an terpusat itu
tidak mungkin ada organisasi.
3. Organisasi merupakan sistem kerja sama (yang terarah
pada tujuan bersama). Kerja sama pada dasarnya
kegiatan–kegiatan berbeda yang terintegrasi dan terarah.
Orang hanya mau berkerja sama dengan orang lain, jika
tidak dapat mencapai tujuan lewat kerja secra individual
seorang diri. Setiap kali orang–orang membangun kerja
sama, mereka tentu hendak mencapai tujuan bersama
yang sudah disepakati sebelumnya.
4. Organisasi murupakan sistem kegiatan–kegiatan
sejumlah orang yang berkerja sama yang terkoordinasi.
Istilah koordinasi berarti komunikasi pamaduan dan
pengarahan kegiatan–kegiatan kerja sama. Kerja
sama merupakan kegiatan–kegiatan yang terintegrasi
dan terarah pada tujuan bersama. Koordinasi yaitu
komunikasi efektif yang dapat menjadikan kegiatan–
kegiatan yang berbeda dan saling berhunbungan
itu terintegrasi dan terarah ke tujuan bersama. Bila
koordinasi gagal, kegiatan – kegiatan tercerai berai dan
berjalan dengan arah yang berbeda bahkan mungkin
saling berlawanan.
5. Organisasi yaitu kegiatan–kegiatan kerja sama
yang terkoodinasi di bawah suatu kewenangan dan
kepemimpinan. Kewenangan dan kepemimpinan
bearti kekuasan memberi perintah dan pengarahan,
yang melekat pada kedudukan hierarkis. Hierarki
organisasi terbentuk berdasar hubungan – hubungan
kewenangan dan tanggung jawab dalam pembagian kerja
dan pencapain tujuan, yang berstruktur piramida. Setiap
lapisan kedudukan struktural di lapisan atas memiliki
kewenangan dan tanggung jawab atas segala pelaksanaan
kegiatan – kegiatan di lapisan bawahnya langsung. Istilah
kepemimpinan dipakai untuk menekankan bahwa
kewenangan dan tanggung jawab untuk mengarahkan
semua kegiatan demi pencapaian tujuan organisasi.
Kepemimpinan menjamin agar kegiatan – kegiatan tidak
menyimpang dari arah tujuan.
Selain unsur–unsur di atas, konsep organisasi
diasumsikan memiliki ikatan tempat dan waktu. Lagi
pula eksistensi organisasi sebagai sistem terbuka memang
memiliki hubungan saling ketergantungan dengan
kekuatan–kekuatan dalam warga . Tanpa ikatan dengan
lingkungan, organisasi kehilangan legitimasi. Organisasi
tidak hanya menyampaikan produk dan pengaruh melainkan
juga menyerap dan menerima energi dan pengaruh dari
barbagai sumber daya lingkungan yang merupakan pilar–
pilar warga , yaitu sumber daya ekonomi, sosial, politik,
hukum, teknologi, dan moral etika.
Organisasi didirikan untuk memenuhi kebutuhan dan
memperjuangkan kepentingan jangka panjang ke masa
depan. Maka, organisasi yang sukses dapat bertahan hidup
dan relevan bagi kehidupan warga dalam jangka waktu
panjang, sehingga organisasi dapat mencapai umur panjang,
lebih panjang dari umur para pendirinnya. Jika hanya
sepakat tentang kebutuhan sementara, orang–orang tentu
tidak membentuk organisasi formal melainkan hanya bekerja
bersama dalam bentuk organisasi informal atau panitia yang
dapat dibubarkan sesudah tujuannya selesai. Aspek rentang
waktu ini sering ditekankan dalam beberapa studi penting
sampai tahun 1960–an. .
Buku Handbook ilmu perilaku yang berjudul Human
Behavior : An Inventory of Scientific findings, misalnya,
Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964) menyusun daftar
unsur asasi organisasi yang meliputi formalitas (formality),
hierarki ( hierarchy), ukuran dan kompleksitas ( size and/or
complexity), dan rentang waktu (duration). Namun umumnya
di dalam buku–buku teori dan buku acuan, dewasa ini
dimensi waktu dan dimensi tempat hanya diasumsikan saja.
Dengan memperhatikan unsur – unsur yang telah diuraikan
di atas, kita mengembangkan definisi operasional sederhana
yang berbunyi sebagai berikut : Organisasi yaitu sistem
kerja sama dari sejumlah orang yang dikoodinasi dengan
kewenangan hierarkis untuk mencapai tujuan bersama.
Dari definisi oprasional di atas, kita dapat menyatakan
bahwa organisasi merupakan sebuah sistem kerja sama yang
hidup demi pencapian tujuan yang telah ditentukan. Dalam
organisasi ada unsur – unsur asasi internal yang saling
terkait secara interdependen.
Hubungan kerja sama yang interdependen itu
dimungkinkan oleh adanya koordinasi struktural hierarkis.
Kesepakatan tentang tujuan bersama dan kerja sama dapat
tercapai melalui proses interaksi yang menghasilkan
saling pengertian. Akhirnya, koordinasi yang efektif untuk
menjamin kerja sama ke arah tujuan bersama itu dipengaruhi
oleh struktur hierarkis kekuasaan.
Dari pemahaman tentang definisi organisasi yang telah
dikembangkan oleh para ilmuwan di atas dan penjelasan
yang menyertainya, dapat disimpulkan bahwa organisasi
terbentuk oleh hubungan interdependen dengan lingkungan.
Singkat kata, eksistensi organisasi tidak dapat terlepas dari
hubungan dengan komunikasi. Hubungan ini dibahas
dibagian berikutnya di bawah.(***)
KOMUNIKASI ORGANISASI
PENDIDIKAN
Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie,
Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata
pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan
yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari
dua kata yaitu Paedosâ (anak) dan Agogeâ yang berarti saya
membimbing, memimpin anak.
sedang paedagogos ialah seorang pelayan
atau bujang (pemuda) pada zaman Yunani Kuno yang
pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa)
ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula
berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian
sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni
paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru). Dari sudut
pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan
seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju
ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar
dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Ki Hajar
Dewantara (1889-1959) menjelaskan tentang pengertian
pendidikan yaitu, pendidikan umumnya berarti daya upaya
untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin)
pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam
dan warga nya.
Dengan kata lain, Pendidikan dapat diartikan sebagai
usaha orang dewasa dalam mendewasakan peserta didiknya
agar menjadi dewasa dan menjadi manusia yang seutuhnya.
Ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan yaitu upaya
dan usaha untuk memanusiakan manusia.
Pendidikan secara maknawi dapat diartikan sebagai
usaha sadar untuk membina kepribadian anak didik sesuai
dengan nilai-nilai dalam warga dan kebudayaannya.
Dalam belahan dunia manapun, peradaban suatu
kelompok warga , sudah hampir dipastikan telah
berlangsung suatu proses yang disebut pendidikan. Hanya
saja, bentuk, cara dan metode pendidikan yang dijalankan
berbeda-beda.
Itulah sebabnya ada yang berpendapat bahwa pendidikan
itu telah ada dalam sepanjang sejarah peradaban manusia
di dunia. Pendidikan menurut pengertian Romawi sebagai
“educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan
merealisasikan potensi anak yang dilahirkan di muka bumi.
Sementara itu menurut Herbert, pendidikan merupakan
pembentukan peserta didik kepada yang diinginkan
sipendidik yang diistilahkan dengan Educere. Dalam kamus
besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar
“didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan
(ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Dalam tulisannya di Kompasiana.com, Nurul Baroroh
mengulas tentang pengertian pendidikan sebagai proses
pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik.
