komunikasi organisasi 2

 



an terpusat itu 

tidak mungkin ada organisasi.

3. Organisasi merupakan sistem kerja sama (yang terarah 

pada tujuan bersama). Kerja sama pada dasarnya 

kegiatan–kegiatan berbeda yang terintegrasi dan terarah. 

Orang hanya mau berkerja sama dengan orang lain, jika 

tidak dapat mencapai tujuan lewat kerja secra individual 

seorang diri. Setiap kali orang–orang membangun kerja 

sama, mereka tentu hendak mencapai tujuan bersama 

yang sudah disepakati sebelumnya.

4. Organisasi murupakan sistem kegiatan–kegiatan 

sejumlah orang yang berkerja sama yang terkoordinasi. 

Istilah koordinasi berarti komunikasi pamaduan dan 

pengarahan kegiatan–kegiatan kerja sama. Kerja 

sama merupakan kegiatan–kegiatan yang terintegrasi 

dan terarah pada tujuan bersama. Koordinasi yaitu  

komunikasi efektif yang dapat menjadikan kegiatan–

kegiatan yang berbeda dan saling berhunbungan 

itu terintegrasi dan terarah ke tujuan bersama. Bila 

koordinasi gagal, kegiatan – kegiatan tercerai  berai dan 

        

berjalan dengan arah yang berbeda bahkan mungkin 

saling berlawanan.

5. Organisasi yaitu  kegiatan–kegiatan kerja sama 

yang terkoodinasi di bawah suatu kewenangan dan 

kepemimpinan. Kewenangan dan kepemimpinan 

bearti kekuasan memberi perintah dan pengarahan, 

yang melekat pada kedudukan hierarkis. Hierarki 

organisasi terbentuk berdasar  hubungan – hubungan 

kewenangan dan tanggung jawab dalam pembagian kerja 

dan pencapain tujuan, yang berstruktur piramida. Setiap 

lapisan kedudukan struktural di lapisan atas memiliki  

kewenangan dan tanggung jawab atas segala pelaksanaan 

kegiatan – kegiatan di lapisan bawahnya langsung. Istilah 

kepemimpinan dipakai  untuk menekankan bahwa 

kewenangan dan tanggung jawab untuk mengarahkan 

semua kegiatan demi pencapaian tujuan organisasi. 

Kepemimpinan menjamin agar kegiatan – kegiatan tidak 

menyimpang dari arah tujuan.

Selain unsur–unsur di atas, konsep organisasi 

diasumsikan memiliki  ikatan tempat dan waktu. Lagi 

pula eksistensi organisasi sebagai sistem terbuka memang 

memiliki  hubungan saling ketergantungan dengan 

kekuatan–kekuatan dalam warga . Tanpa ikatan dengan 

lingkungan, organisasi kehilangan legitimasi. Organisasi 

tidak hanya menyampaikan produk dan pengaruh melainkan 

juga menyerap dan menerima energi dan pengaruh dari 

barbagai sumber daya lingkungan yang merupakan pilar–

pilar warga , yaitu sumber daya ekonomi, sosial, politik, 

hukum, teknologi, dan moral etika.

Organisasi didirikan untuk memenuhi kebutuhan dan 

memperjuangkan kepentingan jangka panjang ke masa 

depan. Maka, organisasi yang sukses dapat bertahan hidup 

dan relevan bagi kehidupan warga  dalam jangka waktu        

panjang, sehingga organisasi dapat mencapai umur panjang, 

lebih panjang dari umur para pendirinnya. Jika hanya 

sepakat tentang kebutuhan sementara, orang–orang tentu 

tidak membentuk organisasi formal melainkan hanya bekerja 

bersama dalam bentuk organisasi informal atau panitia yang 

dapat dibubarkan sesudah tujuannya selesai. Aspek rentang 

waktu ini sering ditekankan dalam beberapa studi penting 

sampai tahun 1960–an. . 

Buku Handbook ilmu perilaku yang berjudul Human 

Behavior : An Inventory of Scientific findings, misalnya, 

Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (1964) menyusun daftar 

unsur asasi organisasi yang meliputi formalitas (formality), 

hierarki ( hierarchy), ukuran dan kompleksitas ( size and/or 

complexity), dan rentang waktu (duration). Namun umumnya 

di dalam buku–buku teori dan buku acuan, dewasa ini 

dimensi waktu dan dimensi tempat hanya diasumsikan saja. 

Dengan memperhatikan unsur – unsur yang telah diuraikan 

di atas, kita mengembangkan definisi operasional sederhana 

yang berbunyi sebagai berikut : Organisasi yaitu  sistem 

kerja sama dari sejumlah orang yang dikoodinasi dengan 

kewenangan hierarkis untuk mencapai tujuan bersama.

Dari definisi oprasional di atas, kita dapat menyatakan 

bahwa organisasi merupakan sebuah sistem kerja sama yang 

hidup demi pencapian tujuan yang telah ditentukan. Dalam 

organisasi ada  unsur – unsur asasi internal yang saling 

terkait secara interdependen. 

Hubungan kerja sama yang interdependen itu 

dimungkinkan oleh adanya koordinasi struktural hierarkis. 

Kesepakatan tentang tujuan bersama dan kerja sama dapat 

tercapai melalui proses interaksi yang menghasilkan 

saling pengertian. Akhirnya, koordinasi yang efektif untuk 

menjamin kerja sama ke arah tujuan bersama itu dipengaruhi 

oleh struktur hierarkis kekuasaan.

         

Dari pemahaman tentang definisi organisasi yang telah 

dikembangkan oleh para ilmuwan di atas dan penjelasan 

yang menyertainya, dapat disimpulkan bahwa organisasi 

terbentuk oleh hubungan interdependen dengan lingkungan. 

Singkat kata, eksistensi organisasi tidak dapat terlepas dari 

hubungan dengan komunikasi. Hubungan ini dibahas 

dibagian berikutnya di bawah.(***)



KOMUNIKASI ORGANISASI 

PENDIDIKAN

Pendidikan berasal dari kata pedagogi (paedagogie, 

Bahasa Latin) yang berarti pendidikan dan kata 

pedagogia (paedagogik) yang berarti ilmu pendidikan 

yang berasal dari bahasa Yunani. Pedagogia terdiri dari 

dua kata yaitu Paedosâ (anak) dan Agogeâ yang berarti saya 

membimbing, memimpin anak. 

sedang  paedagogos ialah seorang pelayan 

atau bujang (pemuda) pada zaman Yunani Kuno yang 

pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak (siswa) 

ke dan dari sekolah. Perkataan paedagogos yang semula 

berkonotasi rendah (pelayan, pembantu) ini, kemudian 

sekarang dipakai untuk nama pekerjaan yang mulia yakni 

paedagoog (pendidik atau ahli didik atau guru). Dari sudut 

pandang ini pendidikan dapat diartikan sebagai kegiatan 

seseorang dalam membimbing dan memimpin anak menuju 

ke pertumbuhan dan perkembangan secara optimal agar 

dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Ki Hajar 

Dewantara (1889-1959) menjelaskan tentang pengertian 

pendidikan yaitu, pendidikan umumnya berarti daya upaya 

untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin) 

pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam 

dan warga nya. 

Dengan kata lain, Pendidikan dapat diartikan sebagai 

usaha orang dewasa dalam mendewasakan peserta didiknya          

agar menjadi dewasa dan menjadi manusia yang seutuhnya. 

Ada juga yang mengatakan bahwa pendidikan yaitu  upaya 

dan usaha untuk memanusiakan manusia. 

Pendidikan secara maknawi dapat diartikan sebagai 

usaha sadar untuk membina kepribadian anak didik sesuai 

dengan nilai-nilai dalam warga  dan kebudayaannya.

Dalam belahan dunia manapun, peradaban suatu 

kelompok warga , sudah hampir dipastikan telah 

berlangsung suatu proses yang disebut pendidikan. Hanya 

saja, bentuk, cara dan metode pendidikan yang dijalankan 

berbeda-beda.

Itulah sebabnya ada yang berpendapat bahwa pendidikan 

itu telah ada dalam sepanjang sejarah peradaban manusia 

di dunia. Pendidikan menurut pengertian Romawi sebagai 

“educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan 

merealisasikan potensi anak yang dilahirkan di muka bumi. 

Sementara itu menurut Herbert,  pendidikan merupakan 

pembentukan peserta didik kepada yang diinginkan 

sipendidik yang diistilahkan dengan Educere. Dalam kamus 

besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar 

“didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan 

(ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.

Dalam tulisannya di Kompasiana.com, Nurul Baroroh 

mengulas tentang pengertian pendidikan sebagai proses 

pengubahan dan tata laku seseorang atau kelompok orang 

dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya 

pengajaran dan latihan, proses perluasan, dan cara mendidik. 

Dalam upaya perubahan tingkah laku dari tidak tahu 

menjadi tahu, pendidikan berusaha keras demi mencapai 

tujuan yang diharapkan, tidak lain yaitu  mengharapkan 

munculnya manusia atau tumbuhnya manusia yang mapan 

dari segi mental dan spiritual dan berkembangnya segi 

         

rohani serta jasmani sehingga menjadi manusia paripurna. 

