari kelompok orang yang berkerja sama ke 

sarah suatu tujuan bersama di bawah sebuah kewenangan 

dan kepemimpinan.

Dengan definisi di atas, dapat dikatakan Scott berusaha 

secara eksplisit melengkapi definisi Barnard yang tersohor 

pendek itu. Pertama–tama, Scott tetap mempertahankan 

konsep Benard bahwa organisasi yaitu  sistem kegiatan–

kegiatan, namun ia mengganti ungkapan dari dua orang 

atau lebih dengan sekelompok orang yang diartikan sebagai 

lebih dari dua orang. Kemudian Scott mencoba menjabarkan 

pengertian yang implisit dikoordinasi dengan sadar (Barnard) 

menjadi’ (kegiatan– kegiatan) terkoodinasi ke arah tujuan         

bersama di bawah kewenangan dan kepemimpinan’. Tujuan 

bersama merupakan penjabaran dari ungkapan dengan sadar 

(Barnard). Secara konseptual kewenagan dan kepemimpinan 

yaitu  penjabaran dari implikasi makna hierarki dan 

pengarahan yang implisit dalam kata dikoordinasi (Barnard). 

Secara konseptual kewenangan berarti kekuasaan untuk 

membuat keputusan yang membimbing dan mengarahkan 

tindakan – tindakan orang lain . Kewenangan 

yaitu  kekuasaan yang melekat pada kedudukan hierarkis. 

Kepemimpinan dipakai  untuk menonjolkan tanggung 

jawab untuk pengarahan dan koordinasi karyawan demi 

pencapaian tujuan organisasi. 

Akhirnya, Scott memakai  istilah organisasi formal 

yang juga dipakai  oleh Barnard dalam penjelasan definisi, 

sebagai lawan istilah informal organization yang berarti 

interaksi sosial antara karyawan yang tidak terkait dengan 

tugas maupun kedudukan hierarkis.

Gerald M. Goldhaber ( 1993; aseli 1974 ) menegaskan 

bahwa konsep organisasi sebagai sebuah sistem memiliki  

implikasi bahwa organisasi bekerja sebagai sistem terbuka. 

Lebih tepatnya, organisasi yaitu  sistem sosial yang dinamis, 

Goldhaber memakai  istilah itu dalam buku teks 

berjudul Organizational Communication dengan mengacu 

pada buku komprehensif berjudul The Social Psychology 

of Organization karya Daniel Katz dan Robert Kahn (1978; 

asli 1966). Dalam buku teks terkenal ini , Goldhaber 

(1993; 11) mengajukan definisi yang berbunyi sebagai berikut: 

Organisasi yaitu  sebuah sistem sosial yang hidup dan 

terbuka yang dihubungkan oleh arus informasi antar orang 

dan di antara orang–orang yang menduduki berbagai peran 

dan posisi yang berbeda–beda.

Dengan menggunkan istilah sistem sosial yang hidup 

dan terbuka bukan sistem biologis, Goldhaber hendak 

         

menegaskan bahwa pada dasarnya kita hidup di sebuah 

dunia manusia (a world of people) yang dinamis sebagaimana 

telah dijelaskan oleh Katz dan Khan ( 1978; 428): Organisasi 

yaitu  sebuah sistem sosial yang hidup dan terbuka sebab  

terbentuk melalui hubungan informasi antara orang–orang 

yang memiliki  peran– peran yang berbeda–beda. Kegiatan 

interaksi dengan arus informasi ini  terhenti sebab  

hampir semua tindakan kita pada orang lain dan tindakan 

mereka terhadap kita yaitu  tindakan komunikasi. (Katz 

dan Khan, 1978: 428). Lagi pula, sebagai sistem sosial yang 

hidup dan terbuka, setiap organisasi harus menyerap dan 

memakai  informasi untuk menangani ketidakpastian 

lingkungan. Dengan demikian, organisasi dapat melestarikan 

hubungan timbal balik dengan lingkungan.

Unsur – Unsur Pengertian Organisasi

Dari definisi–definisi yang dikembangkan oleh para 

ilmuwan ternama di atas, kita dapat menemukan lima unsur 

poko dalam konsep organisasi yang penting untuk dicatat, 

yakni sistem, kegiatan–kegiatan berbeda, koordinasi, tujuan 

bersama, dan kewenangan dan kepemimpinan. Kelima unsur 

asasi dari organisasi itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Organisasi merupakan sebuah sistem (kegiatan–kegiatan 

yang dikoodinasikan): Pengertian sistem mununjukkan 

bahwa setiap organisasi terdiri dari bagian–bagian 

yang memiliki  hubungan interdependen hubungan 

timbal balik dan saling mempengaruhi dan terintegritas 

terpusat. Bagian–bagian organisasi yang dimaksud 

yaitu  kegiatan–kegiatan atau fungsi–fungsi berbeda–

beda yang dilaksanakan anggota organisasi. Organisasi 

(formal) muncul, bila kegiatan–kegiatan berbeda yang 

saling berhubungan secara interdependen berlangsung 

lama. Sebagai sebuah sistem, organisasi selain memiliki  

bagian–bagian atau subsistem–subsistem yang saling        

berhubungan secara interdependen dan terpusat, juga 

memiliki hubungan interdependen dengan lingkungan 

yang menjadi supra sistemnya.

2. Organisasi terdiri dari kegiatan–kegiatan (sekelompok 

orang). Organisasi sebagai sebuah sitem terdiri dari 

kegiatan–kegiatan berbeda yang saling berhubungan 

secara interdependen dan terpusat. Jadi organisasi bukan 

kumpulan orang melainkan gabungan kegiatan – kegiatan 

orang–orang yang berja sama. Dalam bagan organisasi 

(organigram) orang–orang mengisi kotak – kotak posisi 

dalam  struktur hierarkis, sedang kegiatan – kegiatan 

yaitu  interaksi dinamis yang menjadi kehidupan nyata 

organisasi yang dinamis. Tanpa kegiatan yang saling 

berhubungan secara interdependen d


Posting Komentar

0 Komentar