Dalam upaya perubahan tingkah laku dari tidak tahu
menjadi tahu, pendidikan berusaha keras demi mencapai
tujuan yang diharapkan, tidak lain yaitu mengharapkan
munculnya manusia atau tumbuhnya manusia yang mapan
dari segi mental dan spiritual dan berkembangnya segi
rohani serta jasmani sehingga menjadi manusia paripurna.
Dalam memberi bimbingan atau pertolongan yang
diberikan dengan cuma-cuma terhadap orang yang benar-
benar memerlukan , pendidikan tidak diberikan begitu saja
tetapi pendidikan memiliki komponen-komponen
tertentu seperti adanya tujuan, cara untuk menyampaikan
kandungan itu.
Nurul Baroroh dalam tulisannya juga mengulas
pengertian pendidikan dalam dunia Islam yang pada
umumnya mengacu pada kata Al-Tarbiyah, Al-Ta’dib, Al-
Ta’lim. Dari ketiga istilah ini yang populer dipakai
dalam praktek pendidikan Islam ialah Al-Tarbiyah,
sedang Al-Ta’lim dan Al-Ta’dib jarang sekali dipakai .
Padahal kedua istilah ini telah dipakai sejak awal
pertumbuhan pendidikan Islam.
Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of
value dan transfer of culture and transfer of religius. Hakikat
proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah
perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai
yang disepakati berdasar agama, filsafat, ideologi, politik,
ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan.
Menurut pandangan Paula Freire pendidikan yaitu
proses pengkaderan dengan hakikat tujuannya yaitu
pembebasan. Hakikat pendidikan yaitu kemampuan untuk
mendidik diri sendiri. Dalam konteks ajaran Islam hakikat
pendidikan yaitu mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada
manusia (fitrah) dengan bimbingan Alquran dan as-Sunnah
(Hadits) sehingga menjadi manusia berakhlakul karimah
(insan kamil) Dengan demikian hakikat pendidikan yaitu
sangat ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan
dari pendidikan itu sendiri. Dengan begitu, maka hakikat
pendidikan dapat dirumuskan: 1). Pendidikan merupakan
proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan
antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidik; 2). Pendidikan merupakan usaha penyiapan
subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami
perubahan yang semakin pesat; Pendidikan meningkatkan
kualitas kehidupan pribadi dan warga ; 3). Pendidikan
berlangsung seumur hidup; Pendidikan merupakan kiat
dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.
Selain itu hakekat pendidikan juga mengarah pada azas-
azas seperti : 1). Azas/pendekatan manusiawi/humanistik
serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta
utuh dan bulat (aspek fisik-nonfisik: emosi intelektual;
kognitif-afektif psikomotor), sedang pendekatan
humanistik yaitu pendekatan dimana anak didik dihargai
sebagai insan manusia yang potensial, (memiliki
kemampuan kelebihan kekurangannya dll), diperlukan
dengan penuh kasih sayang-hangat-kekeluargaan-
terbuka-objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana
kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga. 2).
Azas kemerdekaan; yakni memberi kemerdekaan kepada
anak didik, namun bukan kebebasan yang leluasa, terbuka,
melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam,
baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota
warga . 3). Azas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia
itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam,
tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang
diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang
secara wajar menurut kodratnya. 4). Azas kebudayaan;
yakni berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti
kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman.
Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri
tetap menjadi acauan utama (jati diri). 5). Azas kebangsaan
yaitu, membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam
suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai
bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain. 6).
Azas kemanusiaan yaitu, mendidik anak menjadi manusia
yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk
Tuhan.
Dari uraian di atas, maka hakikat pendidikan pada
prinsipnya yaitu mendidik manusia menjadi manusia
sehinggah hakikat atau inti dari pendidikan tidak akan
terlepas dari hakekat manusia, sebab urusan utama
pendidikan yaitu manusia. Saat ini warga telah
memasuki tahap industrialisasi yang relatif berkecukupan,
modern, dan aktif melalui berbagai jenis organisasi. Artinya
warga kita pada dasarnya kini telah terbiasa dari ikatan
tradisi warga pra–industri yang agraris yang hanya
mengandalkan tenaga fisik manusia dan hewan, hidup pada
taraf subsistem, dan tertutup sebab terisolasi secara fisik
geografis maupun secara psikis dari pemikiran kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan dengan pengalaman
warga – warga industri yang muncul sebelumnya
di dunia, warga indonesia kini terus berkembang
dan maju menuju tahapan warga pasca–industri
(postindustrial society) yang makmur, terbuka, dan mampu
menjadikan informasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi
sebagai tulang punggung dalam keseluruhan tata kehidupan
sosial, ekonomi, dan politik warga , baik pada tataran
nasional maupun internasional ( Bell, 1973 ). Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dipakai
untuk memaksimalkan produktivitas dan memperluas
jaringan transportasi, namun juga untuk globalisasi jaringan
informasi dari komunikasi instan (real time) lintas negara,
yang meningkatkan dinamika semua bentuk jaringan
komunikasi yang ada : jaringan sosial, media massa – baik
cetak maupun elektronik, terutama TV–jaringan kelembagaan
publik maupun swasta, dan jaringan – jaringan cyber (virtual
network).
Sebagai masyarkat industri baru, warga kita kini
juga menunjukan ciri – ciri khas warga modern, seperti
yang dilakukan oleh Amitai Etzioni ( 1964: 1 – 2 ) dalam buku
Modern Organizations, sebagai berikut:
Berlainan dengan masyarkat di masa lampau, warga
modern dewasa ini lebih mengutamakan rasionalitas,
efektifitasn dan efisensi sebagai nilai – nilai moral yang tinggi.
Peradaban modern pada hakikatnya sangat tergantung pada
organisasi – organisasi sebagai bentuk pengelompokan sosial
yang paling rasional dan efisien. Berkat kemampuannya
menyesuaikan diri dalam upaya pencapain tujuan
sebagaimana diharapkan, organisasi mampu melayani serta
memenuhi berbagai kebutuhan dan kepentingan warga
dan warganya secara lebih efisien bila dibandingkan dengan
satuan – satuan kelompok manusia lainnya yang lebih kecil
dan alamiah, seperti keluarga, kelompok pertemanan, dan
lingkungan sosial lainnya.
Artinya cara hidup warga Indonesia dewasa ini
pada dasarnya yaitu rasional dan aktif (active society), yang
sebagian besar warganya memiliki mobilitas sosial dan
geografis yang cukup tinggi dan terbuka terhadap aplikasi
ilmu pengetahuan dan teknologi pada kehidupan sosial,
ekonomi, dan politik. Sebagian besar warga warga
indonesia telah mampu melibatkan diri dalam beragam
kerjasama di dalam organisasi dan kelompok sosial yang
heterogen demi peningkatan kualitas hidup bersama. Lebih
khusus lagi, sebagai warga warga modern yang serba
organisasi (organizational society) kita mampu memenuhi
berbagai kebutuhan, jika mau secara aktif berurusan dengan
beragam organisasi yang menghasilkan produk maupun
jasa–baik sebagai anggota organisasi ataupun sebagai
pelanggan. . Oleh sebab itu,
demi memperoleh manfaat yang maksimal, kita semua perlu
belajar tentang organisasi, bagaimana cara kerjanya, dan
adakah cara memengaruhi untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensinya.
Dalam bab ini kita membahas persoalan–persoalan
penting tentang organisasi: apa pengertian dan ruang
lingkupnya, bagaimana prinsip–prinsip kerjanya, apa faktor–
faktor pengaruhnya, dan bagaimana hubungannya dengan
komunikasi.
Dari uraian di atas, maka komunikasi secara sederhana,
dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan melelui/tanpa media yang
memicu akibat tertentu. Dalam realitas kehidupan
ummat manusia semenjak dulu kala, kegiatan komunikasi
pada hakekatnya merupakan suatu aktifitas pertukaran ide
atau gagasan untuk menyampaikan ide atau pesan yang
mengandung arti dan makna tertentu dari satu pihak ke
pihak lain dengan tujuan menghasilkan suatu kesepahaman,
kesepakatan, persepsi dan perspektif yang sama.