Dalam memberi  bimbingan atau pertolongan yang 

diberikan dengan cuma-cuma terhadap orang yang benar-

benar memerlukan , pendidikan tidak diberikan begitu saja 

tetapi  pendidikan memiliki  komponen-komponen 

tertentu seperti adanya tujuan, cara untuk menyampaikan 

kandungan itu.

Nurul Baroroh dalam tulisannya juga mengulas 

pengertian pendidikan dalam dunia Islam yang pada 

umumnya mengacu pada kata Al-Tarbiyah, Al-Ta’dib, Al-

Ta’lim. Dari ketiga istilah ini  yang populer dipakai  

dalam praktek pendidikan Islam ialah Al-Tarbiyah, 

sedang  Al-Ta’lim dan Al-Ta’dib jarang sekali dipakai . 

Padahal kedua istilah ini  telah dipakai  sejak awal 

pertumbuhan pendidikan Islam.

 Pendidikan merupakan transfer of knowledge, transfer of 

value dan transfer of culture and transfer of religius. Hakikat 

proses pendidikan ini sebagai upaya untuk mengubah 

perilaku individu atau kelompok agar memiliki nilai-nilai 

yang disepakati berdasar  agama, filsafat, ideologi, politik, 

ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. 

Menurut pandangan Paula Freire pendidikan yaitu  

proses pengkaderan dengan hakikat tujuannya yaitu  

pembebasan. Hakikat pendidikan yaitu  kemampuan untuk 

mendidik diri sendiri. Dalam konteks ajaran Islam hakikat 

pendidikan yaitu  mengembalikan nilai-nilai ilahiyah pada 

manusia (fitrah) dengan bimbingan Alquran dan as-Sunnah 

(Hadits) sehingga menjadi manusia berakhlakul karimah 

(insan kamil) Dengan demikian hakikat pendidikan yaitu  

sangat ditentukan oleh nilai-nilai, motivasi dan tujuan 

dari pendidikan itu sendiri. Dengan begitu, maka hakikat 

pendidikan dapat dirumuskan: 1). Pendidikan merupakan 

proses interaksi manusiawi yang ditandai keseimbangan           

antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan 

pendidik; 2). Pendidikan merupakan usaha penyiapan 

subjek didik menghadapi lingkungan yang mengalami 

perubahan yang semakin pesat;  Pendidikan meningkatkan 

kualitas kehidupan pribadi dan warga ; 3). Pendidikan 

berlangsung seumur hidup; Pendidikan merupakan kiat 

dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu.

Selain itu  hakekat pendidikan juga mengarah pada azas-

azas seperti : 1). Azas/pendekatan manusiawi/humanistik 

serta meliputi keseluruhan aspek/potensi anak didik serta 

utuh dan bulat (aspek fisik-nonfisik: emosi intelektual; 

kognitif-afektif psikomotor), sedang  pendekatan 

humanistik yaitu  pendekatan dimana anak didik dihargai 

sebagai insan manusia yang potensial, (memiliki  

kemampuan kelebihan kekurangannya dll), diperlukan 

dengan penuh kasih sayang-hangat-kekeluargaan-

terbuka-objektif dan penuh kejujuran serta dalam suasana 

kebebasan tanpa ada tekanan/paksaan apapun juga. 2). 

Azas kemerdekaan; yakni memberi  kemerdekaan kepada 

anak didik, namun  bukan kebebasan yang leluasa, terbuka, 

melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, 

baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota 

warga . 3). Azas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia 

itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, 

tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang 

diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang 

secara wajar menurut kodratnya. 4). Azas kebudayaan; 

yakni berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti 

kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. 

Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri 

tetap menjadi acauan utama (jati diri). 5). Azas kebangsaan 

yaitu, membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam 

suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai 

bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain. 6). 

         

Azas kemanusiaan yaitu, mendidik anak menjadi manusia 

yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk 

Tuhan.

Dari uraian di atas, maka hakikat pendidikan pada 

prinsipnya yaitu  mendidik manusia menjadi manusia 

sehinggah hakikat atau inti dari pendidikan tidak akan 

terlepas dari hakekat manusia, sebab urusan utama 

pendidikan yaitu  manusia. Saat ini warga  telah 

memasuki tahap industrialisasi yang relatif berkecukupan, 

modern, dan aktif melalui berbagai jenis organisasi. Artinya 

warga  kita pada dasarnya kini telah terbiasa dari ikatan 

tradisi warga  pra–industri yang agraris yang hanya 

mengandalkan tenaga fisik manusia dan hewan, hidup pada 

taraf subsistem, dan tertutup sebab  terisolasi secara fisik 

geografis maupun secara psikis dari pemikiran kemajuan 

ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejalan dengan pengalaman 

warga  – warga  industri yang muncul sebelumnya 

di dunia, warga  indonesia kini terus berkembang 

dan maju menuju tahapan warga  pasca–industri 

(postindustrial society) yang makmur, terbuka, dan mampu 

menjadikan informasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi 

sebagai tulang punggung dalam keseluruhan tata kehidupan 

sosial, ekonomi, dan politik warga , baik pada tataran 

nasional maupun internasional ( Bell, 1973 ). Kemajuan 

ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya dipakai  

untuk memaksimalkan produktivitas dan memperluas 

jaringan transportasi, namun  juga untuk globalisasi jaringan 

informasi dari komunikasi instan (real time) lintas negara, 

yang meningkatkan dinamika semua bentuk jaringan 

komunikasi yang ada : jaringan sosial, media massa – baik 

cetak maupun elektronik, terutama TV–jaringan kelembagaan 

publik maupun swasta, dan jaringan – jaringan cyber (virtual 

network).

Sebagai masyarkat industri baru, warga  kita kini 

juga menunjukan ciri – ciri khas warga  modern, seperti 

yang dilakukan oleh Amitai Etzioni ( 1964: 1 – 2 ) dalam buku 

Modern Organizations, sebagai berikut:

Berlainan dengan masyarkat di masa lampau, warga  

modern dewasa ini lebih mengutamakan rasionalitas, 

efektifitasn dan efisensi sebagai nilai – nilai moral yang tinggi. 

Peradaban modern pada hakikatnya sangat tergantung pada 

organisasi – organisasi sebagai bentuk pengelompokan  sosial 

yang paling rasional dan efisien. Berkat kemampuannya 

menyesuaikan diri dalam upaya pencapain tujuan 

sebagaimana diharapkan, organisasi mampu melayani serta 

memenuhi berbagai kebutuhan dan kepentingan warga  

dan warganya secara lebih efisien bila dibandingkan dengan 

satuan – satuan kelompok manusia lainnya yang lebih kecil 

dan alamiah, seperti keluarga, kelompok pertemanan, dan 

lingkungan sosial lainnya.

Artinya cara hidup warga  Indonesia dewasa ini 

pada dasarnya yaitu  rasional dan aktif (active society), yang 

sebagian besar warganya memiliki mobilitas sosial dan 

geografis yang cukup tinggi dan terbuka terhadap aplikasi 

ilmu pengetahuan dan teknologi pada kehidupan sosial, 

ekonomi, dan politik. Sebagian besar warga warga  

indonesia telah mampu melibatkan diri dalam beragam 

kerjasama di dalam organisasi dan kelompok sosial yang 

heterogen demi peningkatan kualitas hidup bersama. Lebih 

khusus lagi, sebagai warga warga  modern yang serba 

organisasi (organizational society) kita mampu memenuhi 

berbagai kebutuhan, jika mau secara aktif berurusan dengan 

beragam organisasi yang menghasilkan produk maupun 

jasa–baik sebagai anggota organisasi ataupun sebagai 

pelanggan. . Oleh sebab  itu, 

demi memperoleh manfaat yang maksimal, kita semua perlu 

         

belajar tentang organisasi, bagaimana cara kerjanya, dan 

adakah cara memengaruhi untuk meningkatkan efektivitas 

dan efisiensinya.

Dalam bab ini kita membahas persoalan–persoalan 

penting tentang organisasi: apa pengertian dan ruang 

lingkupnya, bagaimana prinsip–prinsip kerjanya, apa faktor–

faktor pengaruhnya, dan bagaimana hubungannya dengan 

komunikasi.

Dari uraian di atas, maka komunikasi secara sederhana, 

dapat didefinisikan sebagai proses penyampaian pesan oleh 

komunikator kepada komunikan melelui/tanpa media yang 

memicu  akibat tertentu. Dalam realitas kehidupan 

ummat manusia semenjak dulu kala, kegiatan komunikasi 

pada hakekatnya merupakan suatu aktifitas pertukaran ide 

atau gagasan untuk menyampaikan  ide atau pesan yang 

mengandung arti dan makna tertentu dari satu  pihak ke 

pihak lain dengan tujuan menghasilkan suatu kesepahaman, 

kesepakatan, persepsi dan perspektif yang sama.

Thomas M .Scheihwadel (dalam Mulyana, Dedi 2004) 

mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama 

untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk 

membangun kontak sosial dengan orang disekitar kita dan 

untuk memberi  peran kepada orang lain untuk merasa, 

berfikir, dan berperilaku seperti yang diinginkan. 