Thomas M .Scheihwadel (dalam Mulyana, Dedi 2004)
mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama
untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk
membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita dan
untuk memberi peran kepada orang lain untuk merasa,
berfikir, dan berperilaku seperti yang diinginkan.
Dari pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa
komunikasi sebagai wahana atau media untuk membangun
interaksi antar individu dengan individu yang lain maupun
interaksi dari pihak lain ke pihak lainnya untuk suatu tujuan
tertentu yang diharapkan.
Terkait dengan hal itu, maka dalam aspek komunikasi
ada komponen-komponen penting terjadinya
komunikasi timbal balik, yakni : 1). Komunikator, yaitu
orang yang menyampaikan pesan. 2). Pesan atau informasi
maupun pernyataan, ide dan gagasan yang disampaikan. 3).
Komunikan, yaitu orang yang menerima pesan, informasi
maupun ide dan gagasan. 4). Media, yaitu, sarana atau
saluran yang dipakai dalam berkomunikasi. 5) Efek,
yakni akibat, dampak, output atau hasil dari adanya jalinan
komunikasi dengan orang lain maupun dengan pihak lain.
Komunikasi akan terjalin jika antar individu saling
memberi makna pada sikap dan perilaku masing-masing.
Jadi ekspresi dalam bahasa tubuh dan panca indera memiliki
potensi komunikasi, baik dari ekspresi wajah, bahasa tubuh
apalagi dalam aspek pengucapan atau percakapan.
Dari sini dapat diperoleh kesimpulan bahwa dari
semua disiplin ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang
berhubungan dengan komunikasi merupakan yang paling
penting dan berguna bagi kehidupan. Melalui pengetahuan
komunikasi diantaranya secara intrapribadi seseorang
dapat berbicara dengan diri sendiri, mengenal diri sendiri,
mengevaluasi diri dan mempertimbangkan keputusan-
keputusan yang akan diambil serta menyiapkan pesan-pesan
yang akan disampaikan kepada orang lain maupun pihak
lain
Selain itu, komunikasi merupakan wahana bagi siapapun
untuk berinteraksi dengan orang lain atau pihak lain, saling
mengenal dan mengungkapkan diri kepada orang lain.
Apakah kepada atasan, teman kerja, kepada keluarga, kekasih,
atau siapapun yang memiliki hubungan dan interaksi dengan
diri kita. Melalui komunikasi pula siapapun dapat menjalin
hubungan dalam memelihara,membina dan mengembangkan
hubungan interaktif. Pendek kata, komunikasi menjadi
wahana yang sangat penting terjalinnya hubungan sosial
yang semakin mengukuhkan bahwa manusia yaitu mahluk
sosial yang saling memerlukan .
Terkait pengertian komunikasi, sudah begitu banyak para
ahli mengkaji dan mendefinisikan sesuai dengan perspektif
para ahli itu masing-masing yang sudah banyak menjadi
rujukan bagi warga umum dan warga ilmiah.
Dari banyak pengertian ini jika ditelaah dan
dikaji secara mendalam pada dasarnya dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa komunikasi merupakan suatu tindakan
untuk mengirim dan dan menerima pesan yang terjadi sesuai
substansi yang dibicarakan atau dikomunikasikan.
Komunikasi dengan begitu dapat dimaknai sebagai
suatu proses yang menjelaskan 5 W + 1 H yakni Who, Why,
What, When, Where dan How. Jika ditinjau dari prosesnya
bahwa komunikasi merupakan suatu proses sosial untuk
mengkomunikasikan, menyampaikan atau memberi isyarat
tentang perasaan atau informasi tertentu, baik berupa ide
atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang
lain yang tengah berinteraksi dengan kita.
Komunikasi yaitu inti semua hubungan sosial,
jika seseorang melakukan hubungan komunikasi yang
tetap, maka sistem komunikasi yang mereka lakukan akan
menentukan apakah sistem ini dapat mempererat
atau mempersatukan mereka, mengurangi ketegangan atau
melenyapkan persengketaan jika muncul.
Dalam dunia akademik, ada berbagai macam
definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli untuk
memberi batasan terhadap apa yang dimaksud dengan
komunikasi.
Hovland, Janis dan Kelley, Hovland, jenis dan Kelley
seperti yang dikemukakan oleh forsdale (1981) yaitu ahli
sosiologi Amerika, mengatakan, komunikasi yaitu proses
individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk
verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi
ini mereka mengganggap bahwa komunikasi merupakan
suatu proses.
Menurut Louis Forsdale (1981), ahli komunikasi dan
pendidikan, mengatakan bahwa komunikasi yaitu suatu
proses memberi signal menurut aturan tertentu, sehingga
dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan
diubah. Pada definisi ini komunikasi juga dipandang sebagai
suatu proses.
Brent D. Ruben, Brent D. Ruben (1988) memberi
definisi mengenai komunikasi manusia yang lebih
komprehensif sebagai berikut : komunikasi manusia
yaitu suatu proses melalui individu dalam hubungannya,
dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam warga
menciptakan, mengirimkan dan memakai informasi
untuk mengkoordinasi lingkungannya dengan orang lain.
Pada definisi ini komunikasi juga dikatakan sebagai
suatu proses yaitu suatu aktivitas yang memiliki beberapa
tahap yang terpisah satu sama lain namun berhubungan.
Misalnya kalau kita ingin berpidato di depan umum sebelum
berpidato ini kita telah melakukan serentetan sub-
aktivitas seperti membuat perencanaan, menentukan tema
pidato, mengumpulkan bahan, melatih diri di rumah, baru
kemudian tampil berpidato di depan umum.
William J Seller Seiler (1988) memberi definisi
komunikasi yang lebih bersifat universal. Dia mengatakan
komunikasi yaitu proses dengan mana symbol verbal dan
nonverbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti. Dari definisi
ini proses komunikasi sangat sederhana, yaitu megirim
dan menerima pesan namun sesungguhnya komunikasi
yaitu suatu fenomena yang kompleks yang sulit dipahami
tanpa mengetahui prinsip dan komponen yag penting dari
komunikasi ini .
Menurut Hardjana, dalam sudut pandang pertukaran
makna, komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses
penyampaian makna dalam bentuk gagasan atau informasi
dari seseorang kepada orang lain melalui media tertentu.
Sementara Onong Uchajana Effendi merumuskan
komunikasi sebagai proses pernyataan manusia. Hal yang
dinyatakan itu yaitu pikiran atau perasaan seseorang
kepada orang lain dengan memakai bahasa sebagai alat
penyalurnya. Dalam bahasa komunikasi, pernyataan disebut
sebagai pesan (message). Orang yang menyampaikan pesan
disebut komunikator (communicator). sedang , orang yang
menerima pernyataan disebut komunikan (communicatee).
Tegasnya komunikasi berarti proses penyampaian pesan
oleh komunikator kepada komunikan.
Selain itu, Muh Nurul Huda, dalam makalahnya tentang
Komunikasi Pendidikan menjelaskan, terjadinya komunikasi
yaitu sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations).
warga paling sedikit ter diri dari dua orang yang saling
berhubungan satu sama lain yang, sebab berhubungan,
memicu interaksi sosial (social interaction). Terjadinya
interaksi sosial disebabkan interkomunikasi (intercommuni-
cation).
Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu
yang di nyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi
berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara
mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak
mengerti, komunikasi tidak berlangsung secara komunikatif.
Komunikasi berarti proses penyampaian suatu
pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari pengertian
itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di
mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi,
yang terlibat dalam komunikasi itu yaitu manusia. sebab
itu, komunikasi yang dimaksudkan di sini yaitu komunikasi
manusia atau dalam bahasa asing human communication,
yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau social
comunication.