Dari pengertian di atas, maka dapat dikatakan bahwa 

komunikasi sebagai wahana atau media untuk membangun 

interaksi antar individu dengan individu yang lain maupun 

interaksi dari pihak lain ke pihak lainnya untuk suatu tujuan 

tertentu yang diharapkan. 

Terkait dengan hal itu, maka dalam aspek komunikasi 

ada  komponen-komponen penting terjadinya 

komunikasi timbal balik, yakni : 1). Komunikator, yaitu          

orang yang menyampaikan pesan. 2). Pesan atau informasi 

maupun pernyataan, ide dan gagasan yang disampaikan. 3). 

Komunikan, yaitu orang yang menerima pesan, informasi 

maupun ide dan gagasan.  4). Media, yaitu, sarana atau 

saluran yang dipakai  dalam berkomunikasi. 5) Efek, 

yakni akibat, dampak, output atau  hasil dari adanya jalinan 

komunikasi dengan orang lain maupun dengan pihak lain. 

Komunikasi akan terjalin jika antar individu saling 

memberi makna pada sikap dan perilaku masing-masing. 

Jadi ekspresi dalam bahasa tubuh dan panca indera memiliki 

potensi komunikasi, baik dari ekspresi wajah, bahasa tubuh 

apalagi dalam aspek pengucapan atau percakapan.

Dari sini dapat diperoleh kesimpulan bahwa dari 

semua disiplin ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang 

berhubungan dengan komunikasi merupakan yang paling 

penting dan berguna bagi kehidupan. Melalui pengetahuan 

komunikasi diantaranya secara intrapribadi seseorang 

dapat berbicara dengan diri sendiri, mengenal diri sendiri, 

mengevaluasi diri dan mempertimbangkan keputusan-

keputusan yang akan diambil serta  menyiapkan pesan-pesan 

yang akan disampaikan kepada orang lain maupun pihak 

lain

Selain itu, komunikasi merupakan wahana bagi siapapun 

untuk berinteraksi dengan orang lain atau pihak lain, saling 

mengenal dan mengungkapkan diri kepada orang lain. 

Apakah kepada atasan, teman kerja, kepada keluarga, kekasih, 

atau siapapun yang memiliki hubungan dan interaksi dengan 

diri kita. Melalui komunikasi pula siapapun dapat menjalin 

hubungan dalam memelihara,membina dan mengembangkan 

hubungan interaktif. Pendek kata, komunikasi menjadi 

wahana yang sangat penting terjalinnya hubungan sosial 

yang semakin mengukuhkan bahwa manusia yaitu  mahluk 

sosial yang saling memerlukan . 

         

Terkait pengertian komunikasi, sudah begitu banyak para 

ahli mengkaji dan mendefinisikan sesuai dengan perspektif 

para ahli itu masing-masing yang sudah banyak menjadi 

rujukan bagi warga  umum dan warga  ilmiah.

Dari banyak pengertian ini  jika ditelaah dan 

dikaji secara mendalam pada dasarnya dapat ditarik suatu 

kesimpulan bahwa komunikasi  merupakan suatu tindakan 

untuk mengirim dan dan menerima pesan yang terjadi sesuai 

substansi yang dibicarakan atau dikomunikasikan. 

Komunikasi dengan begitu dapat dimaknai sebagai 

suatu proses yang menjelaskan 5 W + 1 H yakni Who, Why, 

What, When, Where dan How. Jika ditinjau dari prosesnya 

bahwa komunikasi merupakan suatu proses sosial untuk 

mengkomunikasikan, menyampaikan atau memberi isyarat 

tentang perasaan atau informasi tertentu, baik berupa ide 

atau gagasan-gagasan dalam rangka mempengaruhi orang 

lain yang tengah berinteraksi dengan kita. 

Komunikasi yaitu  inti semua hubungan sosial, 

jika  seseorang melakukan hubungan komunikasi yang 

tetap, maka sistem komunikasi yang mereka lakukan akan 

menentukan apakah sistem ini  dapat mempererat 

atau mempersatukan mereka, mengurangi ketegangan atau 

melenyapkan persengketaan jika  muncul. 

Dalam dunia akademik, ada  berbagai macam 

definisi komunikasi yang dikemukakan oleh para ahli  untuk 

memberi  batasan terhadap apa yang dimaksud dengan 

komunikasi.

Hovland, Janis dan Kelley, Hovland, jenis dan Kelley 

seperti yang dikemukakan oleh forsdale (1981) yaitu  ahli 

sosiologi Amerika, mengatakan, komunikasi yaitu  proses 

individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk 

verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain. Pada definisi         

ini mereka mengganggap bahwa komunikasi merupakan 

suatu proses.

Menurut Louis Forsdale (1981), ahli komunikasi dan 

pendidikan, mengatakan bahwa komunikasi yaitu  suatu 

proses memberi  signal menurut aturan tertentu, sehingga 

dengan cara ini suatu sistem dapat didirikan, dipelihara, dan 

diubah. Pada definisi ini komunikasi juga dipandang sebagai 

suatu proses.

Brent D. Ruben, Brent D. Ruben (1988) memberi  

definisi mengenai komunikasi manusia yang lebih 

komprehensif sebagai berikut : komunikasi manusia 

yaitu  suatu proses melalui individu dalam hubungannya, 

dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam warga  

menciptakan, mengirimkan dan memakai  informasi 

untuk mengkoordinasi lingkungannya dengan orang lain. 

Pada definisi ini komunikasi juga dikatakan sebagai 

suatu proses yaitu suatu aktivitas yang memiliki  beberapa 

tahap yang terpisah satu sama lain namun  berhubungan. 

Misalnya kalau kita ingin berpidato di depan umum sebelum 

berpidato ini  kita telah melakukan serentetan sub-

aktivitas seperti membuat perencanaan, menentukan tema 

pidato, mengumpulkan bahan, melatih diri di rumah, baru 

kemudian tampil berpidato di depan umum.

William J Seller Seiler (1988) memberi  definisi 

komunikasi yang lebih bersifat universal. Dia mengatakan 

komunikasi yaitu  proses dengan mana symbol verbal dan 

nonverbal dikirimkan, diterima, dan diberi arti. Dari definisi 

ini proses komunikasi sangat sederhana, yaitu megirim 

dan menerima pesan namun  sesungguhnya komunikasi 

yaitu  suatu fenomena yang kompleks yang sulit dipahami 

tanpa mengetahui prinsip dan komponen yag penting dari 

komunikasi ini .

         

Menurut Hardjana, dalam sudut pandang pertukaran 

makna, komunikasi dapat didefinisikan sebagai proses 

penyampaian makna dalam bentuk gagasan atau informasi 

dari seseorang kepada orang lain melalui media tertentu.

Sementara Onong Uchajana Effendi merumuskan 

komunikasi sebagai proses pernyataan manusia. Hal yang 

dinyatakan itu yaitu  pikiran atau perasaan seseorang 

kepada orang lain dengan memakai  bahasa sebagai alat 

penyalurnya. Dalam bahasa komunikasi, pernyataan disebut 

sebagai pesan (message). Orang yang menyampaikan pesan 

disebut komunikator (communicator). sedang , orang yang 

menerima pernyataan disebut komunikan (communicatee). 

Tegasnya komunikasi berarti proses penyampaian pesan 

oleh komunikator kepada komunikan.

Selain itu, Muh Nurul Huda, dalam makalahnya tentang 

Komunikasi Pendidikan menjelaskan, terjadinya komunikasi 

yaitu  sebagai konsekuensi hubungan sosial (social relations). 

warga  paling sedikit ter diri dari dua orang yang saling 

berhubungan satu sama lain yang, sebab  berhubungan, 

memicu  interaksi sosial (social interaction). Terjadinya 

interaksi sosial disebabkan interkomunikasi (intercommuni-

cation). 

Jelasnya, jika seseorang mengerti tentang sesuatu 

yang di nyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi 

berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara 

mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika ia tidak 

mengerti, komunikasi tidak berlangsung secara komunikatif.

Komunikasi berarti proses penyampaian suatu 

pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Dari  pengertian 

itu jelas bahwa komunikasi melibatkan sejumlah orang, di 

mana seseorang menyatakan sesuatu kepada orang lain. Jadi, 

yang terlibat dalam komunikasi itu yaitu  manusia. sebab  

itu, komunikasi yang dimaksudkan di sini yaitu  komunikasi           

manusia atau dalam bahasa asing human communication, 

yang sering kali pula disebut komunikasi sosial atau social 

comunication. 

Jadi ditinjau dari segi penyampai pernyataan, komunikasi 

bersifat informatif dan persuasif. Komunikasi persuasif 

(persuasive communication) lebih sulit daripada komunikasi 

informatif (informative communicattion), sebab  memang tidak 

mudah untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku 

seseorang atau sejumlah orang. 

Komunikasi Pendidikan

Secara sederhana, komunikasi pendidikan dapat diartikan 

sebagai komunikasi yang terjadi dalam suasana pendidikan. 

Dengan demikian, komunikasi pendidikan yaitu  proses 

perjalanan pesan atau informasi yang merambah bidang atau 

peristiwa-peristiwa pendidikan. Proses pembelajaran  pada 

hakikatnya yaitu  proses kounikasi, penyampaian pesan dari 

pengantar ke penerima. Pesan yang disampaikan berupa isi/

ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi, 

baik verbal maupun non-verbal.

Istilah Komunikasi Pendidikan selama ini, kalah pamor 

dengan misalnya istilah komunikasi politik, komunikasi 

bisnis, komunikasi pemasaran, komunikasi organisasi, 

komunikasi antarbudaya dan lain-lain. Padahal dalam 

ranah yang sesungguhnya komunikasi pendidikan memiliki 

peran penting dan strategis baik dalam konteks kajian di 

ranah keilmuan komunikasi dan keilmuan pendidikan 

maupun sebagai skill praktis yang dapat menunjang proses 

pendidikan itu sendiri. 

Paling tidak ada  2  pertimbangan mendasar yang yang 

patut diperhatikan untuk menjawab mengapa komunikasi 

pendidikan itu penting. Pertama, dunia pendidikan 

sangat memerlukan  sebuah pemahaman yang holistik, 

         

komprehensif, mendasar dan sistematis tentang pemanfaatan 

komunikasi dalam implementasi kegiatan belajar-mengajar. 

Tanpa ruh komunikasi yang baik, maka pendidikan akan 

kehilangan cara dan orientasi dalam membangun kualitas 

output yang diharapkan. Dalam konteks ini, komunikasi 

pendidikan bisa disejajarkan dengan metodologi pengajaran, 

manajemen pendidikan dan lain-lain.

Dalam interaksi sehari-hari di dunia pendidikan 

menunjukkan bahwa sebagian besar aktifitas guru maupun 

dosen di ruang kelas yaitu  kegiatan komunikasi baik verbal 

maupun non verbal. Oleh sebab nya, hasil buruk penerimaan 

materi oleh para siswa maupun mahasiswa belum tentu 

sebab  guru atau dosennya yang salah kaprah, bisa jadi justru 

sebab  metode komunikasi mereka yang sangat buruk di 

depan anak-anak didik. Kedua, komunikasi pendidikan akan 

menunjukkan arah dari proses konstruksi sosial atas realitas 

pendidikan. Sebagaimana dikatakan teoritisi sosiologi 

pengetahuan Peter L Berger dan Thomas Luckman dalam 

social construction of reality, yang mamahami bahwa realitas 

itu dikonstruksi oleh makna-makna yang dipertukarkan 

dalam tindakan dan interaksi individu-individu.

Komunikasi merupakan suatu kebutuhan dalam 

kehidupan manusia, seperti yang dikemukakan oleh 

Waltzlawick, Beavin, dan Jackson “You cannot not 

communicate” yang artinya ”anda tidak dapat tidak 

berkomunikasi” (Mulyana 2000:54). sedang  makna 

komunikasi pendidikan secara sederhana yaitu  komunikasi 

yang terjadi dalam suasana pendidikan. Di sini komunikasi 

tidak lagi bebas namun  dikendalikan dan dikondisikan untuk 

tujuan-tujuan pendidikan.

berdasar  uraian diatas, maka komunikasi pendidikan 

yaitu  suatu tindakan yang memberi  kontribusi yang 

sangat penting dalam pemahaman dan praktik interaksi           

serta tindakan seluruh individu yang terlibat dalam dunia 

pendidikan. Komunikasi Organisasi pendidikan merupakan 

sebuah interaksi yang terjadi di antara unit-unit komunikasi 

dari suatu organisasi pendidikan. sebab  pada dasarnya, 

suatu organisasi pendidikan merupakan bagian dari unit-unit 

komunikasi yang memiliki hubungan hierarkis antara yang 

satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan. 

Komunikasi dalam organisasi pendidikan dapat 

berlangsung kapan saja yang melibatkan orang-orang yang 

berada dalam organisasi itu, baik atasan, bawahan atau unsur 

pimpinan dan unsur bawahan, antara guru dan siswa di 

sekolah, maupun antara siswa dengan siswa lainnya, maupun 

antara guru dan orang tua murid dan lain sebagainya. 

Dari sini dapat diperoleh gambaran bahwa dalam sebuah 

organisasi kependidikan, komunikasi dapat melalui sebuah 

proses, yakni : 

A. Komunikasi Internal

Komunikasi internal yaitu  komunikasi yang terjalin 

antara Kepala Sekolah dan guru yang khas dan disertai 

dengan pertukaran gagasan secara horizontal dan 

vertikal di lingkungan sekolah. Komunikasi internal ini 

memiliki 2 dimensi penting yakni : 1). Dimensi vertikal, 

yaitu komunikasi dari pimpinan, Kepala Sekolah, Rektor 

dan Direktur lembaga pendidikan kepada guru, dosen 

dan staf dengan cara timbal balik. 2). Dimensi horizontal 

yaitu komunikasi mendatar antara guru, dosen dan staf 

dengan anggota staf yang berlangsung tidak formal. 3). 

Dimensi diagonal yaitu komuniasi yang terjalin antara 

unsur pimpinan dalam sebuah organisasi pendidikan. 

Tiga dimensi di atas, dapat dikelompokkan lagi 

ke dalam unit-unit yang ada  dalam organisasi, 

semisal di lembaga pendidikan tinggi ada  unit-unit 

         

organisasi seperti fakultas dan jurusan yang masing-

masing dalam setiap unit itu terjadi pertukaran ide, 

gagasan dan informasi lainnya yang terkait dengan 

tugas dan tanggung jawab maupun hal-hal lain yang 

dibutuhkan. 

B. Komunikasi Eksternal

Komunikasi antara pimpinan organisasi pendidikan 

dengan khalayak di luar organisasi semisal dengan orang 

tua siswa, Komite Sekolah, Kepala Desa atau Kepala 

kelurahan di mana sekolah berada dan pihak lain yang 

berada di luar komponen sekolah. 

Dalam dunia pendidikan ada  unsur-unsur 

komunikasi yang dapat  dibagi ke dalam 3 unsur penting, 

yaitu, 1). Komunikator, komunikan  

Unsur-unsur pendidikan itupun melibatkan 

komunikasi yang terdiri dari :

a. Subjek yang dibimbing (peserta didik) yang 

dimana dalam proses komunikasi berperan sebagai 

komunikan yang dimana menerima pesan yang 

disampaikan oleh komunikator (pendidik).

b. Orang yang membimbing (pendidik) yang dimana 

dalam proses komunikasi berperan sebagai 

komunikator yang menyampaikan pesan/ informasi 

yang biasanya berupa materi pelajaran.

c. Interaksi antara peserta didik (komunikan) dengan 

pendidik (komunikator).

d. Ke arah mana bimbingan di tujukan (tujuan 

pendidikan). Tujuan  pendidikan juga sangat di 

pengaruhi oleh apakah komunikasinya berjalan 

efektif atau tidak.          

Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi 

komunikasi yang efektif yaitu  salah satu perbuatan yang 

paling sukar dan kompleks yang pernah kita lakukan. Adapun 

unsur- unsur yang ada  dalam proses komunikasi, yaitu :

a. Sumber pesan (komunikator) merupakan orang yang 

menyampaikan pesan (message) kepada orang lain.

b. Pesan (message) merupakan informasi, isi atan materi 

yang ingin disampaikan. Dalam pendidikan biasanya 

berupa materi pelajaran.

c. Perantara (channel) yang dipakai  dalam menyampaikan 

pesan, biasanya dalam proses pembelajaran perantara 

(channel) dapat berupa papan tulis, OHP dan media-

media pen didikan lainnya.

d. Penerima pesan (komunikan) merupakan orang yang 

menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator.

e. Umpan balik (feedback) merupakan bagian atau unsur 

integral dalam komunikasi yang memungkinkan 

pembicara atau sumber memonitor proses dan menilai 

sukses usaha yang telah dilaksanakan dalam rangka 

mencapai respon yang diharapkan dari pihak penerima.

Media Pendidikan

Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar 

yang dapat menyalurkan pesan sehingga membantu 

mengatasi hambatan-hambatan komunikasi pendidikan. 

Perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan 

daya indera, cacat tubuh atau hambatan jarak geografis, 

jarak waktu dan lain-lain dapat di bantu diatasi dengan 

pemanfaatan media pendidikan. Secara umum media 

pendidikan memiliki  kegunaan-kegunaan sebagai berikut: 

1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat 

verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka), 

(2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, 

         

(3) memicu  kegairahan belajar, (4) Memungkinkan 

interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan 

lingkungan dan kenyataan, (5) Memungkinkan anak didik 

belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya 

untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pemanfaatan 

media pendidikan ini diperlukan persiapan dan perencanaan 

membuat program media pembelajaran.

Persiapan dan perencanaan ini  dapat diutarakan 

dengan langkah-langkah: 1) Merumuskan tujuan instruksional 

dengan operasional dan khas, (2) Merumuskan butir-butir 

materi secara terperinci yang mendukung tercapainya 

tujuan, 3) Menganalisis kebutuhan dan karakteristik siswa, 

4) Mengembangkan alat pengukur keberhasilan berupa tes 

atau penugasan, 5) Menulis naskah media, 6)  Mengadakan 

tes dan revisi.