Jadi ditinjau dari segi penyampai pernyataan, komunikasi
bersifat informatif dan persuasif. Komunikasi persuasif
(persuasive communication) lebih sulit daripada komunikasi
informatif (informative communicattion), sebab memang tidak
mudah untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku
seseorang atau sejumlah orang.
Komunikasi Pendidikan
Secara sederhana, komunikasi pendidikan dapat diartikan
sebagai komunikasi yang terjadi dalam suasana pendidikan.
Dengan demikian, komunikasi pendidikan yaitu proses
perjalanan pesan atau informasi yang merambah bidang atau
peristiwa-peristiwa pendidikan. Proses pembelajaran pada
hakikatnya yaitu proses kounikasi, penyampaian pesan dari
pengantar ke penerima. Pesan yang disampaikan berupa isi/
ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi,
baik verbal maupun non-verbal.
Istilah Komunikasi Pendidikan selama ini, kalah pamor
dengan misalnya istilah komunikasi politik, komunikasi
bisnis, komunikasi pemasaran, komunikasi organisasi,
komunikasi antarbudaya dan lain-lain. Padahal dalam
ranah yang sesungguhnya komunikasi pendidikan memiliki
peran penting dan strategis baik dalam konteks kajian di
ranah keilmuan komunikasi dan keilmuan pendidikan
maupun sebagai skill praktis yang dapat menunjang proses
pendidikan itu sendiri.
Paling tidak ada 2 pertimbangan mendasar yang yang
patut diperhatikan untuk menjawab mengapa komunikasi
pendidikan itu penting. Pertama, dunia pendidikan
sangat memerlukan sebuah pemahaman yang holistik,
komprehensif, mendasar dan sistematis tentang pemanfaatan
komunikasi dalam implementasi kegiatan belajar-mengajar.
Tanpa ruh komunikasi yang baik, maka pendidikan akan
kehilangan cara dan orientasi dalam membangun kualitas
output yang diharapkan. Dalam konteks ini, komunikasi
pendidikan bisa disejajarkan dengan metodologi pengajaran,
manajemen pendidikan dan lain-lain.
Dalam interaksi sehari-hari di dunia pendidikan
menunjukkan bahwa sebagian besar aktifitas guru maupun
dosen di ruang kelas yaitu kegiatan komunikasi baik verbal
maupun non verbal. Oleh sebab nya, hasil buruk penerimaan
materi oleh para siswa maupun mahasiswa belum tentu
sebab guru atau dosennya yang salah kaprah, bisa jadi justru
sebab metode komunikasi mereka yang sangat buruk di
depan anak-anak didik. Kedua, komunikasi pendidikan akan
menunjukkan arah dari proses konstruksi sosial atas realitas
pendidikan. Sebagaimana dikatakan teoritisi sosiologi
pengetahuan Peter L Berger dan Thomas Luckman dalam
social construction of reality, yang mamahami bahwa realitas
itu dikonstruksi oleh makna-makna yang dipertukarkan
dalam tindakan dan interaksi individu-individu.
Komunikasi merupakan suatu kebutuhan dalam
kehidupan manusia, seperti yang dikemukakan oleh
Waltzlawick, Beavin, dan Jackson “You cannot not
communicate” yang artinya ”anda tidak dapat tidak
berkomunikasi” (Mulyana 2000:54). sedang makna
komunikasi pendidikan secara sederhana yaitu komunikasi
yang terjadi dalam suasana pendidikan. Di sini komunikasi
tidak lagi bebas namun dikendalikan dan dikondisikan untuk
tujuan-tujuan pendidikan.
berdasar uraian diatas, maka komunikasi pendidikan
yaitu suatu tindakan yang memberi kontribusi yang
sangat penting dalam pemahaman dan praktik interaksi
serta tindakan seluruh individu yang terlibat dalam dunia
pendidikan. Komunikasi Organisasi pendidikan merupakan
sebuah interaksi yang terjadi di antara unit-unit komunikasi
dari suatu organisasi pendidikan. sebab pada dasarnya,
suatu organisasi pendidikan merupakan bagian dari unit-unit
komunikasi yang memiliki hubungan hierarkis antara yang
satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.
Komunikasi dalam organisasi pendidikan dapat
berlangsung kapan saja yang melibatkan orang-orang yang
berada dalam organisasi itu, baik atasan, bawahan atau unsur
pimpinan dan unsur bawahan, antara guru dan siswa di
sekolah, maupun antara siswa dengan siswa lainnya, maupun
antara guru dan orang tua murid dan lain sebagainya.
Dari sini dapat diperoleh gambaran bahwa dalam sebuah
organisasi kependidikan, komunikasi dapat melalui sebuah
proses, yakni :
A. Komunikasi Internal
Komunikasi internal yaitu komunikasi yang terjalin
antara Kepala Sekolah dan guru yang khas dan disertai
dengan pertukaran gagasan secara horizontal dan
vertikal di lingkungan sekolah. Komunikasi internal ini
memiliki 2 dimensi penting yakni : 1). Dimensi vertikal,
yaitu komunikasi dari pimpinan, Kepala Sekolah, Rektor
dan Direktur lembaga pendidikan kepada guru, dosen
dan staf dengan cara timbal balik. 2). Dimensi horizontal
yaitu komunikasi mendatar antara guru, dosen dan staf
dengan anggota staf yang berlangsung tidak formal. 3).
Dimensi diagonal yaitu komuniasi yang terjalin antara
unsur pimpinan dalam sebuah organisasi pendidikan.
Tiga dimensi di atas, dapat dikelompokkan lagi
ke dalam unit-unit yang ada dalam organisasi,
semisal di lembaga pendidikan tinggi ada unit-unit
organisasi seperti fakultas dan jurusan yang masing-
masing dalam setiap unit itu terjadi pertukaran ide,
gagasan dan informasi lainnya yang terkait dengan
tugas dan tanggung jawab maupun hal-hal lain yang
dibutuhkan.
B. Komunikasi Eksternal
Komunikasi antara pimpinan organisasi pendidikan
dengan khalayak di luar organisasi semisal dengan orang
tua siswa, Komite Sekolah, Kepala Desa atau Kepala
kelurahan di mana sekolah berada dan pihak lain yang
berada di luar komponen sekolah.
Dalam dunia pendidikan ada unsur-unsur
komunikasi yang dapat dibagi ke dalam 3 unsur penting,
yaitu, 1). Komunikator, komunikan
Unsur-unsur pendidikan itupun melibatkan
komunikasi yang terdiri dari :
a. Subjek yang dibimbing (peserta didik) yang
dimana dalam proses komunikasi berperan sebagai
komunikan yang dimana menerima pesan yang
disampaikan oleh komunikator (pendidik).
b. Orang yang membimbing (pendidik) yang dimana
dalam proses komunikasi berperan sebagai
komunikator yang menyampaikan pesan/ informasi
yang biasanya berupa materi pelajaran.
c. Interaksi antara peserta didik (komunikan) dengan
pendidik (komunikator).
d. Ke arah mana bimbingan di tujukan (tujuan
pendidikan). Tujuan pendidikan juga sangat di
pengaruhi oleh apakah komunikasinya berjalan
efektif atau tidak.
Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi
komunikasi yang efektif yaitu salah satu perbuatan yang
paling sukar dan kompleks yang pernah kita lakukan. Adapun
unsur- unsur yang ada dalam proses komunikasi, yaitu :
a. Sumber pesan (komunikator) merupakan orang yang
menyampaikan pesan (message) kepada orang lain.
b. Pesan (message) merupakan informasi, isi atan materi
yang ingin disampaikan. Dalam pendidikan biasanya
berupa materi pelajaran.
c. Perantara (channel) yang dipakai dalam menyampaikan
pesan, biasanya dalam proses pembelajaran perantara
(channel) dapat berupa papan tulis, OHP dan media-
media pen didikan lainnya.
d. Penerima pesan (komunikan) merupakan orang yang
menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.
e. Umpan balik (feedback) merupakan bagian atau unsur
integral dalam komunikasi yang memungkinkan
pembicara atau sumber memonitor proses dan menilai
sukses usaha yang telah dilaksanakan dalam rangka
mencapai respon yang diharapkan dari pihak penerima.
Media Pendidikan
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar
yang dapat menyalurkan pesan sehingga membantu
mengatasi hambatan-hambatan komunikasi pendidikan.
Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan
daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis,
jarak waktu dan lain-lain dapat di bantu diatasi dengan
pemanfaatan media pendidikan. Secara umum media
pendidikan memiliki kegunaan-kegunaan sebagai berikut:
1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat
verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka),
(2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera,
(3) memicu kegairahan belajar, (4) Memungkinkan
interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan
lingkungan dan kenyataan, (5) Memungkinkan anak didik
belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya
untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pemanfaatan
media pendidikan ini diperlukan persiapan dan perencanaan
membuat program media pembelajaran.
Persiapan dan perencanaan ini dapat diutarakan
dengan langkah-langkah: 1) Merumuskan tujuan instruksional
dengan operasional dan khas, (2) Merumuskan butir-butir
materi secara terperinci yang mendukung tercapainya
tujuan, 3) Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa,
4) Mengembangkan alat pengukur keberhasilan berupa tes
atau penugasan, 5) Menulis naskah media, 6) Mengadakan
tes dan revisi.
Pengembangan Komunikasi Pendidikan
ada beberapa pertimbangan terkait dengan
pengembangan komunikasi pendidikan, antara lain: dunia
pendidikan memerlukan sebuah pemahaman yang
komprehensif, holistik, mendasar, dan sistematis tentang
pemanfaatan komunikasi dalam proses pembelajaran.
Komunikasi pendidikan akan menunjukkan arah proses
konstruksi sosial atas realitas pendidikan. Artinya komuniaksi
pendidikan bisa memberi konstribusi sangat penting
dalam pemahaman dan praktek interaksi serta tindakan
seluruh individu yang terlibat dalam dunia pendidikan.
Aspek-aspek psikologis, seperti kemampuan dan
kapasitas kecerdasan yang dimiliki manusia, minat, bakat,
motivasi, perhatian, sensasi, persepsi, ingatan, faktor lupa,
kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif, sering tidak
mendapat perhatian dalam kegiatan komunikasi pendidikan,
terutama oleh komunikator instruksional akibatnya hasil
proses komunikasinya pun menjadi tidak optimal, bahkan
tidak sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan dan tujuan
intrupsional yang telah ditetapkan alias gagal.
Model komunikasi terbuka tampaknya lebih cocok
untuk diterapkan dalam kegiatan pendidikan, termasuk
di dalamnya kegiatan intrupsional sebab sifatnya yang
lebih dapat memberi peluang untuk saling mengontrol
kesalahan-kesalahan yang ada baik bagi komunikator sendiri
maupun bagi komunikan belajar. Sifat model komunikasi
terbuka ini antara lain yaitu , idealogis, persuasif, dan
edukatif.
Dalam pandangan psikologi belajar kognitif, proses
komunikasi bisa berjalan dengan lancar dan memiliki
arti yang jelas jika antara informasi yang satu dan informasi
yang lain ada kaitan atau rangkaian yang terikat
struktur kognitif seseorang. sebab nya, belajar yaitu proses
perubahan dalam struktur kognitif orang yang bersangkutan.
Komunikator pendidikan atau komunikator intrupsional
jika ingin menjalakan fungsinya dengan sebaik-baiknya,
diisyaratkan memakai logika berfikir yang sama dengan
logika berfikir yang dimiliki oleh pihak komunikan belajar.
Dengan begitu, pelaksanaan intrupsionalnya akan berhasil
dengan baik.
Para komunikator praktisi lapangan sering tidak
memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di pusat
sumber belajar bersama yang dikelola oleh perpustakaan.
Padahal, kita tahu bahwa hasil belajar sasaran selama ini
bukanlah semata-mata sebab hasil sampaian informasi dari
guru atau dosennya, melainkan banyak menyerap hasil dan
bahan belajar dari sumber belajar lain.
Pemanfatan multimedia intrupsional. Para komunikator
pendidikan dan intrupsional belum banyak yang
memanfaatkan multimedia untuk tujuan intrupsional.
Pendekatan information literacy dan media literacy dalam
setiap praktek intrupsional. Siapapun yang bertindak sebagai
komunikator intrupsional di zaman sekarang, sangat relevan
jika memakai pendekatan yang melibatkan keterlibatan
dan pengetahuan teknologi informasi dam media.
Komunikasi pendidikan merupakan komunikasi yang
sudah merambah atau menyentuh dunia pendidikan dan
segala aspeknya dan merupakan proses komunikasi yang
dipola dan dirancang secara khusus untuk mengubah
perilaku sasaran tertentu kearah yang lebih baik.
Sasaran atau komunikan disini maksudnya yaitu
sekelompok orang, yang mana dalam proses pendidikan
di sini yaitu murid atau siswa. Sudah disepakati juga
bahwa fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif,
persuasif, dan rekreatif (entertainment)
Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi
memberi keterangan, memberi data atau fakta yang berguna
bagi segala aspek kehidupan manusia. Disamping itu,
komunikasi juga berfungsi mendidik warga , mendidik
orang, dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri.
Seseorang bisa banyak tau sebab banyak mendengar,
banyak membaca dan banyak berkomunikasi. Komunikasi
pendidikan lebih berarti sebagai proses komunikasi yang
terjadi dalam lingkungan pendidikan baik secara teoritis
maupun secara praktis. Komunikasi pendidikan yaitu proses
perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang
atau peristiwa-peristiwa pendidikan. Komunikasi ini sifatnya
tidak netral lagi, namun sudah dipola untuk memperlancar
tujuan-tujuan pendidikan. Kegiatan komunikasi yang
dilakukan oleh guru kelas kepada muridnya, dan komunikasi
yang terjadi dan dirancang oleh orang tua untuk mendidik
dan memahamkan kepada anaknya, itu semua merupakan
bentuk-bentuk komunikasi pendidikan. Salah satu cirinya
yaitu berlangsung dan dirancang denagn maksud untuk
mengubah perilaku sasaran kearah yang lebih baik di masa
yang akan datang. Komunikasi pendidikan bukan hanya
terjadi pada kasus dialog saja, namun masih banyak contoh
lainnya seperti pada setiap orang tua, baik sebagai ayah, ibu
ataupun wali, bahkan mereka yang berkedudukan sebagai
orang tua (senior, baik dalam ilmu, status sosial, maupun
dalam usia) di lingkungan warga nya, memiliki
keinginan memberi wejangan kepada yang lebih muda.
Bentuk wejangan ini bermacam-macam. Sebuah nasihatpun
berarti wejangan. Juga wejangan dalam bentuk contoh atau
teladan perbuatan termasuk perbuatan memberi semangat,
dorongan, dan hal lain yang dapat menumbuhkan motivasi
seseorang untuk berbuat sesuai dengan norma yang berlaku.
Hal ini terlihat jelas sebagai mana disarankan dalam salah
satu konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terkenal
itu, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun
karso, tutwuri handayani. Artinya, di depan dapat memberi
contoh atau teladan yang baik, baik dalam pengetahuan,
sikap maupun dalam berbuat, di tengah-tengah harus bisa
membangun kehendak atau kemauan, berinisiatif, dan
dibelakang harus bisa memberi dorongan atau semangat.