Pengembangan Komunikasi Pendidikan

ada  beberapa pertimbangan terkait dengan 

pengembangan komunikasi pendidikan, antara lain: dunia 

pendidikan memerlukan  sebuah pemahaman yang 

komprehensif, holistik, mendasar, dan sistematis tentang 

pemanfaatan komunikasi dalam proses pembelajaran. 

Komunikasi pendidikan akan menunjukkan arah proses 

konstruksi sosial atas realitas pendidikan. Artinya komuniaksi 

pendidikan bisa memberi  konstribusi sangat penting 

dalam pemahaman dan praktek interaksi serta tindakan 

seluruh individu yang terlibat dalam dunia pendidikan.

Aspek-aspek psikologis, seperti kemampuan dan 

kapasitas kecerdasan yang dimiliki manusia, minat, bakat, 

motivasi, perhatian, sensasi, persepsi, ingatan, faktor lupa, 

kemampuan mentransfer dan berpikir kognitif, sering tidak 

mendapat perhatian dalam kegiatan komunikasi pendidikan, 

terutama oleh komunikator instruksional akibatnya hasil           

proses komunikasinya pun menjadi tidak optimal, bahkan 

tidak sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan dan tujuan 

intrupsional yang telah ditetapkan alias gagal.

Model komunikasi terbuka tampaknya lebih cocok 

untuk diterapkan dalam kegiatan pendidikan, termasuk 

di dalamnya kegiatan intrupsional sebab  sifatnya yang 

lebih dapat memberi  peluang untuk saling mengontrol 

kesalahan-kesalahan yang ada baik bagi komunikator sendiri 

maupun bagi komunikan belajar. Sifat model komunikasi 

terbuka ini antara lain yaitu , idealogis, persuasif, dan 

edukatif.

Dalam pandangan psikologi belajar kognitif, proses 

komunikasi bisa berjalan dengan lancar dan memiliki  

arti yang jelas jika antara informasi yang satu dan informasi 

yang lain ada  kaitan atau rangkaian yang terikat 

struktur kognitif seseorang. sebab nya, belajar yaitu  proses 

perubahan dalam struktur kognitif orang yang bersangkutan.

Komunikator pendidikan atau komunikator intrupsional 

jika ingin menjalakan fungsinya dengan sebaik-baiknya, 

diisyaratkan memakai  logika berfikir yang sama dengan 

logika berfikir yang dimiliki oleh pihak komunikan belajar. 

Dengan begitu, pelaksanaan intrupsionalnya akan berhasil 

dengan baik.

Para komunikator praktisi lapangan sering tidak 

memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia di pusat 

sumber belajar bersama yang dikelola oleh perpustakaan. 

Padahal, kita tahu bahwa hasil belajar sasaran selama ini 

bukanlah semata-mata sebab  hasil sampaian informasi dari 

guru atau dosennya, melainkan banyak menyerap hasil dan 

bahan belajar dari sumber belajar lain.

         

Pemanfatan multimedia intrupsional. Para komunikator 

pendidikan dan intrupsional belum banyak yang 

memanfaatkan multimedia untuk tujuan intrupsional.

Pendekatan information literacy dan media literacy dalam 

setiap praktek intrupsional. Siapapun yang bertindak sebagai 

komunikator intrupsional di zaman sekarang, sangat relevan 

jika memakai  pendekatan yang melibatkan keterlibatan 

dan pengetahuan teknologi informasi dam media.

Komunikasi pendidikan merupakan komunikasi yang 

sudah merambah atau menyentuh dunia pendidikan dan 

segala aspeknya dan merupakan proses komunikasi yang 

dipola dan dirancang secara khusus untuk mengubah 

perilaku sasaran tertentu kearah yang lebih baik. 

Sasaran atau komunikan disini maksudnya yaitu  

sekelompok orang, yang mana dalam proses pendidikan 

di sini yaitu  murid atau siswa. Sudah disepakati juga 

bahwa fungsi umum komunikasi ialah informatif, edukatif, 

persuasif, dan rekreatif (entertainment) 

Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi 

memberi keterangan, memberi data atau fakta yang berguna 

bagi segala aspek kehidupan manusia. Disamping itu, 

komunikasi juga berfungsi mendidik warga , mendidik 

orang, dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri. 

Seseorang bisa banyak tau sebab  banyak mendengar, 

banyak membaca dan banyak berkomunikasi. Komunikasi 

pendidikan lebih berarti sebagai proses komunikasi yang 

terjadi dalam lingkungan pendidikan baik secara teoritis 

maupun secara praktis. Komunikasi pendidikan yaitu  proses 

perjalanan pesan atau informasi yang menambah bidang 

atau peristiwa-peristiwa pendidikan. Komunikasi ini sifatnya 

tidak netral lagi, namun  sudah dipola untuk memperlancar 

tujuan-tujuan pendidikan. Kegiatan komunikasi yang 

dilakukan oleh guru kelas kepada muridnya, dan komunikasi 

         

yang terjadi dan dirancang oleh orang tua untuk mendidik 

dan memahamkan kepada anaknya, itu semua merupakan 

bentuk-bentuk komunikasi pendidikan. Salah satu cirinya 

yaitu  berlangsung dan dirancang denagn maksud untuk 

mengubah perilaku sasaran kearah yang lebih baik di masa 

yang akan datang. Komunikasi pendidikan bukan hanya 

terjadi pada kasus dialog saja, namun masih banyak contoh 

lainnya seperti pada setiap orang tua, baik sebagai ayah, ibu 

ataupun wali, bahkan mereka yang berkedudukan sebagai 

orang tua (senior, baik dalam ilmu, status sosial, maupun 

dalam usia) di lingkungan warga nya, memiliki  

keinginan memberi wejangan kepada yang lebih muda. 

Bentuk wejangan ini bermacam-macam. Sebuah nasihatpun 

berarti wejangan. Juga wejangan dalam bentuk contoh atau 

teladan perbuatan termasuk perbuatan memberi semangat, 

dorongan, dan hal lain yang dapat menumbuhkan motivasi 

seseorang untuk berbuat sesuai dengan norma yang berlaku. 

Hal ini terlihat jelas sebagai mana disarankan dalam salah 

satu konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang terkenal 

itu, yakni ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun 

karso, tutwuri handayani. Artinya,  di depan dapat memberi 

contoh atau teladan yang baik, baik dalam pengetahuan, 

sikap maupun dalam berbuat, di tengah-tengah harus bisa 

membangun kehendak atau kemauan, berinisiatif, dan 

dibelakang harus bisa memberi dorongan atau semangat. 

Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan 

belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau 

tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, 

atau tujuan pendidikan tidak tercapai sebab  penerapan 

komunikasi yang keliru. Tujuan pendidikan secara umum 

yaitu  mengubah kondisi awal manusia kepada atau ke 

arah yang sesuai dengan norma kehidupan yang lebih baik, 

lebih berkualitas dan lebih sejahtera, baik lahir maupun batin. 

         

Dengan demikian, komunikasi direncanakan secara sadar 

untuk tujuan-tujuan pendidikan, tujuan mengubah perilaku 

pada pihak sasaran, sebab  itu ia memerlukan waktu. Dalam 

menjalani waktu itulah terjadi proses komunikasi, proses 

saling berbagi informasi antara dua pihak 

Tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan, dan tentu 

oleh suatu tindakan komunikasi pendidikan, sesuai yang 

diamanatkan dalam rumusan tujuan pendidikan nasional 

yaitu untuk mencapai predikat manusia Indonesia yang 

ber-Pancasila, meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan 

YME, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, 

memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat 

agar dapat menumbuhkan manusia-manusia yang dapat 

membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung 

jawab atas pembangunan bangsa. 

Peranan Komunikasi dalam Pendidikan 

Banyak tujuan komunikasi pendidikan atau tujuan 

belajar yang sering tidak tercapai akibat dari kurang atau 

tidak berfungsinya unsur-unsur komunikasi di dalamnya, 

atau setidaknya tujuan pendidikan tidak tercapai sebab  

penerapan komunikasi yang keliru. Jourdan (1984) pernah 

berkata bahwa tidak ada perilaku-perilaku pendidikan yang 

tidak berkaitan dengan komunikasi.

Itu artinya bahwa hampir semua kegiatan pendidikan 

banyak dilakukan atau berkaitan dengan komunikasi. sebab  

itu, kegagalan-kegagalan dalam pendidikan dan komunikasi 

pun sedikit banyak sebenarnya terjadi sebab  kegagalan 

dalam komunikasi. Bentuk komunikasi yang cocok untuk 

penyembuhan kegagalan ini  yaitu  model terbuka 

(konsep Jourdan). Suasana terbuka antara komunikator 

pendidkan dengan komunikan belajar yaitu  modal utama 

untuk saling mengisi kesalahan-kesalahan yang mungkin 

dialami oleh masing-masing pihak dalam komunikasi ini.           

Dalam model komunikasi terbuka seperti inilah ada  

celah-celah yang ada untuk mengarahkan pihak komunikan 

belajar kearah yang ditetapkan oleh komunikator. Dalam hal 

inilah posisi guru dalam latar komunikasi merupakan faktor 

utama yang memperanani bagaimana siswa mempersepsi 

dirinya. sebab  guru menduduki posisi sentral dalam 

jaringan komunikasi di ruang kelas. Semakin banyak 

komunikasi, semakin tinggi status dan kekuasaan yang 

seharusnya diberikan kepadanya. 

Di dalam proses belajar, atau lebih luasnya proses 

pendidkan , terkandung unsur-unsur yang mendukung. 

Unsur-unsur ini  antara lain yaitu  orang yang belajar, 

pihak yang membantu menyebabkan belajar, dan faktor-

faktor lain yang memperanani kedua pihak ini  dalam 

melaksanakan fungsi masing-masing, termasuk pula di 

dalamnya unsur komunikasi.

 Disamping faktor-faktor dari unsur yang pertama, faktor 

komunikasi ini bahkan sanggup menyentuh semua aspek 

yang terjadi dalam proses tadi. Orang yang ingin belajar, 

tanpa berkomunikasi tidak mungkin dapat melaksanakan 

keinginannya. Semua memerlukan  komunikasi. Bahkan 

proses belajar itu sendiri, menurut Berlo (1960), merupakan 

proses komunikasi.

Berbicara tentang komunikaasi dalam konteks personal 

artinya berbicara tentang bagaimana orang belajar. 

Selanjutnya, dengan atau tanpa media, proses belajar bisa 

terjadi, terutama jika  terjadi umpan balik dari pihak 

sasaran (komunikan) kepada penyampai atau sumber pesan 

secara berlanjut. Dengan demikian, komunikasi terjadi, jika 

setidaknya suatu sumber membangkitkan respon pada 

penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk 

tanda atau simbol, baik verbal maupun nonverbal. 

         

Komunikasi dalam pendidikan merupakan unsur yang 

sangat penting kedudukannya. Bahkan ia sangat besar 

peranannya dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang 

bersangkutan. Orang sering berkata bahwa tinggi rendahnya 

suatu capaian mutu pendidikan sangat bergantung pada 

faktor komunikasi, khususnya komunikasi pendidikan. Di 

dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan melalui 

sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang sangat 

menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar terjadi 

sebab  proses komunikasi, baik yang berlangsung secara 

intrapersona maupun secara antarpersona. 

Intrapersona yaitu komunikasi yang terjadi di dalam 

individu itu sendiri. Tampak pada kejadian berpikir, 

mempersepsi, mengingat dan mengindra. Hal demikian 

dijalani oleh setiap anggota sekolah bahkan oleh semua 

orang. 

Sementara antarpersona ialah bentuk komunikasi 

yang berproses dari adanya ide atau gagasan informasi 

seseorang kepada orang lain. Dosen yang memberi kuliah, 

berdialog, bersambung rasa, berdebat, berdiskusi, dan 

sebagainya yaitu  sebagian besar dari contoh-contohnya. 

Tanpa keterlibatan komunikasi tentu segalanya tidak bisa 

berjalan. Komunikasi disini yaitu  terutama yang terjadi 

pada kegiatan mengajar dan belajar pada kegiatan tatap 

muka maupun pada kegiatan lainnya. Hanya dimungkinkan 

melalui kemampuan berkomunikasi untuk mentransfer 

makna diantara individu.

Aktivitas kelompok mustahil ada tanpa ada sarana 

bertukar pengalaman dan sikap. Komunikasi melibatkan 

semua simbol batin, sarana penyampaian simbol dan untuk 

menjaga simbol-simbol itu. Untuk mencapai, memahami, dan 

memperanani orang lain, seseorang harus berkomunikasi. 

Pentingnya komunikasi digarisbawahi oleh kenyataan bahwa         

segala  tindakan seseorang didasari oleh apa yang diketehui 

atau apa yang dianggapnya diketahui.

Komunikasi merupakan elemen penting dalam 

kehidupan berbangsa dan bernegara. Peranan komunikasi 

pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. 

Teknologi informasi telah menjadi fasilitas utama bagi 

kegiatan berbagai sektor kehidupan dimana memberi  

andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar 

pada struktur operasi dan manajemen organisasi, pendidikan, 

trasportasi, kesehatan dan penelitian. 

Oleh sebab  itu sangatlah penting peningkatan 

kemampuan sumber daya manusia, perkembangan teknologi 

informasi dan komunikasi (TIK) telah memberi  peranan 

terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses 

pembelajaran. 

Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya 

pemakaian  TIK ada lima pergeseran dalam proses 

pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) 

dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas 

ke on line atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan 

kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. 

Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan 

memakai  media-media komunikasi seperti telepon, 

komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara 

guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan 

tatap muka namun  juga dilakukan dengan memakai  

media-media ini  

Prinsip-Prinsip Komunikasi dalam Pendidikan

Orang yang masih hidup tidak mungkin akan lepas 

dari komunikasi walaupun bukan berarti semua perilaku 

yaitu  komunikasi, komunikasi ada dimana-mana: di 

         

rumah, di kampus, di kantor dan di masjid; bahkan ia 

sanggup menyentuh segala aspek kehidupan kita . Artinya, hampir seluruh kegiatan manusia, 

dimanapun adanya, selalu tersentuh oleh komunikasi. Bidang 

pendidikan misalnya, tidak bisa berjalan tanpa dukungan 

komunikasi, bahkan pendidikan hanya bisa berjalan 

melalui komunikasi (Jourdan, 1984:74), dengan kata lain, 

tidak ada perilaku pendidikan yang tidak dilahirkan oleh 

komunikasi. Bagaimana mungkin mendidik manusia tanpa 

berkomunikasi, mengajar orang tanpa berkomunikasi, atau 

memberi  kuliah tanpa berbicara. Semuanya memerlukan  

komunikasi. Disamping itu, komunikasi juga berfungsi 

mendidik warga , mendidik setiap orang dalam menuju 

pencapaian kedewasaannya bermandiri. Seseorang bisa 

banyak tahu sebab  banyak mendengar, banyak membaca, 

dan banyak berkomunikasi. 

ada  12 prinsip komunikasi yang dikatakan sebagai 

penjabaran lebih jauh dari definisi dan hakekat komunikasi 

antara lain : 

1. Komunikasi yaitu  suatu proses simbolik

Komunikasi yaitu  sesuatu yang bersifat dinamis, 

sirkular dan tidak berakhir pada suatu titik, namun  terus 

berkelanjutan. 

2. Setiap perilaku memiliki  potensi komunikasi

Setiap orang tidak bebas nilai, pada saat orang ini  

tidak bermaksud mengkomunikasikan sesuatu, namun  

dimaknai oleh orang lain maka orang ini  sudah 

terlibat dalam proses berkomunikasi. Gerak tubuh, 

ekspresi wajah (komunikasi non verbal) seseorang dapat 

dimaknai oleh orang lain menjadi suatu stimulus.          

3. Komunikasi punya dimensi isi dan hubungan

Setiap pesan komunikasi memiliki  dimensi isi 

dimana dari dimensi isi ini  kita bisa memprediksi 

dimensi hubungan yang ada diantara pihak-pihak yang 

melakukan proses komunikasi. Percakapan diantara dua 

orang sahabat dan antara dosen dan mahasiswa di kelas 

berbeda memiliki dimesi isi yang berbeda. 

4. Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat 

kesengajaan

Setiap tindakan komunikasi yang dilakukan oleh 

seseorang bisa terjadi mulai dari tingkat kesengajaan 

yang rendah artinya tindakan komunikasi yang tidak 

direncanakan (apa saja yang akan dikatakan atau apa 

saja yang akan dilakukan secara rinci dan detail), sampai 

pada tindakan komunikasi yang betul-betul disengaja 

(pihak komunikan mengharapkan respon dan berharap 

tujuannya tercapai) 

5. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu. 

Pesan komunikasi yang dikirimkan oleh pihak 

komunikan baik secara verbal maupun non-verbal 

disesuaikan dengan tempat, dimana proses komunikasi 

itu berlangsung, kepada siapa pesan itu dikirimkan dan 

kapan komunikasi itu berlangsung. 

6. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi. 

Tidak dapat dibayangkan jika orang melakukan tindakan 

komunikasi di luar norma yang berlaku di warga . 

Jika kita tersenyum maka kita dapat memprediksi bahwa 

pihak penerima akan membalas dengan senyuman, 

jika kita menyapa seseorang maka orang ini  akan 

membalas sapaan kita. Prediksi seperti itu akan membuat 

seseorang menjadi tenang dalam melakukan proses 

komunikasi. 

         

7. Komunikasi itu bersifat sistemik

Dalam diri setiap orang mengandung sisi internal yang 

dipengaruhi oleh latar belakang budaya, nilai, adat, 

pengalaman dan pendidikan. Bagaimana seseorang 

berkomunikasi dipengaruhi oleh beberapa hal internal 

ini . Sisi internal seperti lingkungan keluarga dan 

lingkungan dimana dia bersosialisasi mempengaruhi 

bagaimana dia melakukan tindakan komunikasi. 

8. Semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin 

efektiflah komunikasi Jika dua orang melakukan 

komunikasi berasal dari suku yang sama, pendidikan 

yang sama, maka ada kecenderungan dua pihak 

ini  memiliki  bahan yang sama untuk saling 

dikomunikasikan. Kedua pihak memiliki  makna yang 

sama terhadap simbol-simbol yang saling dipertukarkan. 

9. Komunikasi bersifat nonsekuensial

Proses komunikasi bersifat sirkular dalam arti tidak 

berlangsung satu arah. Melibatkan respon atau tanggapan 

sebagai bukti bahwa pesan yang dikirimkan itu diterima 

dan dimengerti. 

10. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional 

Konsekuensi dari prinsip bahwa komunikasi yaitu  

sebuah proses yaitu  komunikasi itu dinamis dan 

transaksional. Ada proses saling memberi dan menerima 

informasi diantara pihak-pihak yang melakukan 

komunikasi. 

11. Komunikasi bersifat irreversible

Setiap orang yang melakukan proses komunikasi tidak 

dapat mengontrol sedemikian rupa terhadap efek yang 

ditimbulkan oleh pesan yang dikirimkan. Komunikasi 

tidak dapat ditarik kembali, jika seseorang sudah berkata           

menyakiti orang lain, maka efek sakit hati tidak akan 

hilang begitu saja pada diri orang lain ini . 

12. Komunikasi bukan satu-satunya obat mujarab yang 

dapat dipakai  untuk menyelesaikan masalah. 

Prinsip Komunikasi Efektif dalam Meningkatkan Minat 

Belajar Anak 

Dalam komunikasi pendidikan, seorang guru harus 

memiliki prinsip-prinsip komunikasi efektif agar murid 

mampu memahami dan menelaah setiap materi yang 

diberikan, Prinsip-prinsip ini , diantaranya : 

a. Guru memberi  kebebasan anak untuk berkreasi, anak 

terpacu untuk membuat karya unik.

b. Guru menerima berbagai jawaban anak terhadap 

pertanyaan tertentu, anak belajar berpikir luas, Guru 

menerangkan materi dengan sudut pandang yang 

unik, anak terpacu rasa ingin tahu, Guru memberi  

penjelasan awal secara jelas sebelum anak memulai 

pekerjaannya, anak mendapat pengetahuan awal secara 

efektif. 

c. Guru memakai  alat peraga, anak memiliki  modal 

pengetahuan awal yang lebih terbayang. 

d. Guru menerangkan dengan eksperimen, anak terpacu 

rasa ingin tahunya dan belajar mengamati terjadinya 

suatu fenomena 

e. Guru memberi  ulasan dan kesimpulan terhadap 

apa yang dikerjakan anak, anak memahami maksud 

pekerjaan dan berpikir secara utuh 

f. Guru mengaitkan isi cerita dengan fenomena yang 

pernah dilihat anak, anak belajar berpikir mengaitkan 

satu hal dengan hal lain. 

         

g. Guru memberi  kesempatan anak untuk bercerita, 

anak belajar mengungkapkan gagasan secara lebih 

terstruktur 

h. Guru membimbing anak tampil didepan forum, anak 

belajar berani berkreasi didepan orang banyak 

i. Guru melakukan pendampingan secara pribadi kepada 

anak, anak memiliki keamanan psikologis untuk 

berkreasi 

j. Guru melayani pertanyaan-pertanyaan anak, anak 

nyaman untuk berpendapat dan terpuaskan rasa ingin 

tahunya 

k. Guru memberi  kesempatan kepada anak untuk 

mencoba lagi, anak belajar menyelesaikan pekerjaan 

dengan berbagai inovasi baru 

l. Guru menjalin kedekatan, anak memiliki rasa aman 

secara psikologis untuk berkreasi 

m. Guru melibatkan anak secara efektif dalam belajar, anak 

merasa ikut memiliki dan tumbuh minat belajarnya 

n. Guru melibatkan diri dalam kegiatan anak, anak lebih 

bersemangat dalam berkreasi 

o. Guru menciptakan suasana menyenangkan, anak 

menyenangi materi dan memiliki kepuasan pribadi 

dalam berkreasi 

p. Guru menciptakan suasana bersemangat dalam belajar, 

anak lebih bermotivasi. 

Seperti fungsi dan definisi komunikasi, prinsip-prinsip 

komunikasi juga diuraikan dengan berbagai cara oleh para 

pakar komunikasi. Mereka ada kalanya memakai  istilah-

istilah lain untuk merujuk pada prinsip-prinsip komunikasi 

ini. Misalnya, William B. Gudykunst dan Young Yun Kim          

menyebutkan asumsi-asumsi komunikasi. Prinsip-prinsip 

komunikasi ini  pada dasarnya merupakan penjabaran 

lebih jauh dari definisi atau hakikat komunikasi. 

PRINSIP 1. Komunikasi yaitu  proses simbolik sebagai 

salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan 

Susanne K. Lenger, yaitu  kebutuhan simbolisasi atau 

pemakaian  lambang. Manusia memang satu-satunya 

hewan yang memakai  lambang, dan itulah yang 

membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya. 

Ernest Cassirer mengatakan bahwa keunggulan manusia 

atas makhluk lainnya yaitu  keistimewaan mereka sebagai 

animal symbolicum. Lambang atau simbol yaitu  sesuatu 

yang dipakai  untuk menunjukkan sesuatu yang lainnya, 

berdasar  kesepakatan sekelompok orang. 

PRINSIP 2. Setiap Perilaku memiliki  Potensi 

Komunikasi. Kita tidak dapat berkomunikasi (We cannot not 

communicate). Tidak berarti bahwa semua perilaku yaitu  

komunikasi. Alih-alih, komunikasi terjadi bila seseorang 

memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya 

sendiri. Cobalah Anda minta seseorang untuk tidak 

berkomunikasi. Amat sulit baginya untuk berbuat demikian, 

sebab  setiap perilakunya punya potensi untuk ditafsirkan. 

Kalau kita tersemyum, ia ditafsirkan bahagia, kalau ia 

cemberut ia ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam 

diri selalipun, kita mengundurkan diri dari komunikasi dan 

lalu menyadari, seberapa kita berkomunikasi banyak pesan. 

PRINSIP 3 Komunikasi Punya Isi dan Dimensi 

Hubungan. Dimensi isi disandi secara verbal, sementara 

dimensi hubungan disandi secara non verbal. Dimensi 

isi menunjukkan muatan isi komunikasi, yaitu apa yang 

dikatakan. sedang  dimensi hubungan menunjukkan 

bagaimana cara mengatakannya yang juga mengisyaratkan 

         

bagaimana hubungan para peserta komunikasi itu dan 

bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan. 

Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi 

pesan, sedang  dimensi hubungan merujuk kepada unsur-

unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang dipakai  untuk 

menyampaikan pesan ini . 

PRINSIP 4 Komunikasi Berlangsung dalam Berbagai 

Tingkat Kesenjangan Komunikasi dilakukan dalam 

berbagai tingkat kesenjangan, dari komunikasi yang tidak 

disengaja sama sekali hingga komunikasi yang benar-benar 

direncanakan dan disadari. Kesenjangan bukanlah syarat 

untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali 

tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, 

perilaku kita potensial ditafsirkan orang lain. Kita tidak dapat 

mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak 

menafsirkan perilaku kita. Membatasi komunikasi sebagai 

proses yang disengaja yaitu  menganggap komunikasi 

sebagai instrumen. 

PRINSIP 5 Komunikasi Terjadi dalam Konteks Ruang 

dan Waktu. Makna pesan juga tergantung pada konteks fisik 

dan ruang sosial, dan psikologis. Waktu juga mempengaruhi 

makna terhadap suatu pesan. Kehadiran orang lain, sebagai 

konteks sosial juga akan mempengaruhi orang-orang yang 

berkomunikasi. Suasana psikologis peserta komunikasi tidak 

pelak mempengaruhi juga suasana komunikasi. 

PRINSIP 6 Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta 

Komunikasi. Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka 

meramalkan efek perilaku komunikasi mereka. Dengan 

kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan tatakrama. 

Artinya, orang-orang memilih strategi tertentu berdasar  

bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. 

Prediksi ini tidak selalu disadari, dan sering berlangsung 

cepat. 

          

PRINSIP 7. Komunikasi Bersifat Sistemik. Setiap individu 

yaitu  suatu sistem yang hidup. Organ-organ dalam tubuh 

kita saling berhubungan. Kerusakan pada mata dapat 

membuat kepala kita pusing. Bahkan unsure diri kita yang 

bersifat jasmani juga berhubungan dengan unsure kita yang 

bersifat rohani. Setidaknya dua sistem dasar beroperasi 

dalam transaksi komunikasi itu. 

PRINSIP 8. Semakin Mirip Latar Belakang Sosial- budaya 

Semakin Efektiflah Komunikasi. Komunikasi yang efektif 

yaitu  komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan 

para pesertanya. Dalam kenyataannya, tidak pernah ada 

dua manusia yang sama persis, meskipun mereka kembar 

yang dilahirkan dan diasuh dalam sau keluarga yang sama, 

namun kesamaan dalam hal-hal tertentu, misalnya, agama, 

ras, suku, bahasa. 