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan
belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau
tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya,
atau tujuan pendidikan tidak tercapai sebab penerapan
komunikasi yang keliru. Tujuan pendidikan secara umum
yaitu mengubah kondisi awal manusia kepada atau ke
arah yang sesuai dengan norma kehidupan yang lebih baik,
lebih berkualitas dan lebih sejahtera, baik lahir maupun batin.
Dengan demikian, komunikasi direncanakan secara sadar
untuk tujuan-tujuan pendidikan, tujuan mengubah perilaku
pada pihak sasaran, sebab itu ia memerlukan waktu. Dalam
menjalani waktu itulah terjadi proses komunikasi, proses
saling berbagi informasi antara dua pihak
Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan, dan tentu
oleh suatu tindakan komunikasi pendidikan, sesuai yang
diamanatkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional
yaitu untuk mencapai predikat manusia Indonesia yang
ber-Pancasila, meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan
YME, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti,
memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat
agar dapat menumbuhkan manusia-manusia yang dapat
membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung
jawab atas pembangunan bangsa.
Peranan Komunikasi dalam Pendidikan
Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan
belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau
tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya,
atau setidaknya tujuan pendidikan tidak tercapai sebab
penerapan komunikasi yang keliru. Jourdan (1984) pernah
berkata bahwa tidak ada perilaku-perilaku pendidikan yang
tidak berkaitan dengan komunikasi.
Itu artinya bahwa hampir semua kegiatan pendidikan
banyak dilakukan atau berkaitan dengan komunikasi. sebab
itu, kegagalan-kegagalan dalam pendidikan dan komunikasi
pun sedikit banyak sebenarnya terjadi sebab kegagalan
dalam komunikasi. Bentuk komunikasi yang cocok untuk
penyembuhan kegagalan ini yaitu model terbuka
(konsep Jourdan). Suasana terbuka antara komunikator
pendidkan dengan komunikan belajar yaitu modal utama
untuk saling mengisi kesalahan-kesalahan yang mungkin
dialami oleh masing-masing pihak dalam komunikasi ini.
Dalam model komunikasi terbuka seperti inilah ada
celah-celah yang ada untuk mengarahkan pihak komunikan
belajar kearah yang ditetapkan oleh komunikator. Dalam hal
inilah posisi guru dalam latar komunikasi merupakan faktor
utama yang memperanani bagaimana siswa mempersepsi
dirinya. sebab guru menduduki posisi sentral dalam
jaringan komunikasi di ruang kelas. Semakin banyak
komunikasi, semakin tinggi status dan kekuasaan yang
seharusnya diberikan kepadanya.
Di dalam proses belajar, atau lebih luasnya proses
pendidkan , terkandung unsur-unsur yang mendukung.
Unsur-unsur ini antara lain yaitu orang yang belajar,
pihak yang membantu menyebabkan belajar, dan faktor-
faktor lain yang memperanani kedua pihak ini dalam
melaksanakan fungsi masing-masing, termasuk pula di
dalamnya unsur komunikasi.
Disamping faktor-faktor dari unsur yang pertama, faktor
komunikasi ini bahkan sanggup menyentuh semua aspek
yang terjadi dalam proses tadi. Orang yang ingin belajar,
tanpa berkomunikasi tidak mungkin dapat melaksanakan
keinginannya. Semua memerlukan komunikasi. Bahkan
proses belajar itu sendiri, menurut Berlo (1960), merupakan
proses komunikasi.
Berbicara tentang komunikaasi dalam konteks personal
artinya berbicara tentang bagaimana orang belajar.
Selanjutnya, dengan atau tanpa media, proses belajar bisa
terjadi, terutama jika terjadi umpan balik dari pihak
sasaran (komunikan) kepada penyampai atau sumber pesan
secara berlanjut. Dengan demikian, komunikasi terjadi, jika
setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada
penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk
tanda atau simbol, baik verbal maupun nonverbal.
Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang
sangat penting kedudukannya. Bahkan ia sangat besar
peranannya dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang
bersangkutan. Orang sering berkata bahwa tinggi rendahnya
suatu capaian mutu pendidikan sangat bergantung pada
faktor komunikasi, khususnya komunikasi pendidikan. Di
dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui
sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang sangat
menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi
sebab proses komunikasi, baik yang berlangsung secara
intrapersona maupun secara antarpersona.
Intrapersona yaitu komunikasi yang terjadi di dalam
individu itu sendiri. Tampak pada kejadian berpikir,
mempersepsi, mengingat dan mengindra. Hal demikian
dijalani oleh setiap anggota sekolah bahkan oleh semua
orang.
Sementara antarpersona ialah bentuk komunikasi
yang berproses dari adanya ide atau gagasan informasi
seseorang kepada orang lain. Dosen yang memberi kuliah,
berdialog, bersambung rasa, berdebat, berdiskusi, dan
sebagainya yaitu sebagian besar dari contoh-contohnya.
Tanpa keterlibatan komunikasi tentu segalanya tidak bisa
berjalan. Komunikasi disini yaitu terutama yang terjadi
pada kegiatan mengajar dan belajar pada kegiatan tatap
muka maupun pada kegiatan lainnya. Hanya dimungkinkan
melalui kemampuan berkomunikasi untuk mentransfer
makna diantara individu.
Aktivitas kelompok mustahil ada tanpa ada sarana
bertukar pengalaman dan sikap. Komunikasi melibatkan
semua simbol batin, sarana penyampaian simbol dan untuk
menjaga simbol-simbol itu. Untuk mencapai, memahami, dan
memperanani orang lain, seseorang harus berkomunikasi.
Pentingnya komunikasi digarisbawahi oleh kenyataan bahwa
segala tindakan seseorang didasari oleh apa yang diketehui
atau apa yang dianggapnya diketahui.
Komunikasi merupakan elemen penting dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan komunikasi
pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar.
Teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi
kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberi
andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar
pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan,
trasportasi, kesehatan dan penelitian.
Oleh sebab itu sangatlah penting peningkatan
kemampuan sumber daya manusia, perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) telah memberi peranan
terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses
pembelajaran.
Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya
pemakaian TIK ada lima pergeseran dalam proses
pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2)
dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas
ke on line atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan
kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan
memakai media-media komunikasi seperti telepon,
komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara
guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan
tatap muka namun juga dilakukan dengan memakai
media-media ini
Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Pendidikan
Orang yang masih hidup tidak mungkin akan lepas
dari komunikasi walaupun bukan berarti semua perilaku
yaitu komunikasi, komunikasi ada dimana-mana: di
rumah, di kampus, di kantor dan di masjid; bahkan ia
sanggup menyentuh segala aspek kehidupan kita . Artinya, hampir seluruh kegiatan manusia,
dimanapun adanya, selalu tersentuh oleh komunikasi. Bidang
pendidikan misalnya, tidak bisa berjalan tanpa dukungan
komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan
melalui komunikasi (Jourdan, 1984:74), dengan kata lain,
tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh
komunikasi. Bagaimana mungkin mendidik manusia tanpa
berkomunikasi, mengajar orang tanpa berkomunikasi, atau
memberi kuliah tanpa berbicara. Semuanya memerlukan
komunikasi. Disamping itu, komunikasi juga berfungsi
mendidik warga , mendidik setiap orang dalam menuju
pencapaian kedewasaannya bermandiri. Seseorang bisa
banyak tahu sebab banyak mendengar, banyak membaca,
dan banyak berkomunikasi.
ada 12 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai
penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat komunikasi
antara lain :
1. Komunikasi yaitu suatu proses simbolik
Komunikasi yaitu sesuatu yang bersifat dinamis,
sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, namun terus
berkelanjutan.
2. Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi
Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang ini
tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, namun
dimaknai oleh orang lain maka orang ini sudah
terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh,
ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat
dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.
3. Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan
Setiap pesan komunikasi memiliki dimensi isi
dimana dari dimensi isi ini kita bisa memprediksi
dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang
melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua
orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas
berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda.
4. Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat
kesengajaan
Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh
seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan
yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak
direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa
saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai
pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja
(pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap
tujuannya tercapai)
5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu.
Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak
komunikan baik secara verbal maupun non-verbal
disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi
itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan
kapan komunikasi itu berlangsung.
6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi.
Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan
komunikasi di luar norma yang berlaku di warga .
Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa
pihak penerima akan membalas dengan senyuman,
jika kita menyapa seseorang maka orang ini akan
membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat
seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses
komunikasi.
7. Komunikasi itu bersifat sistemik
Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang
dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat,
pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang
berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal
ini . Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan
lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi
bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi.
8. Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin
efektiflah komunikasi Jika dua orang melakukan
komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan
yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak
ini memiliki bahan yang sama untuk saling
dikomunikasikan. Kedua pihak memiliki makna yang
sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan.
9. Komunikasi bersifat nonsekuensial
Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak
berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan
sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima
dan dimengerti.
10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional
Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi yaitu
sebuah proses yaitu komunikasi itu dinamis dan
transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima
informasi diantara pihak-pihak yang melakukan
komunikasi.
11. Komunikasi bersifat irreversible
Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak
dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang
ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi
tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata
menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan
hilang begitu saja pada diri orang lain ini .
12. Komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang
dapat dipakai untuk menyelesaikan masalah.
Prinsip Komunikasi Efektif dalam Meningkatkan Minat
Belajar Anak
Dalam komunikasi pendidikan, seorang guru harus
memiliki prinsip-prinsip komunikasi efektif agar murid
mampu memahami dan menelaah setiap materi yang
diberikan, Prinsip-prinsip ini , diantaranya :
a. Guru memberi kebebasan anak untuk berkreasi, anak
terpacu untuk membuat karya unik.
b. Guru menerima berbagai jawaban anak terhadap
pertanyaan tertentu, anak belajar berpikir luas, Guru
menerangkan materi dengan sudut pandang yang
unik, anak terpacu rasa ingin tahu, Guru memberi
penjelasan awal secara jelas sebelum anak memulai
pekerjaannya, anak mendapat pengetahuan awal secara
efektif.
c. Guru memakai alat peraga, anak memiliki modal
pengetahuan awal yang lebih terbayang.
d. Guru menerangkan dengan eksperimen, anak terpacu
rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya
suatu fenomena
e. Guru memberi ulasan dan kesimpulan terhadap
apa yang dikerjakan anak, anak memahami maksud
pekerjaan dan berpikir secara utuh
f. Guru mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang
pernah dilihat anak, anak belajar berpikir mengaitkan
satu hal dengan hal lain.
g. Guru memberi kesempatan anak untuk bercerita,
anak belajar mengungkapkan gagasan secara lebih
terstruktur
h. Guru membimbing anak tampil didepan forum, anak
belajar berani berkreasi didepan orang banyak
i. Guru melakukan pendampingan secara pribadi kepada
anak, anak memiliki keamanan psikologis untuk
berkreasi
j. Guru melayani pertanyaan-pertanyaan anak, anak
nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin
tahunya
k. Guru memberi kesempatan kepada anak untuk
mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan
dengan berbagai inovasi baru
l. Guru menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman
secara psikologis untuk berkreasi
m. Guru melibatkan anak secara efektif dalam belajar, anak
merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya
n. Guru melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih
bersemangat dalam berkreasi
o. Guru menciptakan suasana menyenangkan, anak
menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi
dalam berkreasi
p. Guru menciptakan suasana bersemangat dalam belajar,
anak lebih bermotivasi.
Seperti fungsi dan definisi komunikasi, prinsip-prinsip
komunikasi juga diuraikan dengan berbagai cara oleh para
pakar komunikasi. Mereka ada kalanya memakai istilah-
istilah lain untuk merujuk pada prinsip-prinsip komunikasi
ini. Misalnya, William B. Gudykunst dan Young Yun Kim
menyebutkan asumsi-asumsi komunikasi. Prinsip-prinsip
komunikasi ini pada dasarnya merupakan penjabaran
lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi.
PRINSIP 1. Komunikasi yaitu proses simbolik sebagai
salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan
Susanne K. Lenger, yaitu kebutuhan simbolisasi atau
pemakaian lambang. Manusia memang satu-satunya
hewan yang memakai lambang, dan itulah yang
membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya.
Ernest Cassirer mengatakan bahwa keunggulan manusia
atas makhluk lainnya yaitu keistimewaan mereka sebagai
animal symbolicum. Lambang atau simbol yaitu sesuatu
yang dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang lainnya,
berdasar kesepakatan sekelompok orang.
PRINSIP 2. Setiap Perilaku memiliki Potensi
Komunikasi. Kita tidak dapat berkomunikasi (We cannot not
communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku yaitu
komunikasi. Alih-alih, komunikasi terjadi bila seseorang
memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya
sendiri. Cobalah Anda minta seseorang untuk tidak
berkomunikasi. Amat sulit baginya untuk berbuat demikian,
sebab setiap perilakunya punya potensi untuk ditafsirkan.
Kalau kita tersemyum, ia ditafsirkan bahagia, kalau ia
cemberut ia ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam
diri selalipun, kita mengundurkan diri dari komunikasi dan
lalu menyadari, seberapa kita berkomunikasi banyak pesan.
PRINSIP 3 Komunikasi Punya Isi dan Dimensi
Hubungan. Dimensi isi disandi secara verbal, sementara
dimensi hubungan disandi secara non verbal. Dimensi
isi menunjukkan muatan isi komunikasi, yaitu apa yang
dikatakan. sedang dimensi hubungan menunjukkan
bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan
bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu dan
bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.
Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi
pesan, sedang dimensi hubungan merujuk kepada unsur-
unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang dipakai untuk
menyampaikan pesan ini .
PRINSIP 4 Komunikasi Berlangsung dalam Berbagai
Tingkat Kesenjangan Komunikasi dilakukan dalam
berbagai tingkat kesenjangan, dari komunikasi yang tidak
disengaja sama sekali hingga komunikasi yang benar-benar
direncanakan dan disadari. Kesenjangan bukanlah syarat
untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali
tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain,
perilaku kita potensial ditafsirkan orang lain. Kita tidak dapat
mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak
menafsirkan perilaku kita. Membatasi komunikasi sebagai
proses yang disengaja yaitu menganggap komunikasi
sebagai instrumen.
PRINSIP 5 Komunikasi Terjadi dalam Konteks Ruang
dan Waktu. Makna pesan juga tergantung pada konteks fisik
dan ruang sosial, dan psikologis. Waktu juga mempengaruhi
makna terhadap suatu pesan. Kehadiran orang lain, sebagai
konteks sosial juga akan mempengaruhi orang-orang yang
berkomunikasi. Suasana psikologis peserta komunikasi tidak
pelak mempengaruhi juga suasana komunikasi.
PRINSIP 6 Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta
Komunikasi. Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka
meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan
kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan tatakrama.
Artinya, orang-orang memilih strategi tertentu berdasar
bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon.
Prediksi ini tidak selalu disadari, dan sering berlangsung
cepat.
PRINSIP 7. Komunikasi Bersifat Sistemik. Setiap individu
yaitu suatu sistem yang hidup. Organ-organ dalam tubuh
kita saling berhubungan. Kerusakan pada mata dapat
membuat kepala kita pusing. Bahkan unsure diri kita yang
bersifat jasmani juga berhubungan dengan unsure kita yang
bersifat rohani. Setidaknya dua sistem dasar beroperasi
dalam transaksi komunikasi itu.