PRINSIP 9. Komunikasi Bersifat Prosesual, Dinamis, 

dan Transaksional Seperti juga waktu dan eksistensi, 

komunikasi tidak memiliki  awal dan akhir, melainkan 

merupakan proses yang sinambung. Bahkan kejadian yang 

sangat sederhana pun melibatkan rangkaian kejadian yang 

rumit bila diperdengar memenuhi permintaan ini . 

Implimintasi dalam proses komunikasi sebagai proses yang 

dinamis dan transaksional yaitu  bahwa peserta komunikasi 

berubah pengetahuan hingga berubah pandangan. 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa manusia 

tidak dapat terlepas dari komunikasi, dengan arti lain 

komunikasi ada dimana-mana. Seorang anak misalnya, 

diminta menyalakan lampu dengan menekan tombol listrik. 

Hubungan antara tombol dengan balon lampu juga yaitu  

peristiwa komunikasi. Bahkan dalam diri manusia ada  

peristiwa komunikasi, misalnya bagaimana hubungan antara 

satu sel dengan sel yang lainnya sehingga manusia bias 

bernafas, berdiri tegak dan lain sebagainya. 

         

Di dalam dunia pendidikan komunikasi memiliki  

peran sangat penting, pendidikan dapat berlangsung efektif 

dengan dengan adanya komunikasi, bahkan ada yang 

berpendapat bahwa pendidikan tidak dapat berlangsung 

tanpa adanya komunikasi. Oleh sebab  itu, penting bagi kita 

menjadi trampil berkomunikasi, dan mengetahui prinsip-

prisip komunikasi baik didalam pendidikan maupun di 

warga . Kegiatan komunikasi pada intinya yaitu  

aktifitas pertukaran ide atau gagasan secara sederhana, 

dengan demikian kegiatan komunikasi itu dapat dipahami 

sebagai kegiatan penyampaian ide atau pesan arti dari 

suatu pihak ke pihak lain, denagn tujuan komunikasi yaitu 

menghasilkan kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan 

yang disampaikan ini . Pendidikan dapat diartikan 

sebagai kegiatan seseorang dalam membimbing dan 

memimpin anak menuju ke pertumbuhan dan perkembangan 

secara optimal agar dapat berdiri sendiri dan bertanggung 

jawab. 

Komunikasi pendidikan yaitu  proses perjalanan pesan 

atau informasi yang menambah bidang atau peristiwa-

peristiwa pendidikan. Hubungan komunikasi dan 

pendidikan sangatlah erat, dengan kata lain, komunikasi dan 

pendidikan sangat berkaitan erat setu sama lain. Komunikasi 

dalam pendidikan merupakan unsur yang sangat penting 

kedudukannya. Bahkan ia sangat besar peranannya dalam 

menetukan keberhasilan pendidikan yang bersangkutan. 

Tinggi rendahnya suatu capaian mutu pendidikan diperanani 

pula oleh faktor komunikasi ini, khususnya komunikasi 

pendidikan. 

Di dalam pelaksanaan pendidikan formal (pendidikan 

melalui sekolah), tampak jelas adanya peran komunikasi yang 

sangat menonjol. Proses belajar mengajarnya sebagian besar           

terjadi sebab  proses komunikasi, baik yang berlangsung 

secara intrapersona maupun secara antarpersona. 

Kegiatan pembelajaran merupakan proses transformasi 

pesan edukatif berupa materi belajar dari sumber belajar 

kepada pembelajar. Dalam pembelajaran terjadi proses 

komunikasi untuk menyampaikan pesan dari pendidik 

kepada peserta didik dengan tujuan agar pesan dapat 

diterima dengan baik dan berpengaruh terhadap pemahaman 

serta perubahan tingkah laku. Hal ini diwujudkan sebagai 

upaya meningkatkan sumber daya manusia yang tidak dapat 

terlepas dari peningkatan kualitas pendidikan. Kualitas 

pendidikan yang dipengaruhi proses belajar dimana sangat 

bergantung pada efektifitas proses komunikasi yang terjadi 

dalam pembelajaran ini .

Kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya 

komunikasi yang terjadi di dalamnya. Komunikasi dikatakan 

efektif jika  komunikasi yang terjadi memicu  arus 

informasi dua arah, yaitu dengan munculnya feedback 

dari pihak penerima pesan. Komunikasi efektif dalam 

pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa 

ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta 

didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud 

pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga 

menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta 

memicu  perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. 

(***) 

         

KOMPONEN DAN TUJUAN 

KOMUNIKASI PENDIDIKAN

Institusi pendidikan juga dapat disebut sebagai institusi 

pembelajaran. sebab  di institusi inilah semua aktifitas 

berkaitan dengan pembelajaran. 

Pembelajaran pada hakikatnya yaitu  proses komunikasi 

dalam pendidikan, yaitu proses penyampaian pesan dari 

sumber pesan ke penerima pesan melalui saluran atau 

media tertentu, untuk itu proses komunikasi harus diciptakan dan 

diwujudkan melalui kegiatan penyampaian pesan, tukar 

menukar pesan atau informasi dari setiap pengajar kepada 

pembelajar, atau sebaliknya. Dalam pembelajaran, pesan atau 

informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan, 

keahlian, skill, ide, pengalaman, dan sebagainya.

Melalui proses komunikasi, pesan dapat diterima, 

diserap, dan dihayati penerima pesan, maka agar tidak 

terjadi kesalahan dalam proses komunikasi, perlu dipakai  

sarana yang dapat membantu proses komunikasi. Dalam 

pembelajaran di kelas, sarana/fasilitas alat yang dipakai  

untuk memperlancar komunikasi pembelajaran disebut 

dengan media pembelajaran.

menyebut istilah pembelajaran dengan interaksi edukatif.

Menurut beliau, yang dianggap interaksi edukatif yaitu  

interaksi yang dilakukan secara sadar dan memiliki  tujuan           

untuk mendidik, dalam rangka mengantar peserta didik 

ke arah kedewasaannya. Pembelajaran merupakan proses 

yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam 

kehidupannya, yakni membimbing mengembangkan diri 

sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani.

Menurut Once Kurniawan (2005)yang dikutip oleh 

Musthafa (2012), ada  beberapa faktor yang secara 

langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran, yaitu 

pengajar, siswa, sumber belajar, alat belajar, dan kurikulum. 

Selanjutnya Association for Educational Communication 

and Technology (AECT) menegaskan bahwa pembelajaran 

(instructional) merupakan bagian dari pendidikan. 

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya 

terdiri dari komponen-komponen sistem instruksional yaitu 

komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar 

atau lingkungan.

Dengan demikian, pembelajaran dapat dimaknai 

sebagai interaksi antara pendidik dengan peserta didik yang 

dilakukan secara sengaja dan terencana serta memiliki tujuan 

yang positif. Keberhasilan pembelajaran harus didukung oleh 

komponen-komponen instuksional yang terdiri dari pesan 

berupa materi belajar, penyampai pesan yaitu pengajar, 

bahan untuk menuangkan pesan, peralatan yang mendukung 

kegiatan belajar, teknik atau metode yang sesuai, serta latar 

atau situasi yang kondusif bagi proses pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran, jika dikaitkan dengan 

komponen komunikasi, maka komponen yang ada  

pada aktivitas atau proses pembelajaran pada prinsipnya 

sama dengan komponen komunikasi. Artinya pada proses 

pembelajaran telah menjalankan fungsi komunikasi ini .

Menurut Sanaky (2011: 9), komponen yang ada  

dalam pembelajaran sebagai komunikasi yaitu : (a) 

pengajar dapat menjalankan fungsinya sebagai pemberi 

         

pesan (komunikator), (b) pembelajar sebagai penerima 

pesan (komunikan), (c) materi pelajaran sebagai pesan, 

(d) alat bantu pembelajaran sebagai saluran atau media 

pembelajaran, dan (e) ada faktor lain dalam pembelajaran 

yaitu  umpan balik yang manifestasinya berupa pertanyaan, 

jawaban, dan persilangan pendapat, baik dari pembelajar 

maupun dari pengajar.,menyatakan bahwa:

“jika  proses pembelajaran yaitu  komunikasi, 

maka, pertama, pesan yang akan dikomunikasikan yaitu  

isi pelajaran yang ada  dalam kurikulum. Kedua, sumber 

pesan, dapat saja pengajar, pembelajar, penulis buku, ataupun 

orang lain. Pada posisi ini, pembelajar dapat saja sebagai 

sumber pesan dalam proses pembelajaran dan pengajar 

dapat menerima informasi dari pembelajar. Komunikasi 

yang terjadi yaitu  komunikasi timbal balik dan posisi 

pengajar tentu saja sebagai penerima pesan. Ketiga, penerima 

pesan yaitu  pembelajar. Dalam proses belajar dapat saja 

pembelajar sebagai penerima pesan dan juga sebagai pemberi 

pesan kepada pengajar. Keempat, sa


Posting Komentar

0 Komentar