PRINSIP 8. Semakin Mirip Latar Belakang Sosial- budaya
Semakin Efektiflah Komunikasi. Komunikasi yang efektif
yaitu komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan
para pesertanya. Dalam kenyataannya, tidak pernah ada
dua manusia yang sama persis, meskipun mereka kembar
yang dilahirkan dan diasuh dalam sau keluarga yang sama,
namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya, agama,
ras, suku, bahasa.
PRINSIP 9. Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis,
dan Transaksional Seperti juga waktu dan eksistensi,
komunikasi tidak memiliki awal dan akhir, melainkan
merupakan proses yang sinambung. Bahkan kejadian yang
sangat sederhana pun melibatkan rangkaian kejadian yang
rumit bila diperdengar memenuhi permintaan ini .
Implimintasi dalam proses komunikasi sebagai proses yang
dinamis dan transaksional yaitu bahwa peserta komunikasi
berubah pengetahuan hingga berubah pandangan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia
tidak dapat terlepas dari komunikasi, dengan arti lain
komunikasi ada dimana-mana. Seorang anak misalnya,
diminta menyalakan lampu dengan menekan tombol listrik.
Hubungan antara tombol dengan balon lampu juga yaitu
peristiwa komunikasi. Bahkan dalam diri manusia ada
peristiwa komunikasi, misalnya bagaimana hubungan antara
satu sel dengan sel yang lainnya sehingga manusia bias
bernafas, berdiri tegak dan lain sebagainya.
Di dalam dunia pendidikan komunikasi memiliki
peran sangat penting, pendidikan dapat berlangsung efektif
dengan dengan adanya komunikasi, bahkan ada yang
berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat berlangsung
tanpa adanya komunikasi. Oleh sebab itu, penting bagi kita
menjadi trampil berkomunikasi, dan mengetahui prinsip-
prisip komunikasi baik didalam pendidikan maupun di
warga . Kegiatan komunikasi pada intinya yaitu
aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana,
dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami
sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari
suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu
menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan
yang disampaikan ini . Pendidikan dapat diartikan
sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan
memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan
secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung
jawab.
Komunikasi pendidikan yaitu proses perjalanan pesan
atau informasi yang menambah bidang atau peristiwa-
peristiwa pendidikan. Hubungan komunikasi dan
pendidikan sangatlah erat, dengan kata lain, komunikasi dan
pendidikan sangat berkaitan erat setu sama lain. Komunikasi
dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting
kedudukannya. Bahkan ia sangat besar peranannya dalam
menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan.
Tinggi rendahnya suatu capaian mutu pendidikan diperanani
pula oleh faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi
pendidikan.
Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan
melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang
sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar
terjadi sebab proses komunikasi, baik yang berlangsung
secara intrapersona maupun secara antarpersona.
Kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi
pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar
kepada pembelajar. Dalam pembelajaran terjadi proses
komunikasi untuk menyampaikan pesan dari pendidik
kepada peserta didik dengan tujuan agar pesan dapat
diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman
serta perubahan tingkah laku. Hal ini diwujudkan sebagai
upaya meningkatkan sumber daya manusia yang tidak dapat
terlepas dari peningkatan kualitas pendidikan. Kualitas
pendidikan yang dipengaruhi proses belajar dimana sangat
bergantung pada efektifitas proses komunikasi yang terjadi
dalam pembelajaran ini .
Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya
komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi dikatakan
efektif jika komunikasi yang terjadi memicu arus
informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback
dari pihak penerima pesan. Komunikasi efektif dalam
pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa
ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta
didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud
pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga
menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
memicu perubahan tingkah laku menjadi lebih baik.
(***)
KOMPONEN DAN TUJUAN
KOMUNIKASI PENDIDIKAN
Institusi pendidikan juga dapat disebut sebagai institusi
pembelajaran. sebab di institusi inilah semua aktifitas
berkaitan dengan pembelajaran.
Pembelajaran pada hakikatnya yaitu proses komunikasi
dalam pendidikan, yaitu proses penyampaian pesan dari
sumber pesan ke penerima pesan melalui saluran atau
media tertentu, untuk itu proses komunikasi harus diciptakan dan
diwujudkan melalui kegiatan penyampaian pesan, tukar
menukar pesan atau informasi dari setiap pengajar kepada
pembelajar, atau sebaliknya. Dalam pembelajaran, pesan atau
informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan,
keahlian, skill, ide, pengalaman, dan sebagainya.
Melalui proses komunikasi, pesan dapat diterima,
diserap, dan dihayati penerima pesan, maka agar tidak
terjadi kesalahan dalam proses komunikasi, perlu dipakai
sarana yang dapat membantu proses komunikasi. Dalam
pembelajaran di kelas, sarana/fasilitas alat yang dipakai
untuk memperlancar komunikasi pembelajaran disebut
dengan media pembelajaran.
menyebut istilah pembelajaran dengan interaksi edukatif.
Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif yaitu
interaksi yang dilakukan secara sadar dan memiliki tujuan
untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik
ke arah kedewasaannya. Pembelajaran merupakan proses
yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam
kehidupannya, yakni membimbing mengembangkan diri
sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani.
Menurut Once Kurniawan (2005)yang dikutip oleh
Musthafa (2012), ada beberapa faktor yang secara
langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran, yaitu
pengajar, siswa, sumber belajar, alat belajar, dan kurikulum.
Selanjutnya Association for Educational Communication
and Technology (AECT) menegaskan bahwa pembelajaran
(instructional) merupakan bagian dari pendidikan.
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya
terdiri dari komponen-komponen sistem instruksional yaitu
komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar
atau lingkungan.
Dengan demikian, pembelajaran dapat dimaknai
sebagai interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang
dilakukan secara sengaja dan terencana serta memiliki tujuan
yang positif. Keberhasilan pembelajaran harus didukung oleh
komponen-komponen instuksional yang terdiri dari pesan
berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu pengajar,
bahan untuk menuangkan pesan, peralatan yang mendukung
kegiatan belajar, teknik atau metode yang sesuai, serta latar
atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran, jika dikaitkan dengan
komponen komunikasi, maka komponen yang ada
pada aktivitas atau proses pembelajaran pada prinsipnya
sama dengan komponen komunikasi. Artinya pada proses
pembelajaran telah menjalankan fungsi komunikasi ini .
Menurut Sanaky (2011: 9), komponen yang ada
dalam pembelajaran sebagai komunikasi yaitu : (a)
pengajar dapat menjalankan fungsinya sebagai pemberi
pesan (komunikator), (b) pembelajar sebagai penerima
pesan (komunikan), (c) materi pelajaran sebagai pesan,
(d) alat bantu pembelajaran sebagai saluran atau media
pembelajaran, dan (e) ada faktor lain dalam pembelajaran
yaitu umpan balik yang manifestasinya berupa pertanyaan,
jawaban, dan persilangan pendapat, baik dari pembelajar
maupun dari pengajar.,menyatakan bahwa:
“jika proses pembelajaran yaitu komunikasi,
maka, pertama, pesan yang akan dikomunikasikan yaitu
isi pelajaran yang ada dalam kurikulum. Kedua, sumber
pesan, dapat saja pengajar, pembelajar, penulis buku, ataupun
orang lain. Pada posisi ini, pembelajar dapat saja sebagai
sumber pesan dalam proses pembelajaran dan pengajar
dapat menerima informasi dari pembelajar. Komunikasi
yang terjadi yaitu komunikasi timbal balik dan posisi
pengajar tentu saja sebagai penerima pesan. Ketiga, penerima
pesan yaitu pembelajar. Dalam proses belajar dapat saja
pembelajar sebagai penerima pesan dan juga sebagai pemberi
pesan kepada pengajar. Keempat, sa


0 Komentar